Yanuardi Syukur Pengajar Antropologi Globalisasi di Universitas Khairun, Ternate. Foto: Dokumen Pribadi
Oleh: Yanuardi Syukur
Pengajar Antropologi Globalisasi di Universitas Khairun, Ternate
“Shifting goals, unclear timelines and a flimsy pretext: at times, the US-Israel campaign against Iran carries curious parallels of Vladimir Putin’s invasion of Ukraine.”
(Tujuan yang berubah-ubah, garis waktu yang tidak jelas, dan dalih yang lemah: kadang-kadang, kampanye AS-Israel melawan Iran memiliki kemiripan yang aneh dengan invasi Vladimir Putin ke Ukraina).
Demikian pengamatan tajam Pjotr Sauer di Guardian (10 Maret 2026). Dalam kedua perang, tujuan kampanye terus berubah, pembenaran hukumnya dipertanyakan, dan ada keengganan aneh untuk menyebutnya sebagai perang. AS menyebutnya “operasi terbatas,” sementara Kremlin bersikeras dengan “operasi militer khusus.” Bahasa yang sama, ironi yang serupa.
Joseph Gedeon dalam laporannya di Al Jazeera (7 Maret 2026) mendokumentasikan dengan cermat bagaimana narasi perang AS terhadap Iran terus berubah dalam hanya sepekan. Pada 28 Februari, Trump mengumumkan perang melalui video di Truth Social dengan dalih “menghilangkan ancaman nuklir yang akan segera terjadi” seraya menyerukan rakyat Iran untuk “merebut kembali negara kalian.”
Baca juga:
1. BeiDou di Tangan Iran
2. Australia dalam Pusaran Konflik Iran
3. Jiang Xueqin, Iran dan Prediksi Kekalahan Amerika
4. Senjata Minyak di Selat Hormuz
5. Ekologi Perang dalam Konflik AS-Israel Vs Iran
Beberapa jam kemudian, ia mengatakan kepada Axios bahwa perang bisa berakhir dalam “dua atau tiga hari” atau berlanjut hingga “mengambil alih semuanya.” Di PBB, Duta Besar Mike Waltz menginvokasi Pasal 51 Piagam PBB tentang pembelaan diri.
Pada 1 Maret, Pentagon mengakui kepada staf Kongres bahwa Iran sebenarnya tidak berencana menyerang AS kecuali Israel menyerang lebih dulu—meruntuhkan klaim “ancaman yang akan segera terjadi.” Menteri Perang AS Pete Hegseth kemudian menyatakan misinya “laser-focused” (punya tujuan yang sangat jelas dan terbatas), yaitu menghancurkan rudal Iran, tanpa perubahan rezim.
Namun hanya berselang jam, Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengakui bahwa AS menyerang karena tahu Israel akan bertindak dan Iran akan membalas—pengakuan bahwa perang ini diluncurkan untuk mengantisipasi serangan sekutu, bukan karena ancaman langsung dari Iran.
Trump dengan cepat membantah Rubio, mengatakan dialah yang memaksa Israel, bukan sebaliknya. Pada 6 Maret, Trump menuntut “penyerahan tanpa syarat” Iran—sebuah tujuan maksimalis yang bertentangan dengan semua pernyataan sebelumnya.
Di tengah kebingungan narasi ini, muncul babak baru yang tak kalah ironis. Sarah Shamim dalam laporannya di Al Jazeera (9 Maret 2026) mengungkap bahwa Amerika Serikat justru meminta bantuan Ukraina—negara yang selama empat tahun terakhir berperang melawan agresi Rusia—untuk membantu melindungi sekutu-sekutu AS di Teluk dari serangan drone Iran.
Sejak invasi skala penuh Rusia, Ukraina telah mengembangkan drone pencegat murah (US$1.000-2.000 per unit/sekitar Rp16.880.000 hingga Rp33.760.000) untuk melawan drone Shahed buatan Iran yang digunakan Rusia, kini diminta berbagi keahlian dengan negara-negara yang selama ini bimbang dalam menyikapi perang mereka.
Setidaknya, ada beberapa hal yang dapat kita baca dari peristiwa di atas.
Pertama, ironi sejarah yang sulit dibantah.
Negara yang selama bertahun-tahun memohon bantuan militer dari AS tiba-tiba menjadi pihak yang dimintai tolong. Zelensky melihat peluang strategis di tengah krisis dengan menawarkan keahlian Ukraina dalam menangani drone Shahed—yang selama empat tahun berhasil dihadapi dengan drone pencegat murah—sebagai imbalan atas sistem pertahanan Patriot yang lebih canggih.
Sementara negara-negara Teluk telah menghabiskan lebih dari 800 rudal Patriot PAC-3 hanya dalam beberapa hari untuk mencegat drone murah Iran, Ukraina justru kekurangan rudal serupa untuk menghadapi rudal balistik Rusia. Dengan logika sederhana, Zelensky menawarkan solusi bahwa, “Kami bantu kalian menghemat rudal Patriot yang mahal dengan teknologi drone murah kami, dan berikan kami rudal Patriot yang kalian hemat tersebut.”
Ini adalah ‘diplomasi cerdas ala Zelensky’ di mana Ukraina mendapatkan pertahanan yang dibutuhkan, sementara AS dan sekutu Teluk-nya mendapatkan cara yang lebih efisien untuk melindungi diri. saat ini, tim ahli militer Ukraina telah dikirim ke Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi untuk membantu mereka mempertahankan diri dari drone yang diluncurkan Iran sebagai balasan atas serangan udara besar-besaran AS dan Israel. Tim lainnya juga membantu AS mempertahankan kehadiran militernya di Yordania
Amerika memang merugi lawan drone murah Iran. Dalam beberapa hari saja, lebih dari 800 rudal Patriot PAC-3 telah digunakan di Timur Tengah—melebihi total pasokan yang diterima Kyiv selama empat tahun perang.
Kedua, adanya paralelisme dalam perubahan tujuan perang yang membingungkan.
Gedeon mencatat bagaimana dalam satu minggu, AS meluncurkan setidaknya enam narasi berbeda, mulai dari ancaman nuklir, pembebasan rakyat Iran, pembalasan atas agresi 47 tahun, antisipasi serangan Israel, hingga “penyerahan tanpa syarat.” Ini persis seperti Putin yang awalnya bicara “demiliterisasi dan denazifikasi” Ukraina, lalu bergeser ke perlindungan penutur Rusia, dan akhirnya aneksasi wilayah.
Danny Citrinowicz dari Atlantic Council memperingatkan bahwa “ketika tujuan strategis menjadi terlalu ambisius, kampanye militer yang sukses sekalipun dapat meluncur ke dalam perang atrisi.” Ketika tidak ada kejelasan tentang kapan dan bagaimana perang berakhir, risiko terjerumus ke dalam konflik berkepanjangan semakin besar.
Ketiga, Rusia sebagai pemenang sejati—untuk saat ini.
Keir Giles dari Chatham House kepada Al Jazeera menyebut Rusia sebagai “penerima manfaat utama dari tindakan AS saat ini.” Kenaikan harga minyak, pelonggaran sanksi AS terhadap energi Rusia, dan pengalihan amunisi pertahanan udara dari Eropa ke Timur Tengah—semuanya menjadi “jalur kehidupan bagi Rusia.”
Vladimir Frolov, diplomat Rusia pensiunan, menanggapi semua ini dengan singkat: “kedengarannya familiar.” Di saat AS dan sekutunya sibuk dengan perang baru, Rusia terus menggerogoti Ukraina dengan sumber daya yang justru diperkuat oleh krisis ini.
Pada akhirnya, perang ini menghadirkan ironi yang berlapis-lapis. Ukraina membantu AS di Timur Tengah sementara Rusia membantu Iran dengan teknologi dan intelijen. Zelensky bernegosiasi dengan negara-negara Teluk yang selama ini enggan memihak, sementara Putin menikmati kenaikan harga minyak.
Sejumlah penulis dan pegiat literasi resmi menyepakati sebuah event Ternate Menulis (TEMU), yang akan menjadi…
Sebanyak 302 penumpang asal Pulau Taliabu dan Kepulauan Sula akhirnya dapat pulang ke kampung halaman…
Proses penetapan pimpinan baru di tubuh Perumda Air Minum Ake Gaale Kota Ternate mulai menemukan…
Sebanyak 11 masyarakat adat dari Maba Sangaji mengajukan Permohonan Peninjauan Kembali (PK) atas putusan Pengadilan…
Praktisi hukum Maluku Utara, Wahyuningsi Madilis, mendesak Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bersama Polda…
Suasana hangat di Kafe Jarod pada Kamis sore, 13 Maret 2026, tak hanya diisi dengan…