Abis Piala Dunia Lanjut Bakubae

Budhy Nurgianto, penulis. Foto: Doc. Pribadi

Oleh: Budhy Nurgianto*

 

TARA terasa hampir satu bulan, orang-orang di Ternate, Tidore deng Halmahera baku malawang, baku terek deng baku gara tentang bola. Ada yang batobo rame-rame, deng ada yang demam masal kalau dia pe tim kesayangan kalah. Siang malam tara di warung kopi, pangkalan ojek, pasar, sampe kantor orang-orang selalu bacerita tentang skor pertandingan, pemain bintang, deng tim mana yang paling pantas angkat piala.

Sampe-sampe banyak orang yang rela batawana sampe pagi cuma mo pakai nonton bola. Yang lebe lucu, sebelum pertandingan mulai, banyak yang kase tuju sombong, bilang dorang pe tim kuat, pasti menang deng juara. Pas hasil beda, langsung bilang wasit tara adil, FIFA curang, lapangan tara bagus, atau pelatih salah. Deng lebih lucu satu-satu demam tinggi deng headphone tiba-tiba so tara aktif atau diluar jangkauan. Semua itu berlangsung gerap sekali. Baku terek tapi tara sampe dendam, baku mara tapi tara sampe kase putus tali silaturahmi. Kita suka suasana akrab kayak gitu. Asek.

Dalam satu bulan ini sepakbola memang bikin orang-orang di Ternate, Tidore deng Halmahera gembira. Habis pertandingan duduk lagi satu meja, minum kopi, deng ketawa sama-sama. Dorang bisa baku sapa cuma gara-gara pake jersey tim yang sama. Yang dukung Argentina baku sindir deng yang dukung Inggris, yang pegang Brazil tara mau kalah deng pendukung Prancis, Spanyol, Jerman deng Portugal.

Piala Dunia ini benar-benar dapa lia bisa menyatukan banyak orang. Sampe-sampe lupa tugas kuliah, harga rica deng dollar yang nae, MBG yang bermasalah, sampe deng rencana utang 1 triliun yang diajukan Pemerintah Provinsi Maluku Utara. Semua torang lupa.

Baca Juga:  Jalan Panjang Membangun Ternate

Tapi sekarang piala dunia so selesai. Spanyol so jadi juara deng bawa pulang itu piala. Jadi deng berakhirnya final piala dunia itu, pesta baku gara, baku malawang deng baku terek berarti so abis waktu. Sekarang yang tersisa cuma cerita, kenangan begadang deng hasil pertandingan.

Saat ini yang harus torang lakukan adalah kembali lagi kayak dulu, bekerja, dan tentu baku bae lagi, karena di lapangan bola torang boleh beda bendera, tapi di kehidupan hari-hari ini torang samua tetap baku saudara deng baku sapa. Torang baku peluk ulang, baku bae lagi, maraju-maraju kecil kemarin kase hapus semua.

Dalam perspektif sosiologi, sikap torang bale ulang ke realitas setelah piala dunia bisa dibilang sebagai masa pengaktifan kembali solidaritas organik. Ketika piala dunia berlangsung, torang semua disatukan oleh “solidaritas mekanik”—ikatan emosional sementara yang lahir karena kesamaan hobi, tontonan, dan euforia. Namun, setelah turnamen ini selesai, torang dipaksa harus kembali ke sistem yang nyata, saling membutuhkan satu sama lain untuk bertahan hidup.

Émile Durkheim-bapaknya sosiologi modern- di dia pe buku yang berjudul The Division of Labour in Society bilang, masyarakat modern kayak sekarang ini susah kalau tara hidup baku bae. Pada prinsipnya torang semua ini tetap bersatu dan terikat satu sama lain. Solidaritas organik menjadikan torang semua saling membutuhkan. Karena itu pada konteks sepak bola, turnamen piala dunia itu hanya hiburan yang sifatnya sementara.

Kembali ke realitas saat ini menjadi langkah waras untuk torang melanjutkan aktivitas hari-hari, bekerja, deng tentu menghidupi keluarga. Selama sebulan, torang semua nyaris sampai lupa kewajiban, masalah politik, hukum sosial dan ekonomi. Semua teralihkan sementara deng piala dunia. Itulah kenapa abis piala dunia, realitas hidup so langsung tagih torang pe perhatian.

Baca Juga:  “Ternate Kota Stunting”

Membangun kembali kebersamaan setelah piala dunia penting torang lakukan, karena cara itu dapat mempererat hubungan antar torang semua. Perbedaan pilihan tim waktu piala dunia kemarin harus tara jadi penyebab perpecahan, melainkan harus jadi pengalaman yang memperkaya interaksi dan memperkuat rasa saling menghargai. Piala dunia hanya sarana untuk memperkuat nilai sportivitas dan bahan teladan dalam kehidupan sehari-hari.

Secara pribadi kita berharap, abis piala dunia ini ada rasa kebersamaan diantara torang samua yang bisa menjadi modal untuk mendukung berbagai kegiatan positif, terutama semangat dalam membangun Maluku Utara. Memperkuat persatuan, dan tentu bisa terlibat dalam menyuarakan ketidakadilan. Torang semua harus bisa menjaga sikap saling menghormati, menghargai perbedaan, dan memperkuat solidaritas.

Di Maluku Utara sendiri saat ini misalnya, masih ada banyak persoalan yang butuh torang samua pe perhatian, kayak masalah infrastruktur jalan, pelayanan publik, pengelolaan sampah, pendidikan dan kesehatan. Semua masalah itu torang semua harus ikut mengawasi, supaya bisa bikin maju daerah.

Oleh karena itu, abis piala dunia ini, tugas torang sekarang adalah baku bae lagi dan saling berbaikan. Karena dengan cara itu, bisa memberikan torang samua manfaat besar bagi kemajuan dan kesejahteraan daerah.

Semangat baku bae abis piala dunia sebenarnya bisa jadi modal penting bagi pembangunan daerah. Perbedaan yang muncul selama kompetisi adalah pelajaran untuk bagaimana torang menciptakan kerjasama yang baik antar masyarakat. Selain itu, nilai sepakbola juga bisa mendorong terciptanya suasana yang aman dan nyaman sehingga berdampak baik terhadap kehidupan masyarakat. Dampaknya tentu adalah kestabilan dalam pembangunan.

Kalau torang samua terus baku dukung, baku jaga, dan baku kerja sama, maka pembangunan daerah ini akan lebih cepat maju. Tara ada lagi perpecahan, yang ada hanya semangat gotong royong untuk masa depan yang lebih baik. Berakhirnya piala dunia berarti berakhirnya musim baku malawang, baku gara deng baku mara. Sekarang torang harus kembali lagi jadi satu keluarga besar, masyarakat Maluku Utara.

Baca Juga:  Maluku Utara Dipaksa (Hilirisasi) Bahagia

Jadi piala dunia ini harus jadi momen untuk menyatukan torang semua. Minimal nilai-nilai positif kayak kerjasama, saling menghormati deng baku bae yang ada di piala dunia menjadi inspirasi dalam membangun kehidupan sosial. Nanti torang baku malawang, baku gara deng batobo rame-rame lagi di 2030. Bakubae Dapa Bae. (***)

—–

*Budhy Nurgianto,
Penggemar Sepak Bola dari Kaki Gamalama