Feature

Gusungi: Penanda Ramadan Orang Maluku Utara

Jauh sebelum teknologi teleskop dan pengumuman resmi pemerintah lewat media sosial mendominasi, masyarakat pesisir di Maluku Utara memiliki cara unik menentukan awal Ramadan.

Tak hanya sekadar melihat hilal di ufuk barat, warga di wilayah ini punya “kompas alam” yang akurat, yakni melalui fenomena yang dikenal dengan istilah gusungi ma bunga ruru.

Secara harfiah, gusungi ma bunga ruru menggambarkan momen saat bunga rumput laut (lamun) mekar ke permukaan dan hanyut terbawa arus. Fenomena ini bukanlah kejadian alam biasa, melainkan isyarat spiritual bagi masyarakat pesisir.

Salah satu penanda alam untuk menentukan awal Ramadan itu masih terdapat di Kelurahan Jambula, Ternate. Sekretaris BKM Kelurahan Jambula, Mahrumi Hi. Ismail, menjelaskan bahwa di masa lalu, ketajaman mata dan batin para tetua dalam membaca tanda alam ini menjadi rujukan utama dimulainya ibadah puasa.

“Orang dulu kalau mau lihat puasa itu mereka lihat bulan, atau melihat tanda alam. Seperti rumput laut yang bunganya mekar ke permukaan air dan bunga itu terhanyut oleh air laut. Itu tandanya sudah memasuki puasa pertama,” ungkap Mahrumi kepada cermat, Senin, 16 Februari 2026.

Menurutnya, kearifan lokal ini sangat spesifik bagi masyarakat di Maluku Utara yang hidup berdampingan dengan laut.

“Dalam bahasa Ternate artinya Gusungi Ma Bunga Ruru, dan itu khusus di wilayah kita yang masyarakatnya hidup di pesisir pantai,” tambahnya.

Tanda Alam yang Mulai Terkikis

Seiring berkembangnya zaman, tradisi pengamatan gusungi mulai ditinggalkan generasi sekarang. Pemandangan warga yang berdiri di tepi pantai menanti “bunga gusung” kini telah digantikan oleh layar gawai.

Mahrumi mengakui bahwa perubahan zaman sejatinya mengubah cara masyarakat menerima informasi keagamaan. “Kalau lihat di zaman sekarang, mereka sudah tidak lagi melakukan seperti itu karena zaman sudah modern. Orang-orang sudah tinggal menunggu informasi dari pemerintah atau pihak terkait saja,” pungkasnya.

Meski metode ilmiah dan keputusan pemerintah melalui sidang isbat menjadi rujukan utama saat ini, Gusungi Ma Bunga Ruru tetap menjadi bagian penting dalam sejarah kearifan lokal Ternate.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa bagi masyarakat Jambula dan Maluku Utara pada umumnya, laut bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan sebagai “guru” yang memberikan petunjuk waktu dan spiritualitas.

Kini, tantangannya adalah bagaimana menjaga memori kolektif ini agar identitas masyarakat pesisir tidak benar-benar hanyut ditelan arus modernisasi.

redaksi

Recent Posts

Kasus HIV/AIDS Morotai Bertambah, Dua Pasien Dilaporkan Meninggal

Kasus HIV/AIDS di Pulau Morotai, Maluku Utara kembali mengalami peningkatan pada 2026. Rumah Sakit Umum…

6 jam ago

Kejati Malut Tetapkan Mantan Bupati Taliabu Aliong Mus sebagai Tersangka

Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Maluku Utara, Sufari, membuktikan komitmennya dalam memberantas tindak pidana korupsi tanpa…

9 jam ago

Hewan Kurban Presiden Resmi Diterima Pemkot Ternate

Pemerintah Kota (Pemkot) Ternate resmi menerima bantuan satu ekor sapi hewan kurban dari Presiden Republik…

13 jam ago

Kapolda Brigjen Arif Lanjutkan Program Irjen Waris, Dorong Pemda Bentuk Perda Masyarakat Adat

Kapolda Maluku Utara, Brigjen Pol. Arif Budiman, menegaskan komitmennya untuk melanjutkan berbagai program yang telah…

1 hari ago

Utang Obat RSUD Morotai Belum Lunas, Nilainya Capai Ratusan Juta Rupiah

RSUD Ir Soekarno Pulau Morotai, Maluku Utara disebut belum melunasi pembayaran obat kepada salah satu…

1 hari ago

Laga Penutup Super League: Malut United Keok 7-1 Atas Borneo FC

Malut United harus menutup kompetisi Super League musim 2025-2026 dengan hasil pahit usai dibantai Borneo…

2 hari ago