Meracik Mimpi dari Secangkir Kopi: Noah dan Semangat Coffee Street di Ternate

Gerobak Noah yang terlihat unik untuk dijadikan tempat jualan kopi sederhana. Foto: Eko/cermat

Jalanan dipenuhi lalu lalang pengendara motor dan warga yang berolahraga sore itu, Sabtu, 10 Januari 2026. Lapangan Ngaralamo menjelma menjadi titik sentral hiburan kota, tempat bertemunya berbagai lapisan masyarakat, dari keluarga, anak muda, hingga para pelaku UMKM yang setia menjajakan dagangan mereka.

Di antara deretan pedagang itu, tampak Noah (34), seorang barista muda dengan semangat yang tak pernah padam. Ayah dari tiga anak ini telah lama menekuni dunia kopi sejak masih menetap di Makassar. Kini, di Ternate, ia tidak hanya mengelola coffee street, tetapi juga membangun sebuah kafe bertema anime yang berlokasi di Kelurahan Stadion.

Noah berasal dari Makassar. Sejak kecil hingga dewasa, ia tumbuh dan besar di kota tersebut. Namun, beberapa tahun lalu, ia memutuskan kembali ke kampung halaman ibunya di Ternate. Di kota inilah, pada 2025, Noah mulai merintis usaha coffee street.

Meski dihadapkan pada dinamika pergaulan dan persaingan usaha, tekadnya tetap bulat: bertahan dan mengembangkan bisnis kopi yang ia cintai. Kini, selain di Lapangan Salero, ia telah memiliki satu coffee street lain yang berlokasi di depan Taman Nukila.

Sebagai bagian dari generasi muda yang memanfaatkan ekonomi kreatif, Noah memulai usahanya dengan cara sederhana. Bermodalkan sepeda listrik yang dimodifikasi menjadi gerobak kopi, ia menyulapnya menjadi lapak unik bertuliskan “Kopi Kita”. Konsep sederhana ini sengaja menyasar mahasiswa dan anak muda sebagai target pasar utama.

“Awal berjualan di Lapangan Salero ini hanya saya sendiri. Lama-lama banyak anak muda datang, melihat, lalu terinspirasi dan membangun usaha mereka sendiri,” ujar Noah.

Noah, orang muda penjual coffe street di area lapangan Salero, saat sedang melayani pelanggannya. Foto: Eko/cermat

Menu yang ditawarkan pun terbilang simpel namun digemari. Kopi robusta dan arabika menjadi bahan utama, diracik dengan sirup dan susu kental manis. Varian rasa seperti karamel, pandan, dan aren menjadi favorit pelanggan.

Baca Juga:  Mengenal Ramuan Tradisional Orang Maluku Utara

Dengan harga terjangkau Rp 15.000 per cup, Noah mulai berjualan sejak pukul 10 atau 11 pagi. Ia menyiapkan sekitar 400 cup setiap hari, dan hampir selalu habis terjual hingga malam. Lapaknya biasanya tutup sekitar pukul 10 atau 11 malam.

“Kalau hari biasa cukup lumayan. Hari Minggu lebih ramai lagi. Meski cuma setengah hari sampai jam 6 sore, sudah habis 200 cup. Paling sepi itu kalau musim hujan,” jelasnya.

Bagi Noah, berwirausaha di Ternate terasa lebih menjanjikan dibandingkan kota besar seperti Makassar. Menurutnya, meski jumlah pedagang serupa di Ternate tidak banyak, antusiasme pelanggan justru tinggi sehingga peluang keuntungan tetap terbuka lebar.

Di balik kesibukannya meracik kopi, Noah menyimpan harapan besar. Ia berharap pemerintah kota dapat menyediakan kawasan khusus bagi pelaku usaha kreatif, khususnya di wilayah Fala Jawa, sebuah wacana yang pernah digaungkan namun belum terealisasi.

Dari secangkir kopi di atas sepeda listrik, Noah membuktikan bahwa mimpi bisa diracik dengan kesederhanaan, kerja keras, dan keyakinan, menjadi inspirasi bagi banyak anak muda di Kota Ternate.

Penulis: Eko Pujianto K. SahibEditor: Ghalim Umabaihi