News  

Temukan Buah Busuk di Hidangan MBG, Guru di Ternate Protes

Bahan makanan busuk temuan pihak sekolah di Ternate Barat. Foto: Istimewa/cermat

Temuan buah busuk pada hidangan Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah MIS Baabullahthul Khairat, Kecamatan Ternate Barat, Kota Ternate, Maluku Utara, menuai protes pihak guru.

Junaidi Abas, salah seorang guru MIS Babullahthul Khairat, mengaku menyayangkan temuan tersebut. Ia tampak perihatin saat sekolah mereka menerima jenis buah salak dan pisang yang tak lagi layak dikonsumsi karena membusuk.

“Pisang dan salak itu sama sekali tidak layak dikonsumsi. Jika anak-anak tanpa sengaja memakannya, sekolah yang akan pertama kali disalahkan bila terjadi masalah kesehatan,” ujar Junaidi kepada cermat, Senin, 26 Januari 2026.

Tak hanya buah-buahan yang terdapat dalam hidangan program cetusan Presiden Prabowo tersebut. Menurut Junaidi, beberapa jenis sayur seperti mentimun juga terlihat mulai menguning.

“Buah dan sayur itu didistribusikan sejak Jumat, nanti akan dibagikan ke siswa pada Sabtu. Namun, kondisinya kebanyakan tidak lagi layak dikonsumsi,” ucapnya.

Ia bilang, sempat ada alasan bahwa pasokan makanan MBG ini dikabarkan habis, padahal ini merupakan agenda pusat dengan fokus anggaran yang besar.

Juanidi dan perwakilan guru pun mendesak agar tim gizi melakukan evaluasi serta pemeriksaan ketat terhadap pendistribusian hidangan MBG di sekolah mereka.

“Kita juga pertanyakan apakah standar pelayanan ini berlaku sama di seluruh sekolah di Ternate Barat atau hanya terjadi di sekolah tertentu saja. Ini harus diperhatikan,” tandasnya.

“Ini masalah sensitif karena yang mengonsumsi adalah anak-anak. Kami sangat menyayangkan kondisi ini dan berharap ada evaluasi total dari pihak terkait demi keamanan dan kesehatan siswa kami,” lanjutnya.

Sementara itu, Jasima, dari pihak tim gizi menjelaskan bahwa kerusakan buah seperti salak bukan disebabkan oleh kesengajaan melainkan faktor suhu selama proses pengemasan.

Baca Juga:  Resmi Ditetapkan, Ini Besaran Zakat Fitrah di Kota Ternate

“Buah-buahan tersebut merupakan makanan kering yang sudah dikemas sejak malam hari di dalam tas yang tertutup dalam waktu lama, suhunya menjadi panas sehingga warna buah berubah dan teksturnya menjadi lembek jika tertindih, yang kemudian memicu pembusukan,” kata dia.

Ia menekankan bahwa kerusakan hanya terjadi pada beberapa buah saja dari total distribusi, tidak secara keseluruhan.

Mengenai mentimun yang menguning, tim gizi mengklarifikasi bahwa hal itu terjadi karena bahan pangan terpapar terik matahari dalam waktu lama sebelum sampai ke tangan siswa.

Dewa Husen, selaku pihak driver atau distributor, memastikan bahwa fasilitas penyimpanan seperti cold storage tidak mengalami kendala. Namun, ia mengakui adanya masalah pada kualitas barang dari supplier.

“Kami sudah melakukan pengecekan, namun ada beberapa buah yang memang sudah patah atau lembek karena faktor panas dan beban tumpukan saat distribusi,” ujarnya.

Pihak gizi mengaku telah meminta pertanggungjawaban kepada supplier dan meminta buah-buahan ini digantikan. “Namun, proses ini terkadang terkendala oleh respons supplier yang lambat atau pengiriman barang pengganti yang belum siap konsumsi, seperti pisang yang masih mentah.”

Pihak pengelola menyayangkan langkah sekolah yang langsung mengunggah temuan tersebut ke media sosial tanpa konfirmasi terlebih dahulu ke tim gizi. Jasima menyatakan bahwa pihaknya memiliki tim yang siap mengantar kekurangan atau mengganti makanan yang rusak jika dilaporkan secara langsung melalui saluran komunikasi yang tersedia.

“Seharusnya dikonfirmasi ke kami terlebih dahulu agar bisa langsung kami ganti, karena kami tidak ada niat sama sekali untuk memberikan makanan yang tidak layak,” tambah Jasima.

Ia menambahkan pihaknya berkomitmen untuk memperketat pengawasan terhadap suplai dan menjaga suhu bahan makanan selama proses distribusi agar kejadian serupa tidak terulang kembali.