News

Air Laut Surut, Warga Batang Dua Berlarian ke Puncak Gunung Usai Gempa M 7,6

Kepanikan luar biasa melanda warga di Kecamatan Pulau Batang Dua, Kota Ternate, Maluku Utara sesaat setelah gempa bumi magnitudo 7,6 terjadi di Sulut hingga Maluku Utara, Kamis, 2 April 2026 pagi.

Dalam sebuah rekaman video, terlihat ratusan warga berlarian menyelamatkan diri menuju puncak gunung atau dataran tinggi. Narasi dalam video tersebut menggambarkan situasi mencekam saat air laut mulai terlihat surut secara drastis setelah guncangan hebat terjadi pada pukul 08.45 WIT.

“Lari ke atas, lari ke atas! Terjadi kekeringan air (surut), masyarakat berhamburan,” teriak seorang warga dalam rekaman video tersebut sembari merekam kepanikan warga yang mengevakuasi anak-anak dan orang tua ke tempat yang lebih aman.

Selain ancaman tsunami, guncangan gempa yang sangat kuat juga menyebabkan kerusakan fisik di Pulau Batang Dua. Sejumlah rumah warga dan tempat ibadah dilaporkan mengalami keruntuhan pada bagian dinding dan atap.

Irwan, seorang pemuda Sidangoli yang memiliki kerabat di Batang Dua, membenarkan informasi tersebut. “Kami sangat khawatir dengan keadaan saudara-saudari di Batang Dua. Di sana banyak rumah warga yang rusak dan juga tempat ibadah. Kondisi ini diperparah dengan peringatan potensi tsunami yang dikeluarkan BMKG,” ungkapnya.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa tsunami kecil memang telah terdeteksi di beberapa titik pesisir. Hingga pukul 08:36 WIT, data menunjukkan kenaikan muka air laut di Sidangoli setinggi 0,35 meter, Minahasa Utara 0,75 meter, dan Belang 0,68 meter.

Di Sidangoli sendiri, Irwan melaporkan fenomena pasang surut air laut yang berlangsung sangat cepat. “Pasang surut terlihat cepat, tapi kami di sini masih terus pantau. Semoga aman,” tambahnya.

Irwan berharap Pemerintah Kota Ternate dan BPBD segera mengirimkan bantuan dan tim evakuasi ke Kecamatan Pulau Batang Dua. Mengingat lokasi tersebut merupakan wilayah terluar yang paling dekat dengan episenter gempa, pendataan kerusakan dan pemenuhan kebutuhan logistik warga di pengungsian (puncak gunung) menjadi hal yang mendesak.

Bagi warga di pesisir Pantai Maluku Utara, tetaplah berada di tempat tinggi hingga pihak otoritas resmi mencabut peringatan dini tsunami. Hindari bangunan yang retak akibat gempa sebelumnya.

redaksi

Recent Posts

Polres Halut Tetapkan Afrida Ngato Sebagai DPO, ini Kata Komnas HAM

Saurlin P Siagian, Komisioner Pemantauan dan Penyelidikan di Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM)…

15 jam ago

Produsen di Ternate Sebut Kelangkaan Solar Bikin Harga Tahu dan Tempe Melonjak

Menjelang Hari Raya Iduladha, warga Kota Ternate harus bersiap menghadapi kenaikan harga sejumlah bahan pangan…

17 jam ago

Kejari Ternate Musnahkan 2,32 Kilogram Ganja dan 140,3556 Gram Sabu

Kejaksaan Negeri (Kejari) Ternate, Maluku Utara, kembali memusnahkan barang bukti dari sejumlah perkara tindak pidana…

17 jam ago

Seleksi Duta Bahasa Malut 2026 Digelar, Pemenang Siap Wakili Daerah ke Nasional

Balai Bahasa Provinsi Maluku Utara resmi menggelar tahapan seleksi Pemilihan Duta Bahasa tahun 2026. Para…

17 jam ago

Polres Halut Tetapkan Satu Tersangka dalam Kasus Kematian Tiga Pendaki Gunung Dukono

Polres Halmahera Utara, Maluku Utara, menetapkan seorang pemandu pendakian sebagai tersangka dalam kasus meninggalnya tiga…

20 jam ago

Bukan Filmnya, Tetapi “Kita”

Oleh: Farhan F. Tan ADA sesuatu yang selalu ditakuti kekuasaan: warga mulai menemukan keresahannya yang…

20 jam ago