News  

Saat Minyak Cengkih Bikin Takjub Tamu JKPI

Sejumlah tamu Rakernas JKPI mengunjungi booth pameran produk minyak cengkih di kawasan Benteng Oranje Kota Ternate, Malut. (Foto: Rajif Sahib/cermat)

Aroma minyak cengkih yang dipamerkan di salah satu stan Rakernas XII Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) di Kota Ternate, Maluku Utara, menarik perhatian sejumlah tamu. Produk olahan rempah itu menjadi salah satu unggulan KTH Buku Manyeku yang ikut dipamerkan dalam agenda tersebut.

Tak hanya minyak cengkih, KTH Buku Manyeku juga membawa produk lain seperti kerupuk nanas. Sementara kelompok Kaha Rampa menghadirkan produk bernuansa rempah, di antaranya Toja atau lilin aroma rempah dan Gasi Mahodo atau garam mandi.

Berbagai produk tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan potensi lokal Ternate dalam bentuk olahan yang memiliki nilai ekonomi. Sejumlah pengunjung bahkan menyempatkan diri melihat dan mengenal lebih dekat produk yang dipamerkan.

Di antara tamu yang mengunjungi stan tersebut yakni Direktur Pengembangan Usaha Perhutanan Sosial, Direktorat Perhutanan Sosial Kementerian Kehutanan RI, pakar pariwisata Prof. Dr. Bill Carter, Ph.D., serta seniman asal Yogyakarta, Hangno Hartono.

Sekretaris KTH Buku Manyeku, Fiko, mengapresiasi perhatian para pengunjung terhadap produk yang mereka bawa. Menurutnya, kunjungan tersebut menjadi motivasi bagi kelompoknya untuk terus mengembangkan produk lokal agar semakin dikenal.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada para pengunjung yang sudah berkunjung ke stand kami. Kehadiran mereka menjadi motivasi bagi kami untuk terus mengembangkan dan memperkenalkan produk-produk lokal,” ujar Fiko kepada cermat, Jumat, 29 Agustus 2026.

Ia juga berharap Pemerintah Kota Ternate ikut memberikan perhatian terhadap pengembangan produk berbasis rempah. Fiko berharap Wali Kota Ternate dapat menyempatkan diri mengunjungi stan Buku Manyeku dan Kaha Rampa selama pelaksanaan Rakernas XII JKPI.

Menurut dia, produk olahan rempah merupakan salah satu bentuk nyata hilirisasi potensi daerah sekaligus memperkuat identitas Ternate sebagai Kota Rempah.

Baca Juga:  Kejati Maluku Utara Pastikan Muhammad Kasuba Tidak Lagi Berstatus Tersangka

“Kami berharap dari Pemerintah Kota Ternate, dalam hal ini Wali Kota, bisa berkunjung ke stand kami. Karena kalau kita berbicara Kota Rempah, hilirisasi itu ada pada produk kami,” tegas Taufik Ayub.

Ia menilai pengembangan produk rempah bukan sekadar menjaga identitas dan warisan daerah, tetapi juga membuka peluang peningkatan nilai ekonomi bagi masyarakat.

Keikutsertaan dalam Rakernas XII JKPI diharapkan menjadi ruang promosi sekaligus membuka peluang kolaborasi dan pemasaran yang lebih luas. Dengan begitu, produk berbasis rempah dan potensi lokal Ternate dapat terus berkembang serta berkontribusi terhadap penguatan ekonomi masyarakat.

Penulis: Eko PujiantoEditor: Rian Hidayat