Yayasan Pustaka Sangaji Kie Raha terus mendorong keberadaan identitas bahasa Ternate melalui diskusi kebudayaan. Foto: Eko Pujianto/cermat
Upaya menjaga keberadaan Bahasa Ternate terus didorong oleh berbagai kalangan, termasuk melalui diskusi kebudayaan bertajuk “Bahasa Ternate, Rumah Ingatan, Cermin Masa Depan” yang digelar Yayasan Pustaka Pangaji Kie Raha di Studio FEBI IAIN Ternate, Kamis, 6 Agustus 2026.
Diskusi tersebut menjadi ruang bertutur dan bertukar gagasan mengenai pentingnya Bahasa Ternate sebagai identitas budaya, media pewarisan nilai, juga bagian dari ingatan kolektif masyarakat di tengah derasnya arus modernisasi.
Direktur Yayasan Pustaka Pangaji Kie Raha, Andri Idrus, mengatakan pihaknya berkomitmen menjadikan forum kebudayaan itu sebagai agenda berkelanjutan. Menurutnya, pelestarian bahasa daerah membutuhkan konsistensi serta dukungan berbagai pihak.
“Kami tetap akan mengelola kegiatan ini agar ada kesinambungan dan dapat berjalan secara teratur. Kami berkomitmen melihatnya dari sisi aturan dan akan mengawal sampai pada hal-hal teknis,” ujar Andri kepada cermat, Kamis, 6 Agustus 2026.
Ia berharap diskusi tersebut tidak berhenti sebatas forum ilmiah, tetapi mampu menghasilkan rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti untuk memperkuat upaya pelestarian Bahasa Ternate beserta nilai-nilai budaya yang melekat di dalamnya.
“Kami, Yayasan Pustaka Pangaji juga akan memberikan rekomendasi dari hasil diskusi ini. Karena itu, kami berharap ada banyak hal yang bisa kita dorong bersama,” katanya.
Sementara itu, Kasubag Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku Utara, Stenly Reigen Loupatty, menegaskan bahwa bahasa dan tradisi lisan merupakan bagian dari objek pemajuan kebudayaan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan.
Ia menilai pemerintah memiliki tanggung jawab untuk membuka ruang partisipasi masyarakat dalam menjaga warisan budaya. Sebab, menurutnya, kebudayaan sejatinya tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat, bukan hanya di lingkungan birokrasi.
“Dalam Undang-Undang tentang Kebudayaan, salah satu objek kebudayaan adalah tradisi lisan. Dalam semangat yang sama, kami mencoba memfasilitasi dan membuka ruang kepada masyarakat,” ujarnya.
Stenly menambahkan, dukungan pemerintah diwujudkan melalui penyediaan regulasi dan bantuan pendanaan terhadap berbagai kegiatan pelestarian budaya yang diinisiasi masyarakat, termasuk yang dilaksanakan Yayasan Pustaka Pangaji Kie Raha.
Ia mengingatkan, perkembangan zaman dan perubahan sosial menjadi tantangan tersendiri bagi keberlangsungan bahasa daerah. Karena itu, pelestarian Bahasa Ternate harus terus dilakukan agar identitas dan pengetahuan budaya masyarakat tidak perlahan hilang.
“Orang yang tahu adat, dia akan menjadi orang yang beradab. Karena itu, kita tidak boleh melupakan Bahasa Ternate,” pungkasnya.
Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda meminta seluruh pemerintah kabupaten dan pemerintah desa bergerak cepat memperbaiki…
Pemerintah Kabupaten Pulau Taliabu, Maluku Utara, membutuhkan dukungan anggaran lebih dari Rp2 triliun dari pemerintah…
HALMAHERA UTARA – PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) kembali mendorong pengembangan sumber daya manusia di…
Pelaksanaan Seminar Nasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Kota Ternate, Maluku Utara, tidak hanya…
Oleh: Abu Zubair Latupono, S.IP., M.M. (Praktisi Penegak Hukum) DI ERA informasi digital yang begitu…
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan meminta Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Maluku Utara…