Kisah Fahri dan Risal, Asa Pedagang Ikan Fufu yang Tak Padam di Pesisir Ternate

Fahri dan Risal saat mengasapi ikan fufu di pesisir Kelurahan Tafure, Kecamatan Ternate Utara, Kota Ternate. Foto: Eko/cermat

Titik balik dalam hidup kerap hadir dengan cara yang sunyi. Ia kerap datang lewat kegagalan, kerugian, bahkan rasa nyaris menyerah. Namun, justru dari sanalah arah baru sering kali ditemukan.

Bagi Fahri (35) dan Risal (38), dua sahabat asal Ternate, titik balik itu berawal dari bau ikan yang tak lagi segar, dari dagangan yang tak laku, dan dari modal kecil yang nyaris habis. Siapa sangka, keterdesakan itulah yang kelak menjadi fondasi lahirnya sebuah imperium kecil yang kini menopang hidup banyak orang.

Kisah ini bermula sekitar tahun 2014–2015. Dengan modal pas-pasan—masing-masing Rp 800.000, Fahri dan Risal mengadu nasib di dunia jual beli ikan. Total modal Rp 1,6 juta mereka pertaruhkan demi satu harapan: bertahan hidup dari laut yang selama ini memberi makan banyak orang di Ternate.

Setiap subuh, mereka menyambangi Pasar Dufa-Dufa, menunggu kapal nelayan bersandar. Ikan-ikan segar mereka beli lalu dijajakan ke wilayah-wilayah yang jauh dari pantai, dengan keyakinan bahwa masyarakat di sana akan lebih membutuhkan pasokan ikan. Cara berdagang mereka masih sangat konvensional, nyaris tanpa strategi selain mengandalkan tenaga dan harapan.

Namun realitas tak selalu sejalan dengan niat baik. Berjualan ikan mentah ternyata seperti menantang ombak. Dari 80 kilogram ikan yang mereka bawa, sering kali hanya sekitar 50 kilogram yang terjual. Sisanya perlahan rusak, tak lagi layak jual keesokan hari. “Kami sering pusing karena ikan tidak laku dan akhirnya rusak,” kenang Fahri, saat ditemui pada Ahad, 18 Januari 2026.

Kerugian demi kerugian membuat mereka goyah. Pada satu titik, keduanya memilih berhenti sejenak dan mencari pekerjaan lain.

Di tengah ekonomi yang melambat dan hidup yang terasa stagnan, sebuah ide sederhana justru muncul dari pengamatan sehari-hari: masyarakat Ternate rupanya lebih menyukai ikan bakar. Dari sanalah percakapan kecil itu terjadi. “Kenapa kita tidak menjual ikan fufu [ikan asap] saja? Daripada ikan mentah membusuk dan tidak terjual,” ucap Fahri. Kalimat sederhana, tapi menjadi awal perubahan besar.

Baca Juga:  Teluk Weda, Negeri Asri yang Kini Tergerus Tambang
Lapak ikan fufu milik Fahri dan Risal di pesisir Tafure, Ternate Utara. Foto: Eko/cermat

Mereka pun kembali, kali ini dengan bara api sebagai sekutu. Ikan-ikan segar diasap di atas susunan bata merah, dibakar dengan kayu bakar hingga matang dan hangat. Tanpa bumbu rumit, hanya dicelupkan ke air laut, ikan fufu itu disajikan apa adanya, siap disantap dengan dabu-dabu mentah dan sagu tumang. Lapak sederhana mereka berdiri di tepi pantai Kelurahan Tafure, strategis dan mudah dijangkau.

Kesederhanaan itulah yang justru menjadi kekuatan. Ikan fufu ukuran sedang dijual Rp 50.000, sementara ukuran besar Rp 70.000. Jika dagangan tak habis, kata Fahri, ikan akan dibagikan kepada anak yatim atau janda. Namun sejauh ini, hal itu baru sekali terjadi, sebab hampir setiap hari ikan mereka selalu habis terjual.

Keunikan lain yang membuat usaha ini cepat mencuri perhatian adalah waktu berjualannya. Saat kebanyakan penjual ikan asar baru membuka lapak menjelang siang, Fahri dan Risal sudah menyalakan bara sejak pagi. Konsumen pun rela mengantre demi mendapatkan ikan asap yang masih hangat, langsung dari panggangan.

Hanya dalam waktu enam bulan, usaha ini tumbuh pesat. Antrean semakin panjang, kapasitas pengasapan tak lagi mencukupi. Mereka membangun tempat pengasapan yang lebih besar dan membuka cabang baru. Bahkan, mereka berencana menambah titik penjualan lagi menjelang Ramadan demi melayani pelanggan dengan lebih baik.

Di balik keberhasilan itu, terselip harapan sederhana kepada pemerintah kota: penyediaan lokasi yang lebih aman dan nyaman. Lapak mereka saat ini terlalu dekat dengan jalan utama, kerap mengganggu arus lalu lintas. Bagi Fahri dan Risal, tempat yang lebih strategis bukan soal gengsi, melainkan kenyamanan bersama.

Kini, dapur pengasapan mereka mampu mengolah rata-rata 50 kilogram ikan per hari. Manajemen usaha dijalankan secara transparan. Pendapatan harian dipotong untuk biaya operasional—pembelian ikan segar, es batu, kayu bakar, transportasi, hingga perawatan mobil pengangkut. Keuntungan bersih kemudian dibagi rata di antara mereka berdua.

Baca Juga:  Belasan ASN Pemkot Ternate Ajukan Permohonan Pensiun Dini

Tak berhenti di situ, Fahri dan Risal juga merangkul pemuda setempat untuk membantu operasional. Para “anak bujang” ini diberi upah harian sekitar Rp50.000 atau sekadar uang rokok—sebuah bentuk kecil pemberdayaan sosial agar anak muda di sekitar mereka memiliki aktivitas yang produktif.

Tantangan terbesar usaha ini bukanlah persaingan, melainkan alam. Saat musim “bulan terang”, nelayan jarang melaut dan stok ikan menipis. Namun pengalaman telah mengajarkan mereka cara bertahan. Kini, mereka menyiapkan stok cadangan hingga 200 kilogram ikan dalam boks es, cukup untuk kebutuhan dua hingga tiga hari ke depan.

Kisah Fahri dan Risal adalah pengingat bahwa inovasi sering lahir dari keterbatasan. Dari upaya “menyelamatkan” ikan yang tak laku, mereka berhasil menciptakan penghidupan, membuka lapangan kerja, dan menjadi denyut kecil yang menghidupkan ekonomi pesisir Ternate. Dari bara api sederhana, mereka menyalakan asa, dan membiarkannya terus menyala.

Penulis: Eko Pujianto K. SahibEditor: Ghalim Umabaihi