Ternate Kota “Gila” Bola

Budhy Nurgianto, penulis. Foto: Doc. Pribadi

Oleh: Budhy Nurgianto*

 

KALAU bicara sepak bola, Kota Ternate, Maluku Utara memang tarada duanya. Ada saja dia pe kelakuan warga kotanya kalau so bacerita tentang sepak bola. Mulai dari orang tua, mama-mama, anak muda sampe bocah kacili semua bakumpul, kalau so bicara bola.

Kalau duduk di acara orang kaweng, orang maninggal, warung kopi atau di pelabuhan deng pasar pasti bicara bola. Apalagi kalau musim piala dunia kayak sekarang ini, tara usah tanya, sepak bola langsung jadi bahan diskusi di semua tampa.

Pas pertandingan piala dunia mulai, akan banyak sekali orang bauni rame-rame. Kalau salah satu tim menang langsung spontan pawai. Banyak oto, motor bajalan bawa bendera negara juara. Klakson babunyi l kiri kanan. Orang-orang banyanyi yel-yel kemenangan. Sementara untuk pendukung tim kalah akan batobo ramai-ramai. Pelabuhan deng pantai di Ternate langsung riuh, ramai dan banyak tawa. Bakuterek deng bakumalawang massal. Pokoknya asek.

Secara pribadi saya sebenarnya juga heran, biki apa orang Ternate begitu fanatik sekali deng bola, sampai-sampai olah raga ini dapa lia kayak so jadi nafas hidup deng agama kedua yang wajib ditonton untuk hiburan. Sepak bola sampai bisa jadi ruang pelampiasan (katarsis) bagi orang-orang Ternate untuk melupakan sejenak beban ekonomi deng dipakai kase turun tensi politik. Cuma sepak bola yang bikin orang-orang di Ternate dapa lia bisa bahagia, merayakan kebersamaan, baku bantu, baku terek, baku malawang, deng kase kenal identitas sebagai orang Ternate yang cinta damai.

Kalau torang samua telusuri lebih jao, kegilaan orang-orang Ternate terhadap sepak bola, sebenarnya bukanlah hal baru dan tara bisa heran. Sejak lama orang-orang di kota ini memang so gila sekali bola. Bisa dibilang kegilaan terhadap sepakbola so ada lama sekali, sampai-sampai orang bakusedu sepak bola di Ternate so ada sebelum kerajaan romawi lahir.

Baca Juga:  Memotret Jejak Kebangsaan di Pulau Hiri 

Sejarah mencatat sepak bola di Ternate memang so dikenal sejak era kolonial Belanda awal abad 20. Di masa itu, olahraga ini so mulai banyak diperkenalkan aparat pemerintahan kolonial, militer, dan lembaga pendidikan. Banyak tentara Belanda deng masyarakat lokal waktu itu bermaen bola di pinggir pante. Olahraga ini terus makin maju deng terorganisir setelah Persiter Ternate terbentuk pada 1958. Orang-orang Ternate makin banyak yang bermain bola di lapangan- lapangan di masing-masing kampong setiap sore.

Jadi bisa dibilang kecintaan terhadap sepak bola orang-orang Ternate so tarada lawan. Torang semua bisa lia, setiap kampung di Ternate pasti punya lapangan bola, turnamen sampai dengan tim sepakbola. Kalau tim tingkat kampung bermain atau bertanding, masyarakat pasti secara sukarela bakumpul, mama-mama deng jojaru jadi suporter dan bikin galang dana untuk tim secara swadaya. Aktivitas kolektif itu dorang-orang Ternate- lakukan secara gembira dan bahagia. Apalagi sekarang ini dorang-orang Ternate- so anggap sepak bola bahasa bersama yang bisa bikin masyarakat bisa bersatu. Baku terek gembira deng tentu bisa dipakai untuk menguatkan tali silaturahmi.

Dalam perspektif sosiologi, fenomena “gila bola” orang-orang di Ternate ini sebenarnya bisa dianggap sebagai solidaritas sosial yang menurut Emile Durkheim- bapaknya sosiologi modern-merupakan aktivitas yang menciptakan kesadaran kolektif (collective conscience) untuk memperkuat rasa kebersamaan. Teori modal sosial dari Robert D. Putnam -ilmuwan politik dan profesor kebijakan publik di Harvard University John F. Kennedy School of Government- bahkan sampai bilang kalau interaksi melalui sepak bola kayak orang-orang di Ternate bisa membangun jaringan, kepercayaan, dan kerja sama antar masyarakat. Memperkuat hubungan sosial dan partisipasi warga dalam kehidupan komunitas. Penelitian Fakhira, Komariah, dan Wulandari (2024) juga sampai bilang hal yang sama, kalau sepak bola membentuk ikatan emosional, rasa memiliki, solidaritas, dan identitas sosial di antara anggotanya.

Baca Juga:  Kaleidoskop 2023: Dua Musim cermat dan Konsisten Mengabarkan

Dengan demikian, kegilaan orang-orang Ternate terhadap sepak bola bisa menjadi institusi sosial yang mempengaruhi pola hiburan, identitas lokal, solidaritas, interaksi sosial, bahkan aktivitas ekonomi masyarakat.

Jadi, “kegilaan terhadap sepak bola” di kalangan orang-orang Ternate dapat dipahami sebagai ekspresi budaya kolektif. Sebagai cerminan nyata dan ruang perjumpaan sosial yang berfungsi sebagai medium integrasi sosial yang menghadirkan simbol, ritual, dan pengalaman bersama.

Lebih jauh lagi, gila sepak bola di Ternate so bukan lagi soal dukung-mendukung tim di lapangan, tapi so jadi identitas kultural yang mendarah daging. Sepak bola adalah cara orang-orang Ternate membangun kebersamaan dan menjaga persaudaraan. Fanatisme sepakbola merupakan kombinasi antara cinta, loyalitas dan kebanggaan.

Karena itu, kegilaan orang-orang Ternate terhadap sepak bola sekarang so tidak hanya tentang kemenangan atau kekalahan. “Ternate gila bola” menunjukkan bahwa permainan di lapangan hijau itu bisa bekeng kita semua memperkuat rasa memiliki terhadap sesama. Sampai titik ini maka torang sepakat kegilaan itu perlu kita jaga, minimal dalam menguatkan relasi sosial, menjaga silaturahmi deng bakuterek bahagia. Jadi mulai sekarang Torang semua jang berhenti ba uni bola. (***)

—–

*Penulis adalah penggemar sepakbola dari kaki Gamalama