Sastra  

Bupati James Salasa

Gambar Ilustrasi IA

Oleh: Afdhal Ruslan*

Bupati James Salasa baru saja tiba di Pelabuhan Jailolo pagi itu. Dengan speedboat bertenaga kuda yang dirancang untuk membelah ombak bahkan di cuaca yang kacau balau. Saat itu, sang bupati menggigil di dekat jendela dan membungkus tubuhnya dengan selimut bulu domba seperti kepompong paling besar yang pernah ada. Dia menatap lautan yang murka pada bulan Agustus, sambil merapal doa-doa yang pernah dipelajarinya sewaktu sekolah dulu tanpa ada gairah, dan memikirkan penyakitnya. Itu adalah perjalanan laut terburuk yang pernah dia alami.

Saat itu dia berusia enam puluh dua tahun. Dia mengenakan jas biru navy favoritnya, menata kumisnya mirip Charlie Chaplin dan memakai pelembab muka supaya dia tak tampak seperti orang yang sedang sekarat di hadapan orang-orang yang menyambutnya. Istrinya, Mariana Sakalati langsung memeluk dan menciumnya, sementara rekan-rekannya menyalaminya satu per satu dengan ketakjuban terhadap sikap tegas yang dibuat-buatnya. Salah seorang dari mereka bahkan tak bisa menahan diri untuk memujinya.

“Aku sudah yakin, Anda pasti baik-baik saja, Pak Bupati,” katanya.

Bupati James Salasa tersenyum penuh kemenangan tanpa menunjukkannya. “Aku memang baik-baik saja,” kata pria enam puluh dua tahun itu.

Sang bupati dibawa ke kediamannya dengan kawalan mobil polisi yang membuka arus lalu lintas di jalanan yang sebetulnya mati pada siang hari dan hanya hidup di malam hari. Sembilan mobil yang mengikutinya dari belakang tampak seperti iring-iringan seorang pengantin yang tanpa hiasan bunga plastik warna-warni dan bunyi klakson-klakson cempreng. Di kediamannya, sebuah pesta kecil-kecilan dengan banyak suguhan makanan telah disiapkan demi menyambut kedatangannya. Namun begitu dia melihat suguhan makanan di meja makan, dia tahu ini pesta besar-besaran. Bupati James Salasa berpaling dari semua godaan itu setelah mengingat larangan dokter untuk menghindari makanan berminyak dan bersantan, dan meminta pembantunya membuatkan bubur dan dua telur rebus yang dia santap sampai habis di meja makan bersama rekan-rekannya. Setelah itu, dia mengambil sekotak pil yang lebih mirip kotak perhiasan ketimbang kotak pil di tasnya, mengeluarkannya satu per satu dengan gerakan metodis yang berulang tanpa merasa terbebani. Sehingga menarik perhatian rekannya ketika pil warna-warni itu dikumpulkan di tangannya seperti cokelat ChaCha, lalu menelannya sekaligus.

“Yang kutelan ini hanya pil pengencer darah,” terangnya. “Tapi baru kusadari pil ini juga pengencer tai.” Mereka pun tertawa.

Seusai pesta, malam itu, sang bupati berjalan ke kamar tidur perkawinannya. Dia merasa lebih lelah dari sebelum-sebelumnya, dan langsung merobohkan tubuhnya di ranjang seperti orang tanpa daya. Dia menyembunyikan diri di dalam selimut sambil berusaha menghalau pikiran buruk sampai dia tertidur selama sejam dan terbangun masih setengah sadar, dan masih dengan ketakutan yang sama. Dia menghadap ke pintu kamar mandi yang terbuka perlahan. Sesosok serba putih keluar dari sana dan berjalan mendekatinya dengan langkah sesenyap roh. Ketika dia ingin berteriak, suaranya tertahan di tenggorokan dan seluruh tubuhnya gemetar. Mariana Sakalati yang mengenakan jubah mandi putih dan handuk keramas putih menutupi rambutnya, mencoba menyadarkannya dengan mengguncangnya dan bertanya ada apa — karena dia tampak sangat pucat. Sang bupati yang akhirnya tersadar hanya berkata bahwa dia baik-baik saja.

Baca Juga:  Akrostik Halmahera

“Tak perlu dipikirkan,” katanya.

Setelahnya dia kembali berusaha terlelap dalam bayang-bayang hantu, dan membolak-balik badannya berulang kali sembari mengingat beberapa hari lalu dalam sebuah perjalanan dinas, ketika di hari terakhir asistennya menemukannya sesak napas hebat di atas ranjang kamar hotel dan harus dilarikan ke rumah sakit karena mulutnya penuh busa. Sementara itu, Mariana Sakalati yang baru saja duduk di depan cermin, menyisir rambutnya, merias mukanya dengan kosmetik tidur, lalu memilih koleksi baju tidur dari deretan baju tidur bagus yang dibelinya saat mereka berwisata ke Singapura, dia memilih baju berwarna apel dan berbaring di ranjang perkawinan mereka.

Tetapi sang bupati menyuruhnya untuk lebih mendekat karena dia merasa itu satu-satunya cara supaya menjadi tenang. Sehingga istrinya masuk di celah ketiaknya seperti seekor kucing yang kedinginan, lalu mendekapnya erat sampai keduanya tampak tercampur menjadi satu. Sang bupati menjadi tenang dalam dekapan itu, dan berkata, “nyaman rasanya ada orang yang menemani saat kita merasa takut.” Tapi tak lama kemudian dia menyadari sesuatu yang lebih kejam dari ketakutannya, saat dirasakannya istrinya hanya mengenakan baju tidur tanpa dalaman apa-apa.

“Tapi yang paling kusesali dari semua ini,” ujarnya tertaklukkan, “di saat-saat seperti ini aku ingin menidurimu.”

Selama beberapa hari itu dia terkurung di kediamannya, dan akhirnya keluar untuk pertama kali menghadiri upacara kemerdekaan Indonesia tanggal tujuh belas Agustus di Lapangan Sasadu, sebuah lapangan yang pada hari biasa menjadi tempat sapi-sapi piaraan memakan rumput, sementara para petugas harus menertibkan para pemilik binatang itu untuk dikandangkan biar para hadirin tidak menginjak tai sapi selama upacara itu berlangsung.

Pria tua itu datang dengan pakaian dinas putih, serta memakai berbagai lencana yang sudah dibersihkan berulang kali sampai terlihat mengilat di dada dan pundaknya. Saat dia keluar dari mobil dengan gagah, setelah memastikan riasan wajahnya sudah merata. Mariana Sakalati mencegatnya dan memakaikan lipstik penyehat bibir biar bibirnya tak terlihat pucat di hadapan para hadirin.

“Demi apa pun, tak akan kubiarkan kau keluar dengan bibir pucat,” kata istrinya, membuatnya sumringah.

Sang bupati tampak luar biasa saat pengibaran bendera merah putih berlangsung. Sambil menanti hal yang paling dinantikannya, ketika dia berpidato pada seluruh hadirin di depannya dengan ucapan yang sudah dilatihnya di kamar, dengan intonasi dan irama yang mirip seorang pendeta, sehingga ucapan itu tak lagi menjadi gema yang besar di hatinya, bahwa sesuai dengan cita-citanya yang akan dibuat, menjadikan daerah ini sehat, terang dan bersih.

Baca Juga:  Sehimpun Puisi M Wahib: Sang Pembual hingga Jejak Langkah Kota

“Jadi dengan kepemimpinanku, daerah ini jelas menuju ke sana,” katanya tanpa antusias, sambil menunjuk poster besar dirinya di sebelah lapangan dengan latar poster sebuah miniatur daerah yang telah dirancangnya begitu bagus. “Begitulah daerah ini nantinya.’

Kemudian matanya tertuju pada satu-satunya anak yang hadir, yang berdiri di barisan sekolah dasar. Sang bupati memanggil anak itu, tetapi anak itu terlalu malu untuk menghampirinya. Sehingga asistennya perlu menuntunnya untuk berhadapan dengan sang bupati yang langsung disoraki oleh para hadirin. Sang bupati memulai dengan pertanyaan basa-basi, menanyakan namanya, tempat tinggalnya, di mana sekolahnya — yang dijawab anak itu dengan perasaan gugup sekaligus takut. Tapi perlahan anak itu mengatakan dengan lugas yang mengungkapkan sebuah rahasia lucu. “Ayah bilang aku bisa makan bubur kacang ijo jika ikut upacara,” kata anak itu membuat seisi lapangan tertawa. Inspektur upacara itu pun mengatakan kalau anak itu bisa makan bubur kacang ijo sebanyak yang dia inginkan.

“Tapi sebelum itu, aku akan memberimu hadiah,” kata sang bupati mengeluarkan uang satu juta rupiah dari sakunya. “Ini untukmu anakku.”

“Terima kasih,” ucap si kecil itu yang lalu dibawa oleh si asisten bukan kembali ke barisan, namun menuju sebuah tenda yang penuh makanan di atas meja panjang, yang telah disiapkan agar orang-orang dapat mengambilnya sehabis upacara — terutama bubur kacang ijo dalam panci besar. Tak lama kemudian upacara itu berakhir dengan semua orang menuju ke tenda.

Sementara sang bupati duduk di kursi sofa yang disediakan untuknya, menatap ke lapangan yang mulai silau oleh cahaya matahari jelang pukul dua belas siang, dan hawa panas menyeruak dari segala arah. Tanpa berhasil menyelamatkan dirinya dari keringat yang membasahi tubuhnya. Sang bupati merasa sial dengan pakaian dinas yang tebal dan kaku, yang menjadikannya seperti manekin di atas sana. Tiba-tiba dua orang wartawan datang untuk menambah kesialan itu dengan mewawancarainya. “Tak ada yang perlu ditanyakan,” cegatnya. Bukannya mundur wartawan itu bertambah maju. “Kalau begitu, Pak Bupati,” kata seorang wartawan yang berhasil mengembalikan minatnya. “Dua minggu lagi akan diadakan pengambilan nomor urut pasangan calon.”

“Nomor berapa yang Anda inginkan?” tanya si wartawan. “Satu, dua, tiga atau empat.”

Dia tergugah, “hm, aku harap itu nomor satu,” terang bupati. “Tapi itu tergantung kehendak Tuhan.”

Sayangnya, satu minggu sebelum pengambilan nomor urut, Mariana Sakalati menemukannya sesak napas hebat dengan cara yang sama ditemukan si asisten, yakni terkapar tak berdaya dengan mulut penuh busa, dan ternista oleh penyakitnya di ranjang perkawinannya. Penyakitnya kembali kambuh oleh sebab yang alamiah – karena capek. Pria tua itu pun dilarikan ke rumah sakit di Jakarta pada pagi hari itu juga secara diam-diam, dengan perawatan yang intens dari sebelumnya. Orang-orang terdekatnya mencoba merahasiakannya demi melindungi namanya, tapi tak ada rahasia yang bisa bertahan lama di wilayah itu. Sehingga kabar penyakitnya telah diketahui banyak orang yang yakin dia tak akan bertahan lebih lama lagi.

Baca Juga:  Perempuan yang Menolak Takdir

Di sana, dokter yang menanganinya membawanya masuk ke dalam ruangan penanganan serius. Dengan memakai berbagai peralatan untuk memacu jantungnya. Selama dua jam pergulatan tanpa istirahat itu akhirnya mendapat titik terang dengan jantungnya yang kembali bereaksi. Sang dokter berucap lega sembari mengelap keringatnya, “ini seperti menghidupkan orang mati.” Saat dia keluar ruangan, Mariana Sakalati menghampirinya dengan keadaan gemetar, dan sang dokter menguatkannya dengan berkata sebelum wanita itu menangis, bahwa suaminya sebentar lagi akan sadar. Tak lama kemudian, sang bupati siuman dengan membuat gaduh rumah sakit karena terus mengoceh ingin pulang ke daerah kekuasaannya. Istrinya yang tak mampu menenangkannya, meminta bantu pada sang dokter yang langsung datang sebab kegaduhan itu mulai terdengar di setiap ruangan. “Sayang sekali, belum saatnya,” kata dokter pada Mariana Sakalati. “Dia bisa tumbang kapan saja.” Demi kebaikan suaminya, istrinya menyerahkan semua keputusan pada sang dokter. Tapi pria tua itu belum berhenti mengoceh.

“Baiklah!” kata dokter hampir berteriak. “Anda bisa pulang, tapi bukan hari ini.” Diam-diam seorang perawat menyelinap dari bawah agar menyuntikkan obat bius di selang infus pria tua itu.

Sehingga pada hari pengambilan nomor urut, setelah tujuh hari istirahat dan bertahan dengan obat bius demi menghentikan ocehannya. Bupati James Salasa datang dengan iring-iringan belasan mobil yang dihias pernak-pernik bunga penuh warna seperti karnaval di sekolah TK. Tak ada yang menyangka kedatangannya yang berdiri di atap mobil dengan pakaian adat suku Tobaru (Salah satu suku tertua di Halmahera Barat), seusai ditopang oleh pil yang diberikan dokter dengan dosis yang lebih ganas dari sebelumnya — yang dapat membunuh seekor tikus. Sang bupati melambaikan tangan pada setiap massa pendukungnya yang dibayar membentuk barisan pagar hidup di sepanjang Jalan Pengayoman, sambil tersenyum lebar. Momen itu terlalu mengejutkan sampai beberapa orang yang melihatnya tak berhenti percaya bahwa takdir seseorang dapat sebegitu tak terduga.

“Lihat!,” ucap salah satu dari mereka. “Bahkan penyakit tak mampu menghentikannya.”

*Penulis lahir dan besar di Jailolo, Halmahera Barat. Bermukim di Desa Gufasa.