Foto: “Portrait of a Young Woman 1918”, By Amedeo Modigliani.
Oleh: WDGafoer
“Pulaskah tidurmu malam ini, Putri Malu-Ku?”
Apakah mimpimu masih tentang aku atau kita atau bukan itu semua. Apakah cermin yang kau intip sambil lalu itu masih bercerita tentang romansa bocah belasan; dirimu yang tak henti-henti kau tangisi. Tentang kau dan masa lalumu atau tentang buramnya sebuah masa yang kau bayangkan. Barangkali, ini hanyalah pernyataan sederhana yang tak akan pernah serius. Mungkin saja kita perlu merumuskan sebuah kalimat sakti untuk menandai gejolak perasaan yang kian meminta perhatian lebih. Tetapi tunggu! Mari mulai dengan pertanyaan yang lebih artistik dari sekedar hal-hal ironis macam itu.
“Pulaskah tidurmu malam ini, Putri Malu-Ku?”
Aku mengingatnya, kau juga mestinya. Pada suatu tengah malam, kau melihat rindang pohon Kamboja di tengah kuburan dekat rumahmu dan berujar pelan padaku, “Adakah hantu-hantu yang bergelantungan di sana menonton kita berdua beradu degup jantung?” Tak peduli! Namun, dengan perhatian ala kadarnya aku menjawab dengan riang gembira, “Seperti hantu—dalam sejarah—mitos adalah omong kosong yang terlanjur kita percaya,” wajahmu berseri menangkap jawaban itu “pohon-pohon memang tak bersalah atas tuduhan itu, hantu-hantu juga begitu, mereka biasanya akan terangkum setara, sebagai sebuah rengkuhan dari laku trasendensi, seperti adakah kau mencintaiku saat ini?”. Kau beku untuk sesaat dan degup jantung dalam percakapan kita berubah, kepalamu mestinya menangkap dimensi lain dari asosiasi pohon, hantu, cinta dan mitologi dan sebuah pertanyaan purba yang sukar untuk kita jawab dengan ringkas. Seringkas, apakah kita memang saling mencintai? Kau dan Aku.
Aku menunggu. Di sepi pagi saat kau tertidur di peluk deru angin lembut yang datang dari lembah gunung api. Nyatanya, aku memang sedang tergoda dengan sebuah lamunan, bahwa kau adalah putri malu dan aku sedang memetiknya. Bunga itu menjelma dirimu yang sedang rebah tertidur dengan lelapnya—tersungkup kedamaian—kulihat derita menopang kepalamu sebagai bantal, dan kelindan mimpi indah menyeruak dari duri-duri yang menembus kulitmu, kau sendiri, belum juga berlekas sembuh dari sembilu mimpi burukmu. Sungguh pun demikian, ada perasaan yang kudus tatkala kusobek resleting tenda, membawa serta lamunan yang tertunda; terputus-putus, kuceritakan pada tonggak-tonggak pinus yang gagah berdiri, pada rumput-rumput basah, jalanan nan sepi, hutan sedang menangis saat kudengar lamat-lamat gumam tidurmu. Maka jadilah kalimat tanya ini:
“Pulaskah tidurmu malam ini?”
Aduhai Putri Malu-Ku. Kita hanyalah retakan kesepian, celah sempit yang darinya suara-suara yang kita benci terkuak menggoda, suara-suara yang dengan susah payah kita lupakan. Suara-suara yang terburu-buru beranggapan, bahwa mencintai semudah mengaitkan lesu leher celana. Terlalu peduli pada apapun yang sudah hangus terbakar penyesalan. Terlalu candu memastikan kesetiaan yang akan terus ditiris oleh kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan datang setelahnya. Tetapi, si goblok mana yang bisa lolos dari masa lalu tanpa belajar darinya. Kening lentikmu itu mungkin sedang menyatu saat ini; satu dari sekian ekspresi milikmu yang kusukai, ekspresi yang unik tatkala kau sedang jemu mendengar celoteh nasihat. Namun, percayalah bahwa ini bukan celoteh seorang guru yang selalu kau benci itu, bukan gurauan lelakimu, bukan sesiapamu. Aku hanyalah kulminasi dari pertanyaan:
“Pulaskah tidurmu malam ini?”
Sebuah pengakuan yang sepertinya tak perlu dilebih-lebihkan. Aku memang menggilai fantasi. Fiksi—terutama semesta tak berujung yang ada di dalamnya—dunia imajiner di mana kemerdekaan paripurna sanggup diwujudkan. Tak aneh, namun kau bisa menduga bahwa aku hanyalah sebagian dari para bajing merdeka yang pandai merangkai bunga-bunga dusta jadi cinta “Platonik” murahan. Matamu, hatimu, pikiranmu, punya kuasa memutuskan. Dalam padanya, kau pun bisa menduga bahwa aku hanyalah bekal penata kata yang terbiasa memutus urat nadinya, yang tergesa-gesa berjam-jam beradu dengan pikirannya, tergesa-gesa melahap makanan, tergesa-gesa memaknai kemiskinannya dengan melumat habis keabadian dan orang-orang dan siapa saja boleh ragu pada deklamasi parau setengah hati di atas. Mungkinkah itu kau Putri Malu-Ku yang baik hatinya; akan terus belajar dan mengertikannya.
Tak ada satu pun dari kita yang bisa lolos dari rasa iba pada kebaikan-kebaikan. Kebaikanmu—satu-satunya yang tersisa dari ingatan tentang kita. Saat ini, kau boleh menjumlahkan segala keburukan yang ada padaku. Tetapi, kebaikan akan selalu memenangkan pertarungan. Berdarah-darah sekalipun, sang guru manusia, guru kita Sang Mahatma yang bertubuh ringkih itu masih mampu berdiri membela kebaikan yang ada padanya; pada kemanusiaan. Nyawanya terancam, dan begitulah akhirnya, kematian mengantar jiwa mulia itu dengan letusan senjata yang menyalin trauma seumur hidup atas kematiannya, India yang merdeka. Siapa kekasih? Siapa makhluk biadab di muka bumi yang tak akan takluk berhadapan dengan kebaikan. Untuk itu, jika aku adalah yang terburuk, yang tak ada sedikit pun kebaikan, maka melihatmu tersenyum adalah satu-satunya yang terbaik yang kupunya.
Hening melanda ketika malam kian merasuk ke dalam degup jantung kita, karena dari dinding-dindingnya yang sedang runtuh, seekor cicak sedang rela memutus ekornya.
“Pulaskah tidurmu malam ini?” sergahku,
Sekali lagi untuk yang terakhir kalinya. Kau menatap langit, seakan mencari jawaban di antara bintang-bintang, di antara jatuh daun-daun Kamboja. Di antara sunyi kuburan dan roh-roh kudus yang bergentayangan di sana.
“Mungkin,” jawabmu akhirnya.
“mungkin tidurku akan menjadi tempat di mana kita bisa menyelesaikan bab terakhir dari kisah ini, atau mungkin itu hanya awal dari petualangan baru yang akan datang. Sayang… maksudku, kau puas bajingan?”
“Merdeka dan bahagialah.” Putusku, akhirnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) Maluku Utara memastikan data yang dikumpulkan dalam pelaksanaan Sensus Ekonomi (SE)…
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pulau Morotai, Maluku Utara, resmi memperingati Hari Keluarga Nasional atau Harganas ke-33…
Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Pulau Taliabu, Maluku Utara, mendesak pemerintah daerah bersama DPRD…
Persistensi DPD RI atas Rancangan Undang-Undang (RUU) Daerah Kepulauan memasuki lembaran baru. Pada Kamis, 25…
Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku Utara menjerat mantan Bupati Pulau Taliabu, Aliong Mus, dengan pasal berlapis…
Polres Pulau Taliabu, Maluku Utara, menggelar serangkaian kegiatan untuk menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara…