Sejarah Singkat Desa Paratina (Catatan Tentang Kampung Halaman)

Fahri Aufat

Oleh: Fahri Aufat

 

Di bawah bukit, pesisir yang membentang mempertemukan laut dan daratan hijau sebagai ruang kehidupan, terdapat Desa Paratina. Desa kecil ini terletak di Kecamatan Sulabesi Barat, Kabupaten Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara. Desa ini bukan hanya sekadar tempat di peta, tapi merupakan cerita hidup warga yang belajar dari ombak, tanah, dan langit.
Desa Paratina memiliki luas sekitar 10,5 hektare dan terbagi menjadi dua dusun, dua Rukun Warga, serta enam Rukun Tetangga. Desa Paratina dikelilingi oleh Desa Fokalilik di utara, Desa Nahi di selatan, Desa Wai Ipa di timur, dan lautan lebar di barat. Kehidupan warga bergantung pada keharmonisan antara manusia, alam, laut, serta tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Tahun 1965, langit seolah bergemuru membawa duka. Gempa bumi besar disertai tsunami menghantam Kepulauan Sula, termasuk Desa Paratina. Rumah-rumah hancur, empat warga meninggal duniia, dan mereka terpaksa mengungsi ke pegunungan selama tiga bulan. Di malam gelap, mereka berjuang menyelamatkan anak-anak, barang bawaan, serta harapan mereka (harta benda). Kesulitan itu bukanlah awal kehancuran, melaikan semanagat pembangunan. Muncul kekuatan kerja sama, setelah badai berlalu, mereka kembali membangun rumah, masjid, dan ruang-ruang sosial dengan tangan bersama. Itu adalah semangat dan ketangguhan Desa Paratina.

Namun, ujian belum berakhir. Pada 1977, banjir besar kembali datang, seperti monster tak terduga, menghancurkan rumah warga dan memaksa mereka pindah ke bagian selatan desa. Di tengah banjir yang menggenang, desa yang dulu bernama Waibot atau Air Putih akhirnya terlepas dari Desa Induk Malbufa, menjadi desa mandiri. Masyarakat memilih Baco Aufat sebagai kepala desa pertama, seorang pria yang memimpin dengan hati penuh dedikasi dari 1977 hingga 1982. Ia membantu membangun kembali kehidupan masyarakat setelah bencana, tapi takdir berbeda ia meninggal sebelum masa jabatannya selesai, meninggalkan jejak kepemimpinan yang tak terlupakan.

Baca Juga:  Maluku Utara Dipaksa (Hilirisasi) Bahagia

Kepemimpinan kemudian berpindah ke Daeng Aufat pada 1983, sebagai peralihan kepemimpinan. Tak lama, Ishak Bermawi menjabat sebagai Penjabat Kepala Desa, memimpin hampir tiga dekade, dari 1983 hingga 2011. Di bawah pimpinannya, desa mengalami perubahan besar: institusi diperkuat, masyarakat berkumpul, dan struktur pemerintahan mulai terbentuk. Era demokrasi datang pada 2012, ketika Ridwan Drakel terpilih sebagai kepala desa hingga 2018. Ia membangun fondasi kuat bersama sekretaris desa, kepala urusan pemerintahan, pembangunan, umum, dusun, RW, RT, serta badan permusyawaratan dan lembaga kemasyarakatan. Kini, pada 2022, Asrul Aufat menjabat sebagai kepala desa, melanjutkan kepemimpinan itu.

Bersamaan dengan dinamika kepemimpinan desa, kehidupan ekonomi masyarakat Paratina terus bergerak. Pertanian menjadi tumpuan utama warga karena tanah yang subur dan hasil panen yang mencukupi, sementara sebagian lainnya menantang ombak laut sebagai nelayan demi menjaga keberlangsungan hidup. Penduduk desa terus bertambah, dari 710 orang pada tahun 2013, naik menjadi 715 pada 2014, dan mencapai 720 orang pada Mei 2018. Meski sekitar 90 orang memilih pergi ke tempat lain untuk mencari kesempatan antara 2013 sampai 2015, jumlah penduduk terbanyak tetap terdapat di Dusun I, sementara Dusun II tidak terlalu banyak.

Keberagaman merupakan bagian penting dari Desa Paratina. Warga terdiri dari berbagai suku, seperti Fatce, Fagudu, Falahu, Mangon, Buton, dan Bajo. Namun, perbedaan ini justru memperkuat ikatan antarwarga, bukan justru memisahkan. Mayoritas beragama Islam, yang menjadi landasan moral dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat.

Nilai gotong royong seperti Malomkub (kumpul bersama) dan Walima (kerja sama) hidup dalam setiap kegiatan, seperti membangun rumah, merawat kebun, atau merayakan acara keagamaan. Tradisi maksaira menjaga hubungan keluarga, sedangkan makmaked mengajarkan saling mendengarkan dan menghormati. Adat istiadat dijaga dengan baik, sejalan dengan ajaran agama, menciptakan keseimbangan yang membuat desa ini kuat dan harmonis.

Baca Juga:  Abdul Basir, Sultan Djabir dan MacArthur

Desa Paratina bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga cerita tentang manusia yang bangkit dari kesulitan, memimpin dengan bijak, dan hidup dalam solidaritas. Di sini, kita belajar bahwa pembangunan sejati datang dari sejarah yang diingat, kepemimpinan yang tulus, serta kebersamaan yang tak pernah pudar.