Hamparan sawah yang membentang di Kecamatan Wasile Timur menjadi saksi harapan baru bagi para petani setempat. Sebagai salah satu wilayah yang menyandang status lumbung pangan di Maluku Utara, kepastian ketersediaan air menjadi urat nadi utama untuk mendongkrak hasil panen.
Menjawab kebutuhan tersebut, Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku Utara bergerak cepat dengan menggelar Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dan Pakta Integritas Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) Tahun Anggaran 2026. Agenda krusial ini dipusatkan di Kantor Desa Sidomulyo, Kabupaten Halmahera Timur, pada Jumat, 19 Juni 2026.
Langkah ini menjadi pijakan awal untuk memastikan seluruh tahapan program berjalan secara transparan, akuntabel, dan memberikan dampak instan bagi kesejahteraan petani.
Jaga Komitmen, BWS Malut Wanti-Wanti Masalah Hukum
Acara resmi ini dibuka langsung oleh Kepala Satuan Kerja Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air (Satker OP SDA) BWS Maluku Utara, Reynaldo V. M. Dalam arahannya, Reynaldo meneruskan pesan kuat dari pembina pusat terkait krusialnya aspek integritas dalam eksekusi proyek P3-TGAI.
Menurutnya, proyek irigasi bukan sekadar urusan semen dan batu, melainkan tentang merawat kepercayaan (trust) antara pemerintah dan masyarakat.
“Kami berharap pelaksanaan P3-TGAI di Maluku Utara dapat terhindar dari berbagai persoalan hukum. Untuk itu diperlukan komitmen bersama agar setiap tahapan kegiatan dilaksanakan sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku,” tegas Reynaldo.
Penandatanganan PKS dan Pakta Integritas ini menjadi simbol kuat bahwa setiap rupiah anggaran negara yang mengalir harus benar-benar dikonversi menjadi manfaat konkret bagi produktivitas sawah warga.
Petani Jadi Aktor Utama Lewat Sistem Swakelola
Salah satu poin penting dari program P3-TGAI ini adalah penempatan masyarakat yang tergabung dalam Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) sebagai aktor utama. Mereka tidak hanya menonton, melainkan mengelola langsung proyek tersebut dari awal hingga akhir.
Skema Pengelolaan Infrastruktur P3-TGAI:
Perencanaan & Pembangunan: Melibatkan partisipasi aktif dan gotong royong anggota P3A.
Serah Terima: Setelah rampung, sarana irigasi diserahkan sepenuhnya kepada kelompok tani.
Pemanfaatan & Perawatan: P3A bertanggung jawab menjaga keberlanjutan fungsi saluran air secara jangka panjang.
Melalui skema ini, rasa memiliki (sense of ownership) dari masyarakat diharapkan mengakar kuat, sehingga fasilitas irigasi bisa awet hingga generasi berikutnya.
Tekankan Kualitas: Material Wajib dari Distributor Resmi
Di sisi teknis, PPK OP SDA I, Ir. Ruslan Rizal, memberikan rambu-rambu tegas mengenai pengadaan material bangunan. Ia mengingatkan agar kualitas fisik bangunan tidak dikorbankan hanya demi mencari harga murah.
Untuk memastikan spesifikasi bangunan sesuai standar baku, Ruslan menyarankan langkah preventif dalam belanja bahan baku struktural.
Rekomendasi: Pembelian bahan bangunan utama (seperti semen, besi, dll) wajib melalui supplier atau distributor resmi.
Tujuan: Meminimalisir risiko penipuan spesifikasi materi dan menjaga keamanan struktur bangunan irigasi.
Dengan berjalannya program P3-TGAI yang mengedepankan transparansi dan gotong royong ini, infrastruktur pertanian di Halmahera Timur bersiap naik kelas. Di tengah tantangan ketahanan pangan global, setiap jengkal saluran air yang dibangun di Wasile Timur kini menjadi urat nadi harapan demi masa depan pertanian Maluku Utara yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
