Pelayaran Archipelago Guraici

Saya juga membawa pulang satu kesan tentang Guraici: keindahan alam saja tidak cukup untuk menjaga masa depan sebuah pulau. Yang membuatnya bertahan adalah manusia yang merawatnya.

Gugusan pulau-pulau di Guraici.

Pukul 09.42 WIT. Kapal kayu di Pelabuhan Bastiong Ternate belum juga berlayar menuju Kepulauan Guraici. Perjalanan ini tidak pernah saya rencanakan. Seorang sahabat, Akul, mengajak saya mengikuti kegiatan penanaman mangrove di Desa Dorolamo. Saya hanya tahu sedikit tentang kegiatan itu. Selebihnya, saya datang dengan rasa ingin tahu.

Guraici bukan nama baru bagi wisata Maluku Utara. Gugusan pulau ini pernah dikenal sebagai destinasi eksklusif. Namun, kini namanya semakin jarang terdengar.

Akses menjadi salah satu persoalan. Dari Ternate, perjalanan dengan kapal kayu memakan waktu sekitar enam jam. Kapal padat dan fasilitasnya sederhana. Pilihan lain adalah menyewa speedboat yang tentu lebih mahal.

Pagi itu, saya, Akul dan timnya berebut tempat di kapal. Setelah mesin menyala, angin laut perlahan menggantikan panas dan sesaknya pelabuhan.

Pemandangan aktivitas nelayan di Guraici.

Sekitar pukul 14.00, kapal singgah di salah satu pulau untuk menurunkan penumpang. Kami kemudian menuju Gunange sebelum berganti long boat menuju Desa Dorolamo.

Pukul 16.00, kami tiba.

Warga menyambut dengan ramah. Di sana sudah menunggu Cahyo, rekan Akul yang lebih dulu datang untuk menyiapkan kegiatan mangrove. Ada pula Ongkar, pengorganisasi warga yang datang dari Ambon.

Menjelang senja, saya ikut Ongkar ke pantai. Kami memasang pagar bambu untuk melindungi bibit mangrove dengan metode rumpun berjarak. Dua rumpun selesai saya bantu pasang sebelum matahari tenggelam.

Saya menerbangkan drone. Dari atas, Dorolamo tampak kecil di antara laut dan gugusan pulau.

Teras dan Kehidupan Desa

Dorolamo dihuni sekitar 100 kepala keluarga. Warganya hidup sebagai nelayan dan petani kelapa.

Malam itu kami melakukan briefing untuk kegiatan esok hari. Namun, yang lebih menarik perhatian saya adalah kehidupan warga.

Baca Juga:  Melihat Inovasi Pertanian Mahasiswa KKN-PPM UGM di Ternate

Teras rumah menjadi ruang sosial. Warga duduk, berbincang, tertawa dan beristirahat di sana. Tidak ada suara kendaraan. Hanya percakapan dan suara laut.

Senja di Guraici.

Di kota, teras mungkin sekadar bagian rumah. Di Dorolamo, teras adalah ruang keluarga.

Menanam Mangrove

Pagi 24 Juni, kegiatan dimulai di ujung desa. Saya datang sebagai pengamat sekaligus dokumentator. Dari situ saya melihat bahwa penanaman mangrove bukan inti pekerjaan Akul dan timnya.

Yang lebih penting adalah membangun kesadaran warga.

Selama sekitar tiga tahun, mereka mengorganisasi masyarakat agar memiliki pemahaman bersama tentang pentingnya menjaga laut dan pantai.

Setelah kegiatan selesai, warga akan melanjutkan pengawasan dan perawatan mangrove secara mandiri.

Peserta dari desa-desa tetangga kemudian tiba. Sosialisasi dilakukan, disusul materi tentang menjaga laut dan praktik penangkapan ikan yang baik.

Setelah makan siang, penanaman dimulai.

Anak-anak, pemuda, ibu-ibu, bapak-bapak dan perangkat desa turun ke pantai.

Saya yang awalnya hanya membawa kamera akhirnya ikut menanam.

Tiga rumpun saya tanam. Semoga tumbuh.

Dalam satu rumpun sekitar 60 meter persegi, sekitar 30 bibit mangrove dapat ditanam. Pagar bambu menjadi pelindung sekaligus penanda agar tanaman mudah dirawat.

Sore hari, kegiatan selesai. Warga pulang dengan lelah, tetapi bahagia.

Hari itu mereka bukan hanya menanam mangrove. Mereka sedang menanam harapan agar pantai dan desa tetap bertahan.

Pagi Terakhir

Pagi 25 Juni, saya dan Akul berjalan mengelilingi Dorolamo. Rumah-rumah berjajar menghadap jalan setapak. Di satu ujung ada lapangan sepak bola, di ujung lainnya pemakaman.

Rumah warga umumnya memiliki teras luas dan dapur besar yang berada dekat pantai. Warga menggunakan dapur untuk aktivitas sehari-hari, termasuk mengolah kelapa menjadi kopra.

Baca Juga:  11 Mahasiswa Mogok Makan untuk Pemekaran Maluku Utara

Di belakang beberapa rumah terdapat drum besi besar yang digunakan untuk mengasapi kelapa. Menurut warga, drum tersebut berasal dari pelampung yang hanyut ke laut.

Sekitar pukul 08.00, kami meninggalkan Dorolamo menuju Pulau Rajawali. Kami berharap melihat pari manta, tetapi belum beruntung.

Kami kemudian menuju Guraici.

Guraici yang Tertinggal

Pulau Guraici masih memiliki laut dan lanskap yang indah. Namun, bekas kejayaan wisatanya terlihat jelas.

Bangunan fasilitas umum telah roboh. Dermaga hanya menyisakan beberapa tiang kayu. Tidak jauh dari sana, nelayan Pulau Lelei masih bekerja.

Saya melihat sebuah perahu fiber dalam posisi miring. Rupanya nelayan sedang melakukan ba lobe, teknik menangkap ikan khas Lelei.

Nelayan menggunakan kacamata selam untuk melihat ikan pada kedalaman sekitar 10–20 meter. Mereka memilih ikan terlebih dahulu sebelum menurunkan umpan.

Kepala dan sebagian tubuh dicelupkan ke laut dari atas perahu. Dari kejauhan, perahu tampak seperti hendak terbalik.

Sekitar pukul 10.00, kami menuju Pulau Lelei sambil menunggu kapal kembali ke Ternate.

Di pulau itu, bekas kawasan wisata kembali membuat saya terdiam.

Fasilitasnya rusak dan tidak terurus. Yang tersisa hanya gapura bertuliskan “Archipelago Guraici”.

Ironis. Nama besar masih ada, tetapi tempatnya nyaris hilang. Guraici seperti menunjukkan bahwa pariwisata tidak cukup dibangun dengan fasilitas dan promosi. Ia membutuhkan pengelolaan berkelanjutan dan keterlibatan masyarakat.

Pulang

Kapal akhirnya tiba. Kami kembali ke Ternate dengan perjalanan sekitar enam jam. Tiga hari di Guraici meninggalkan banyak cerita: perjalanan panjang, long boat, keramahan warga, teras rumah, nelayan Lelei, metode ba lobe, dan mangrove yang baru ditanam.

Saya juga membawa pulang satu kesan tentang Guraici: keindahan alam saja tidak cukup untuk menjaga masa depan sebuah pulau. Yang membuatnya bertahan adalah manusia yang merawatnya.

Di Dorolamo, masa depan itu sedang ditanam—satu bibit mangrove, satu rumpun, dan satu kesadaran warga dalam satu waktu.


Kontributor artikel: Ralf Mumulati

Editor: Redaksi