Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, resmi menutup gelaran Halal Fair yang diinisiasi Bank Indonesia (BI) perwakilan Maluku Utara di Gedung Duafa Center, Ternate, Sabtu, 7 Maret 2026.
Dalam sambutannya, Sarbin menekankan pentingnya kolaborasi antara lembaga pendidikan dan sektor ekonomi syariah untuk memperkuat kemandirian umat.
Sarbin memberikan apresiasi kepada seluruh jajaran panitia dan sivitas akademika, yang telah menyukseskan rangkaian kegiatan ini. Ia menilai agenda tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan momentum penting mendorong percepatan ekosistem halal di Maluku Utara.
“Hampir seluruh sivitas perguruan tinggi keagamaan, khususnya di Sulawesi Selatan dan kini kita dorong di Maluku Utara, harus menjadikan ekonomi syariah sebagai pilar pertumbuhan,” ujar Sarbin.
Ia juga menekankan sertifikasi halal bagi unit usaha yang dikelola pondok pesantren maupun perguruan tinggi. Menurutnya, label halal bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan jaminan kualitas, kesehatan, dan keamanan bagi konsumen di masa depan.
Sarbin mengajak para pelaku usaha dan pengelola lembaga untuk mengubah pola pikir lama yang menganggap pengurusan sertifikasi itu rumit.
“Kita ingin sertifikasi halal menjadi pintu masuk utama. Ke depan, selain kualitas produk, jaminan kehalalan akan menjadi standar dasar yang dicari masyarakat global,” tambahnya.
Selain soal produk halal, Sarbin juga menyoroti potensi besar aset wakaf yang dimiliki organisasi keagamaan maupun kampus. Ia mendorong agar aset-aset tersebut tidak dibiarkan terbengkalai, melainkan dikelola secara produktif untuk mendukung ekonomi daerah.
“Saya berharap lembaga-lembaga terkait bisa berkomunikasi efektif dengan pemerintah daerah untuk memetakan potensi ini.
“Kita harus melangkah lebih jauh dari sekadar wacana menuju implementasi yang nyata,” tegasnya.
Menutup sambutannya, Wagub menyatakan bahwa sinergi antara pemerintah, Bank Indonesia, dan lembaga pendidikan sangat diperlukan agar Maluku Utara bisa menjadi pemain penting dalam industri halal nasional.
