Sastra

Antoine Roquentin: Semacam Muak Artifisial

Oleh: WDGafoer

 

Tak ada yang luar biasa dengan hal ini, inilah kesenangan kecil dari rasa muak: ia menyebar dari dasar sebuah kubangan kental, dasar zaman kita–zamannya kursi-kursi patah dan tali pengait baju berwarna ungu; ia melebar, halus, tapi tiba-tiba menyebar hingga ke ujung, seperti setitik noda minyak. Tak lama setelah lahir, ia sudah menua, seolah-olah aku telah mengenalnya selama dua puluh tahun.

(Jean Paul Sartre, “Muak”)


Kupanas-panasi kepalaku sendiri dengan memberinya sejumput kecemasan. Beberapa cerita melintas dan belum berhasil tertulis. Untuk itu, kucukupi mereka dengan memberinya tanda kurung, berharap suatu waktu zigot-zigot bekal cerita itu mendapatkan kesempatan dibaca; terlahir sebagai paragraf utuh dengan pernak-pernik di sana-sini yang membuatnya terkesan layak dibaca. Entahlah, momen kreatif adalah satu-satunya yang bisa diandalkan saat ini, saat sepi kerja-kerja melamun terasa melumat banyak energi. Membayangkan sebuah cerita memang melelahkan dan kiat-kiat untuk menaklukkan ritual itu sudah kulakukan sebagai ibadah wajib di depan meja. Tetapi kali ini terasa lebih parah dari deadlock, lebih sakit dari patah hati, lebih dingin dari butiran salju Kilimanjaro, kepalaku membengkak, kata-kata pergi entah ke mana, dan aku tersiksa dengan mengungsikan sisa-sisa yang masih bisa diselamatkan sebagai catatan-catatan yang berakhir jadi obskur, beku, tersisih dan nyaris mati.

Bagaimanapun jari-jariku butuh makan, kurang lebih dua pekan kelaparan, ia bosan dengan halaman-halaman tebal dari imajinasi para maestro yang terlanjur jadi maha besar itu. Namun ia (jari-jariku) nampaknya mulai tertarik dengan cerita-cerita sederhana para penulis yang belum beruntung dihadiahi royalti atau jika terpaksa dengan pertimbangan agak bermoral, dipuji-puji di halaman tengah surat kabar; yang sebagian karya-karya itu hanya—jika beruntung—terbit karena rasa iba editor atau karena hal-hal gaib lain seperti terbit dengan mutu kurasi yang yah… sudahlah… dan sejenisnya. Dalam keriangan macam itu, jari-jariku sungguh meniti tiap jengkal cerita-cerita malang itu: mereka sederhana dengan plot-plot konvensional happy ending, gurih dengan kerumunan diksi yang terdengar seperti gigitan keripik, bagus ketika dibaca dan sedikit banyak diganggu oleh kemauan berlebih dari anggapan bahwa cerita-cerita itu dikarang dengan mesin imajinasi yang sungguh-sungguh tak layak dikasihani—dalam cakupan tertentu—lebih-lebih karena pada akhirnya bisa diterbitkan.

Apa yang sedang ia (jari-jariku) upayakan sebenarnya adalah mengejar seribu kata dalam jangka waktu sepuluh menit atau lebih. Seperti sebuah perburuan di tengah hutan tropis, para binatang yang dikejarnya berlari melalui lintasan fatamorgana dengan semacam banalitas yang terukur; terangkum sebagai perempuan-perempuan telanjang yang tertidur di tangga rumah ibadah, perumpamaan-perumpamaan aneh tergambar begitu saja, dan itu belum cukup. Kongkretisasi—proses penciptaan selalu merupakan yang paling tersulit, itu terasa seperti melepas tulang ikan dari langit-langit di liang mulutmu. Tetapi jika terpaksa harus kulebih-lebihkan, ini hanya seperti melepas celana perempuan yang belum kau kenali—mari beri gambar yang bagus untuk perumpamaan itu sebelum tertuduh amoral dan sejenisnya:

“Di suatu malam suntuk saat kau kelaparan (misalnya), seorang perempuan (atau laki-laki) mengajakmu ke tepi pantai, ia merampas tanganmu dan kau tak bisa menunda pemaksaan itu, kau menyertainya dengan sebuah doa yang tak didengarnya. Hanya beberapa detik setelah kau menghela napas di tepi pantai, ia melepas tanganmu dan kemudian melepas celananya dan belahan ketelanjangan menampak samar di bawah bulan terik, karena ia memang tak berniat memperlihatkan keindahan itu padamu, ia melakukannya tanpa alasan. Seperti hantu, beberapa saat berlalu dan kau mulai sadar, pakaiannya tanggal satu persatu terserak berurut ke tepi lidah ombak yang melumat mata kakinya, pelan-pelan ia berjalan menjauh darimu dan hilang di tengah laut. Dua bulan kemudian, kau terbangun dalam keadaan mabuk dan menemukan sebuah surat kabar tertiup angin, terhempas di wajahmu, tak ada gigil sesudah kau membaca berita di surat kabar itu, mayat seorang perempuan (atau laki-laki) di temukan dua kilo meter dari batas pantai tempatmu mabuk. Kau lalu curiga jika perempuan itu adalah perempuan yang mengajakmu di suatu malam, dua bulan lalu. Kau sobek-sobek surat kabar itu dan melangkah kosong ke tepi laut, kau lepas celanamu, persis adegan semacam itulah yang berkelindan di dalam kepalamu, kau menceburkan diri ke tengah laut. Menghilang. Dan sebuah paradoks terlacak oleh jari-jariku… Jari-jariku menemukan dua mayat sekaligus: kau dan perempuan (atau laki-laki) telanjang yang melepas celana.

Seribu kata dan sepuluh menit berlalu dan hanya setengah dari proses itu sedang kau selesaikan. Ia (jari-jariku) merasakan sesuatu yang maha mulia merasuk ke dalam tangannya—sebagai seorang pencipta amatir—mampu menuliskannya saja sepertinya tak cukup, ia masih harus membuatnya lebih menarik, lebih seksi, lebih-lebih agar tak seperti butiran salju Kilimanjaro. Kebekuan-kebekuan harus terus dihancurkan. Tetapi, belakangan kau terganggu dengan robot-robot artifisial yang mampu menulis cerita, dalam beberapa artikel, jurnal, dan diskusi berbayar, dari ulasan-ulasan yang berseliweran itu, kau terlilit dengan sejenis kecemasan bahwa apa yang ditulis manusia bisa dilampaui dengan apa pun yang ditulis oleh robot (kita tidak sedang membicarakan tentang rezim estetika macam apa yang disuntik ke dalam kepala robot). Sesuatu yang lebih menghibur dari peristiwa itu adalah kau sadar bahwa dalam kehidupan nyata, robot tak bisa melucuti celana seorang perempuan, robot tak punya hasrat, nafsu, dan perangkat-perangkat yang memungkinkan ia melakukan hal-hal tak bermoral. Dalam suasana kosong macam itulah, secara eksistensial kau meminjam Sartre untuk menceburkan diri ke dalam pelarian-pelarian yang mengasyikkan, kau lalu menyiram kecoa Kafka ke dalam lubang toilet, dua gelas anggur bersinggungan di langit-langit kepalamu.

“Selamat menulis, tuan besar. Jenuh-jenuhlah dengan merdeka,” tukas Antoine Roquentin.

 

redaksi

Share
Published by
redaksi

Recent Posts

Seorang ASN di Ternate Ditangkap Usai 11 Kali Lakukan Begal Payudara

Tim Resmob Gamalama Polres Ternate, Maluku Utara, menangkap seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) berinisial MZAK…

3 jam ago

Polres Ternate Ungkap Kasus Aborsi, Dukun Kampung dan Sepasang Kekasih Jadi Tersangka

Seorang mahasiswi bersama kekasihnya diduga melakukan praktik aborsi dengan bantuan seorang dukun kampung di Kota…

3 jam ago

Piala Dunia dan Musim Baku Malawang

Oleh: Budhy Nurgianto*   SATU hal yang paling saya suka dari setiap turnamen piala dunia…

19 jam ago

Graal Taliawo Boyong Para Kadishub Se-Malut Audiensi dengan Ditjen Perhubungan

Anggota DPD RI asal Maluku Utara, Dr. R. Graal Taliawo, S.Sos., M.Si., kembali menunjukkan aksi…

21 jam ago

Kurban, Pendidikan, dan Harapan: Cerita Pengabdian ESP di Kalaodi

Di balik hijaunya perbukitan dan sejuknya udara Desa Kalaodi, Kecamatan Tidore Timur, Kota Tidore Kepulauan,…

2 hari ago

Gabungan Mahasiswa di Maluku Utara Desak Pemerintah Turunkan Harga BBM

Sejumlah organisasi mahasiswa di Kota Ternate, Maluku Utara, menggelar aksi demonstrasi serentak di beberapa titik…

2 hari ago