Satreskrim Polres Halmahera Utara memeriksa Reza, salah satu pemandu pendakian Gunung Api Dukono, terkait insiden erupsi yang terjadi di kawasan puncak gunung dan mengakibatkan tiga pendaki dilaporkan meninggal dunia serta belum ditemukan.
Tiga korban tersebut terdiri dari dua warga negara asing (WNA) asal Singapura, yakni Heng Wen Qiang Timothy (30) dan Shahin Muhrez Bin Abdul Hamid (27), serta satu warga negara Indonesia (WNI) bernama Enjel.
Dalam video pemeriksaan yang beredar, Reza mengaku melihat langsung dua pendaki asal Singapura itu tertimpa batu besar saat erupsi terjadi. Sementara keberadaan Enjel, ia mengaku tidak mengetahuinya.
“Saya melihat mereka berdua tertimpa batu besar. Kalau Enjel, saya sudah tidak perhatikan,” ujar Reza saat diperiksa penyidik.
Reza menjelaskan, batu yang menghantam korban berukuran sangat besar dan masih panas karena baru saja terlontar akibat erupsi.
“Batunya besar sekali, Pak. Walaupun saya tidak mengecek denyut nadi, saya yakin 100 persen mereka meninggal, karena saya berdiri tepat di depan korban,” katanya.
Saat erupsi berlangsung, Reza mengaku sempat berlindung di balik batu besar yang berada di dekat para korban, karena material vulkanik terus beterbangan dari kawah.
“Setelah itu yang lain berlari turun ke bawah, sementara saya lari ke arah puncak untuk melihat korban lain,” ungkapnya.
Sementara itu, Kapolres Halmahera Utara AKBP Erlichson Pasaribu mengatakan penyidik telah melakukan pemeriksaan mendalam terhadap pemandu pendakian tersebut.
Berdasarkan keterangan saksi dan hasil pemeriksaan awal, Reza diduga sengaja membawa rombongan wisatawan asing dan WNI mendekati kawah Gunung Dukono, padahal kawasan dalam radius empat kilometer telah ditutup karena status gunung berada pada level Waspada.
“Kami masih mendalami kasus ini. Jika terbukti terdapat unsur kelalaian yang menyebabkan hilangnya nyawa orang lain, maka pemandu dapat dijerat pidana. Saat ini proses penyelidikan masih berlangsung,” tegas Erlichson.
