Si Pembunuh Berantai Ekologi

Ombudsman cermat, Muhammad Tabrani Mutalib. Foto: Istimewa

Oleh: Muhammad Tabrani Mutalib

 

Homo sapiens holds the record among all organisms for driving the most plant and animal species to their extinctions.” — Yuval Noah Harari, Sapiens: Riwayat Singkat Umat Manusia (Jakarta: KPG, 2017, hlm. xx)

Jika kita merefleksikan gagasan Yuval Noah Harari dalam Sapiens: Riwayat Singkat Umat Manusia (Sapiens: A Brief History of Humankind), kita diajak melihat kembali posisi manusia dalam sejarah kehidupan di bumi.

Selama ini, manusia sering memandang dirinya sebagai puncak evolusi, makhluk paling rasional yang mampu menciptakan peradaban, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Namun, di balik narasi kemajuan tersebut, tersimpan sebuah ironi yang kerap luput dari perhatian: hampir setiap langkah ekspansi Homo sapiens justru meninggalkan jejak kepunahan bagi spesies lain.

Dalam bukunya itu, Yuval Noah Harari melontarkan sebuah pernyataan yang provokatif. Ia menyebut Homo sapiens sebagai “ecological serial killers” yakni pembunuh berantai ekologi. Harari berargumen bahwa jauh sebelum revolusi industri, bahkan sebelum manusia mengenal pertanian, nenek moyang kita telah menyebabkan gelombang kepunahan satwa liar terbesar dalam sejarah bumi.

Pandangan ini mengguncang keyakinan umum bahwa kerusakan lingkungan baru dimulai sejak era modern. Sebaliknya, Harari menunjukkan bahwa kecenderungan eksploitatif telah melekat pada perjalanan manusia sejak awal.

Revolusi Kognitif: Awal Dominasi Manusia

Sekitar 70.000 tahun lalu terjadi apa yang disebut Harari sebagai Revolusi Kognitif. Perubahan ini bukan sekadar membuat manusia lebih cerdas, tetapi memungkinkan mereka membangun kerja sama dalam skala besar melalui bahasa, simbol, dan imajinasi bersama. Kemampuan inilah yang membedakan Homo sapiens dari spesies manusia lainnya seperti Neanderthal maupun Denisovan. Dengan kemampuan berkomunikasi dan berorganisasi, manusia berubah dari sekadar pemburu biasa menjadi predator paling efektif di muka bumi.

Masalahnya, dominasi tersebut datang begitu cepat. Dalam perspektif Harari, predator lain seperti singa atau hiu membutuhkan jutaan tahun untuk mencapai posisi puncak rantai makanan sehingga ekosistem memiliki waktu beradaptasi. Sebaliknya, manusia melompat ke posisi tersebut hanya dalam waktu yang relatif singkat, sehingga alam tidak sempat membangun keseimbangan baru.

Baca Juga:  Membangkitkan Imajinasi Publik dari Ucapan Wakil Rakyat

Harari menunjukkan pola yang berulang dalam sejarah migrasi manusia. Setiap kali Homo sapiens memasuki wilayah baru, tak lama kemudian banyak spesies besar menghilang.

Ketika manusia tiba di Australia sekitar 45.000 tahun lalu, sebagian besar mamalia raksasa di benua itu punah. Hal serupa terjadi di Amerika ketika manusia pertama kali memasuki benua tersebut. Mammoth, mastodon, dan berbagai megafauna lain menghilang dalam rentang waktu yang relatif singkat setelah kedatangan manusia.

Harari memang mengakui bahwa perubahan iklim turut berperan, tetapi ia menilai bahwa pola kepunahan yang mengikuti penyebaran manusia terlalu konsisten untuk dianggap sebagai kebetulan semata. Inilah alasan ia menyebut manusia sebagai “pembunuh berantai ekologi” bukan karena membunuh satu spesies, melainkan karena berkali-kali menyebabkan runtuhnya ekosistem di berbagai belahan dunia.

Revolusi Pertanian: Eksploitasi yang Semakin Sistematis

Jika Revolusi Kognitif menjadikan manusia predator paling efektif, maka Revolusi Pertanian memperbesar dampaknya terhadap lingkungan. Pertanian memungkinkan populasi manusia bertambah secara drastis. Semakin banyak manusia berarti semakin besar kebutuhan akan lahan, air, kayu, dan pangan. Hutan dibuka, sungai diubah alirannya, serta habitat satwa liar terus menyusut.

Ironisnya, menurut Harari, pertanian bukan hanya mengubah alam, tetapi juga mengubah hubungan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Hewan tidak lagi dipandang sebagai bagian dari ekosistem, melainkan sebagai sumber daya produksi. Dalam peternakan modern, miliaran hewan hidup dalam sistem yang sangat efisien secara ekonomi, tetapi sering kali mengabaikan kesejahteraan mereka. Harari bahkan menyebut perlakuan terhadap hewan dalam industri peternakan modern sebagai salah satu kejahatan terbesar dalam sejarah.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi mempercepat kecenderungan yang telah dimulai sejak ribuan tahun lalu. Kini manusia tidak hanya berburu satwa liar. Manusia mengubah iklim global, mencemari lautan dengan plastik, menebangi hutan tropis, mengeksploitasi perikanan secara berlebihan, serta menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Baca Juga:  Menggugat Kultur Komando di Tubuh Kejaksaan

Berbagai kajian ilmiah menunjukkan bahwa aktivitas manusia telah mendorong penurunan drastis populasi satwa liar dan merusak fungsi ekosistem di seluruh dunia. Dengan kata lain, jika dahulu manusia menghancurkan ekosistem menggunakan tombak batu, kini ia melakukannya dengan buldoser, kapal industri, pabrik, dan kecerdasan buatan.

Meskipun provokatif, tesis Harari bukan tanpa kritik. Sejumlah arkeolog berpendapat bahwa kepunahan megafauna tidak dapat dijelaskan hanya oleh aktivitas manusia. Perubahan iklim pada akhir zaman Pleistosen juga memainkan peran penting, bahkan di beberapa wilayah mungkin lebih dominan daripada perburuan manusia.

Oleh karena itu, banyak ilmuwan memandang kepunahan tersebut sebagai hasil interaksi kompleks antara tekanan manusia dan perubahan lingkungan. Artinya, istilah “pembunuh berantai ekologi” lebih tepat dipahami sebagai metafora filosofis untuk menggambarkan besarnya dampak manusia terhadap alam, bukan sebagai kesimpulan ilmiah yang diterima tanpa perdebatan.

Pergeseran dari Tombak Batu ke Mesin Industri

Jika pada masa prasejarah Homo sapiens menjadi ancaman bagi ekosistem melalui perburuan dan ekspansi wilayah, maka pada era modern daya rusaknya meningkat secara eksponensial berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Revolusi Industri, eksploitasi sumber daya alam secara masif, penggunaan alat berat, bahan bakar fosil, hingga perkembangan teknologi pertambangan dan industri telah memungkinkan manusia mengubah bentang alam dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hutan-hutan tropis ditebang untuk perkebunan dan pertambangan, sungai-sungai tercemar limbah industri, terumbu karang rusak akibat aktivitas penangkapan ikan yang destruktif, sementara emisi gas rumah kaca mempercepat perubahan iklim global.

Jika dahulu manusia membutuhkan ratusan tahun untuk mengubah suatu kawasan, kini kerusakan ekologis dapat terjadi hanya dalam hitungan bulan. Dalam konteks inilah, tesis Harari mengenai Homo sapiens sebagai “si pembunuh berantai ekologi” menemukan relevansinya yang semakin nyata.

Dalam konteks lebih dekat dengan ruang hidup kita, misalnya kondisi alam Indonesia sebagai contoh konkret bagaimana paradoks tersebut berlangsung. Sebagai salah satu negara dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di dunia, saat ini Indonesia justru menghadapi ancaman serius akibat deforestasi, kebakaran hutan, alih fungsi lahan, pertambangan, serta perdagangan satwa liar.

Baca Juga:  Filosofi Tahu Diri

Populasi Harimau Sumatra terus menurun karena hilangnya habitat dan perburuan, Badak Jawa kini hanya bertahan di satu kawasan konservasi, orangutan Kalimantan dan Sumatra kehilangan habitat akibat pembukaan hutan demi industri dan perkebunan. sementara Jalak Bali pernah berada di ambang kepunahan akibat perburuan liar.

Bahkan, kepunahan tidak lagi sekadar ancaman, melainkan telah menjadi kenyataan yang sedang berlangsung, sebagaimana dialami Harimau Bali dan Harimau Jawa yang telah dinyatakan punah. Ironisnya, seluruh kerusakan tersebut terjadi ketika manusia justru memiliki pengetahuan ilmiah, teknologi konservasi, dan kesadaran lingkungan yang jauh lebih maju dibandingkan generasi sebelumnya.

Hal ini menunjukkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak secara otomatis melahirkan kebijaksanaan ekologis. sebaliknya, tanpa etika lingkungan yang kuat, teknologi hanya akan memperbesar kapasitas manusia dalam mengeksploitasi alam.

Harari mengajak kita melihat sejarah dari sudut pandang yang tidak biasa. Selama ini manusia selalu menulis sejarah sebagai kisah kemenangan suatu peradaban. Namun, jika sejarah itu ditulis dari perspektif mammoth, burung moa, harimau Tasmania, atau hutan-hutan purba yang hilang, maka kisahnya akan sangat berbeda.

Mungkin saja benar bahwa Homo sapiens adalah spesies paling cerdas yang pernah hidup. Akan tetapi, kecerdasan tanpa kebijaksanaan terhadap alam sekitar dapat berubah menjadi ancaman bagi seluruh kehidupan di bumi.

Julukan “si pembunuh berantai ekologi” bukanlah sekadar celaan terhadap masa lalu, melainkan peringatan agar kita manusia tidak terus mengulangi pola yang sama paling tidak dimasa kita masih menginjakkan kaki di planet bumi.

Kemampuan terbesar Homo sapiens bukan hanya mengubah wajah dunia, melainkan juga memilih apakah perubahan itu akan menjadi warisan kehidupan atau justru jejak kepunahan kita sendiri di masa depan.

—–

*Penulis adalah praktisi dan pengajar di Fakultas Hukum Unkhair Ternate