News  

Penyebab Bahasa Sawai di Halmahera Tengah Makin Tergerus

Hilir-mudik pekerja tambang di Desa Lelilef Sawai, Halmahera Tengah, Maluku Utara. Foto: Rian Hidayat/cermat

Bahasa Sawai semakin kehilangan ruang penggunaannya di Halmahera Tengah, Maluku Utara. Bahasa Indonesia dan bahasa lain kini lebih dominan di sekolah, pekerjaan, perdagangan, hingga pergaulan sehari-hari.

Perubahan itu terlihat di Lelilef Sawai, Kecamatan Weda Tengah, yang masuk dalam kawasan industri tambang. Warga setempat, Lambertus Nufu (63) masih menggunakan bahasa Sawai kepada anak-anaknya. Namun ia bilang, banyak kosakata yang ia ucapkan tak lagi dipahami.

“Tidak usah jauh-jauh, di rumah saya saja, anak-anak sudah tidak mengerti bahasa Sawai,” kata Lambertus, awal Agustus 2026.

Ia mencontohkan kata goru untuk ikan bulana, bli untuk jahe, taef untuk warna kuning dan woy untuk air. Istilah-istilah itu, kata dia, semakin jarang dikenal anak muda saat ini.

Rahma, 68 tahun, warga Lelilef Waibulen, juga melihat gejala serupa di desanya. Anak-anak lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia.

“Anak-anak sekarang sudah tidak tahu. Mereka cuma pakai bahasa Indonesia. Apalagi di Waibulen ini banyak penduduk campuran,” ujarnya.

Sementara itu, Akademisi Bahasa di Maluku Utara, Agus Hj Jamal, mengatakan pergeseran bahasa Sawai tidak semata disebabkan pertambangan.

Menurutnya, industrialisasi memperkuat perubahan yang sudah berlangsung melalui mobilitas penduduk dan terbentuknya ruang sosial baru.

“Pertambangan memang tidak diposisikan sebagai satu-satunya penyebab kepunahan bahasa Sawai, tapi sebagai faktor yang memperkuat faktor-faktor lain yang sudah ada sebelumnya,” kata Agus.

Menurut dia, bahasa Sawai mulai kehilangan fungsi di luar lingkungan keluarga. Sementara bahasa Indonesia mengambil alih pendidikan, administrasi, pekerjaan dan komunikasi dengan pendatang.

Masalah menjadi lebih serius ketika bahasa Indonesia digunakan pula dalam komunikasi antarsesama masyarakat Sawai.

“Persoalannya bukan pada keberadaan bahasa Indonesia atau pekerja pendatang itu sendiri, tetapi pada ketidakseimbangan fungsi dan ruang penggunaan antara bahasa Indonesia dan bahasa Sawai,” ujar Agus.

Baca Juga:  HOAKS: Survei Kepemimpinan Pilkada Halmahera Selatan

Ia menyebut empat tanda pergeseran bahasa Sawai: kesenjangan antargenerasi, menurunnya penggunaan di kalangan anak muda, melemahnya pewarisan dalam keluarga dan menyempitnya ruang penggunaan.

“Bahasa Sawai belum punah, tetapi menunjukkan gejala menuju kondisi terancam,” katanya mengakhiri.