News  

Ternate Jadi Tuan Rumah DTPHN 2026, Perkuat Simpul Sejarah Jalur Rempah Dunia

Kota Ternate, Maluku Utara, resmi menjadi tuan rumah penyelenggaraan konferensi internasional Dutch Trade Post Heritage Network (DTPHN) 2026. Forum jaringan pengelola warisan budaya era Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) ini mempertemukan berbagai delegasi mancanegara dan dalam negeri untuk merawat memori kolektif jalur perdagangan rempah dunia.

Berpusat di kawasan cagar budaya Benteng Oranje, rangkaian acara yang berkolaborasi dengan agenda Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) ini dihadiri delegasi dari Belanda, Jepang, Taiwan, Malaysia, Thailand, hingga perwakilan dari Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta.

Informasi yang diterima cermat pada Rabu 16 September 2026, sebanyak 25 partisipan dari pelbagai lembaga riset, museum, hingga organisasi non-pemerintah (NGO) terlibat dalam pertemuan ini. Beberapa di antaranya yakni Matsura Historical Museum, Tainan Cultural Association, Tamsui Historical Museum, Baand Holandia Ayuthaya, Melaka World Heritage, Pusat Dokumentasi Arsitektur, ICOMOS Indonesia, hingga Ternate Heritage Society dan Pemkot Ternate.

Para peserta berkesempatan berdiskusi langsung dengan Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, Marc Gerritsen, di area Benteng Oranje sebagai bagian dari upaya transfer pengetahuan sejarah antargenerasi.

Tamsui Ditunjuk Tuan Rumah DTPHN 2027

Melalui internal meeting yang digelar di Cafe Tolire, forum DTPHN secara resmi menyepakati penunjukan Distrik Tamsui di Taiwan sebagai tuan rumah konferensi tahunan berikutnya pada 2027.

Tamsui dipilih lantaran memiliki keterikatan sejarah dan geopolitik militer yang erat dengan Ternate pada abad ke-17. Hubungan masa lalu kedua wilayah ini terekam sejak era perdagangan rempah-rempah Batavia, perlawanan terhadap kolonialisme Spanyol, hingga peristiwa mundurnya garnisun Spanyol dari Ternate ke Manila akibat invasi Koxinga di Taiwan pada 1662—yang memicu migrasi kaum Mardika dari Ternate ke Filipina.

Peneliti Museum Sejarah Tamsui, Yu Cheng Guang, mengungkapkan bahwa menjadi tuan rumah Kongres ke-12 DTPHN merupakan momentum penting bagi Tamsui untuk menggali kembali narasi sejarah yang sempat minim literatur.

Baca Juga:  Saat Minyak Cengkih Bikin Takjub Tamu JKPI

“Tamsui pernah diduduki Spanyol pada 1628 dan Belanda pada 1642. Kolonisasi maritim membentuk sejarah awal kami. Minimnya catatan sejarah masa Spanyol dan Belanda membuat dialog di DTPHN ini sangat bermanfaat untuk memperdalam pemahaman mengenai Era Penjelajahan,” ujar Yu.

Yu menambahkan, pihaknya tengah berupaya menegosiasikan alokasi anggaran tambahan dengan Kementerian Kebudayaan Taiwan, meski anggaran dasar untuk agenda tersebut telah siap dan masuk dalam rencana prioritas tahun depan.

Senada dengan Yu, delegasi dari Tainan Cultural Association, Liao Shufang (Emma), menyambut baik penunjukan tersebut dan siap membangun sinergi lintas kota di Taiwan.

“Hal ini perlu dibahas secara serius. Tim Tamsui berencana mengunjungi asosiasi budaya Tainan untuk mematangkan skema kerja sama,” kata Emma.

Sementara itu, delegasi Tainan lainnya, Chou Chih-Ju (Lily Chou), menekankan pentingnya komitmen pelestarian yang berkelanjutan melalui forum ini.

“Tujuan utama kegiatan ini adalah saling berbagi, meneruskan, dan menerjemahkan warisan budaya leluhur, serta mengeksplorasi cara yang lebih efektif untuk mewariskannya dari generasi ke generasi,” tutur Lily.

Merawat Simpul Sejarah Rempah

Ketua Ternate Heritage Society, Didith Prahara, menjelaskan bahwa DTPHN digagas untuk mengoneksikan kembali negara-negara yang memiliki jejak sejarah perdagangan serupa.

“Ini langkah konkret menyambung simpul antarnegara di jalur rempah VOC, sekaligus menjaga nilai-nilai sejarah agar tidak memudar dari generasi ke generasi,” ungkap Didith.

Pelaksanaan DTPHN 2026 di Ternate makin bermakna karena berjalan beriringan dengan agenda JKPI serta melibatkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari Pemerintah Kota Ternate, dinas terkait, komunitas lokal, hingga relawan JKPI.

“Harapan saya, simpul ini tidak pernah terputus. Silaturahmi antarnegara tetap terjalin intens dalam menjaga warisan sejarah, baik secara lisan, tulisan, visual, maupun arsip-arsip inovatif ke depan,” pungkas Didith. (Icha)