Om Taken dan Sunyi Hol Sulamadaha: Keteguhan Hidup di Tepi Pantai

Om Taken, penjaga warung sederhana pantai Sulamadaha, Ternate Barat, saat sedang mempersiapkan pesanan pelanggan. Foto: Eko/cermat

Dalam keheningan yang bening, debur air laut di hol (teluk) Sulamadaha membasuh ketenangan yang tulus. Pantai ini menjadi saksi bisu kegigihan Om Taken (45), seorang pria paruh baya yang setiap hari menyapa pengunjung dengan senyum ramah dari balik warung sederhananya. Keringat yang jatuh dari tubuhnya adalah potret nyata perjuangan warga lokal yang menggantungkan nasib di sektor pariwisata.

Om Taken merupakan perantau asal Morotai, lahir pada 1980. Demi mengais penghidupan, ia memilih merantau ke Ternate sejak akhir tahun 2000. Sebelum menjaga warung di bibir pantai, ia sempat menggeluti profesi sebagai penjual ikan. Namun karena usia yang tak lagi muda dan kondisi fisik yang sering mengeluh, Taken mengambil alih usaha milik kakak iparnya dan menetap sebagai penjaga warung di kawasan wisata Kelurahan Sulamadaha, Kecamatan Ternate Barat, Kota Ternate.

Setiap hari, sejak pukul tujuh pagi, Om Taken sudah membuka warungnya. Menu yang ia sajikan sederhana namun mengenyangkan: mi instan goreng atau kuah, pisang goreng, kelapa muda, kopi hitam, serta aneka minuman saset.

“Dari semua pilihan itu, mi instan menjadi menu favorit para pengunjung. Harganya terjangkau seperti warung wisata pada umumnya, antara Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu,” kata Om Taken, saat ditemui cermat, Minggu, 11 Januari 2026.

Tak hanya menjual makanan dan minuman, Om Taken juga menyediakan tiga perahu sampan kecil. Perahu itu kerap disewa wisatawan untuk memancing atau sekadar berkeliling menikmati keindahan perairan hol Sulamadaha yang jernih. Ia memiliki pelanggan setia yang rutin menggunakan jasa tersebut.

Warung biasanya ia tutup pada pukul delapan malam. Namun, jika masih ada pengunjung yang asyik menyeruput kopi dan menikmati suasana pantai, Om Taken dengan sabar memilih bertahan. Tak jarang ia baru pulang ke rumah sekitar pukul sepuluh malam, demi menjaga kenyamanan para tamunya.

Baca Juga:  Merana di Tengah Kelimpahan Emas: Warga Kusubibi Harus Angkut Air Bersih di Sungai

Pendapatannya tak selalu sama. Saat pantai ramai, terutama di momen besar seperti perayaan tahun baru, penghasilan Om Taken bisa melonjak drastis.

“Kalau rame seperti tahun baru kemarin, pendapatan torang bisa sampai empat juta dalam satu hari,” kenangnya dengan nada syukur.

Namun, realita pahit juga tak bisa dihindari. Cuaca buruk menjadi musuh utama. “Kalau hujan berturut-turut seperti kemarin itu, memang sepi sekali, bahkan tidak ada pelanggan. Kalau hari biasa, torang bisa dapat tiga ratus sampai empat ratus ribu sehari,” ujarnya.

Kondisi pantai Hol Sulamadaha di siang hari. Di samping kiri pantai itu, terdapat warung milik Om Taken. Foto: Eko/cermat

Ia bilang, pantai di teluk Sulamadaha juga pernah disinggahi wisatawan mancanegara. Beberapa dari mereka sempat mampir dan beristirahat di warung sederhana milik Om Taken, menambah cerita dan harapan tentang potensi wisata daerah ini.

Di balik senyum ramahnya, tersimpan harapan besar. Om Taken merasakan bahwa hol Sulamadaha kini tak seramai dulu. Salah satu penyebabnya adalah akses jalan yang sulit. Jalur menurun menuju pantai cukup menantang, terutama bagi pengunjung lansia atau mereka yang memiliki keterbatasan fisik.

Ia pun mengenang janji pemerintah kota sejak periode pertama, tentang rencana perbaikan jalan alternatif di belakang warung yang tembus ke pintu masuk utama pantai.

“Ada jalan di dara belakang sini, kondisinya tinggal diaspal saja. Tapi sekarang sudah tertutup rumput liar,” keluhnya.

Menurut Om Taken, proyek tersebut seakan hanya muncul saat musim politik, lalu terlupakan setelahnya.

Padahal, akses jalan yang layak sangat krusial bagi keberlangsungan pariwisata. Jika kendaraan bisa langsung masuk, ia yakin jumlah pengunjung akan meningkat, terutama lansia dan keluarga, seperti yang terjadi di kawasan wisata Jiko.

Om Taken adalah bukti bahwa pariwisata daerah tak semata soal panorama indah dan air laut yang jernih. Lebih dari itu, pariwisata adalah tentang manusia, tentang para pelaku usaha kecil yang menggantungkan hidupnya di setiap jengkal pasir dan ombak pantai.

Penulis: Eko Pujianto K. SahibEditor: Ghalim Umabaihi