Sastra  

Gapolida; Pulau Hiri, Bahasa & Mantra

Oleh: Ramdan Sahib


PERTEMUAN pertama saya dengan WDGafoer tidak terjadi secara langsung, melainkan lewat remah-remah kabar di media sosial, saat buku antologi puisi yang berjudul Gapolida resmi diluncurkan. Karakter soft spoken yang mencolok itu langsung memasung perhatian saya saat bertatap muka dengan penulis. Namun agak menggelitik ketika saya menyebut penulis dengan karakter tersebut, melalui gaya bahasa dan ketenangan penulis seakan-akan menjadi jembatan untuk saya memahami lebih dalam Gapolida.

Bagi saya, antologi puisi ini merupakan mozaik yang cukup indah yang menautkan saya dari beberapa tools, bahasa, mantra, tentang keluarga, dan alam dalam satu rangkaian puisi yang utuh dari WDGafoer. Banyak orang mengira Gapolida (hanyalah) puisi bilingual saja, yang menggunakan bahasa Ternate dan Indonesia. Padahal bagi WDGafoer, Gapolida sendiri dipahami sebagai imajinasi yang lahir dari mantra-mantra (baharu: Ternate) para nelayan di pulau Hiri, selain dari pada itu Gapolida sendiri lahir dari genre surealisme yang dipengaruhi oleh subconscious (alam bawa sadar) manusia.

Larik-larik dan ciri pada ketajaman bahasa WDGafoer menujukan kepekaan terhadap kontemplasi dan spiritual. Di pena sang penulis, kata terasa hidup dan menjanjikan – perpaduan antara kata, ikan, dan bayi. Melalui genre surealisme, WDGafoer menegaskan dirinya sebagai sastrawan pesisir dengan kebebasan dunia sastra dalam Gapolida. Karya ini terasa unik karena memperlihatkan kepedualiannya terhadap masyarakat pesisir tanpa terpaku pada satu penggunaan bahasa baku saja.

Baca Juga:  Buku dan Kutu-Kutu Buku

Lembar-lembaran Gapolida juga merupakan manifestasi perjalanan WDGafoer di Pulau Hiri, yang mulai meraba kehidupan sosio-kebudayaan masyarakat pesisir. Gapolida juga merupakan sebuah terminologi yang lahir dari mantra masyarakat pesisir; terdiri dari dua suku kata Gapo dan Lida, yang memiliki arti ikan gapo sementara lida adalah sebutan bahasa melayu Ternate. Terheran-heran jika saya mencoba memahami istilah tersebut secara figurative; begitulah mantra jika dia bekerja! Seperti kata sahabat WDGafoer, Judulnya saja sudah seperti mantra yang dibisikkan leluhur: Gapolida—sebuah kata yang, menurut saya, tidak bisa ditulis tanpa menggigil sedikit.

Jacqueline D. Woolley dan kawan-kawan dalam Where Theories of Mind Meet Megic, menjelaskan bahwa; bahasa mantra, jika kita mencoba untuk mencermati umumnya bernarasi esoteric, sukar dipahami, bahkan mungkin tidak punya arti secara nominal, namun pada bagian terpenting dari bahasa mantra bukanlah pada dapat atau tidaknya dipahami tetapi lebih pada sisi kemanjuranya. Jika saya coba memahami lebih dalam Gapolida memang sangat menggelitik, seperti beberapa puisi WDGafoer dalam Gapolida yang berciri mantra dan kepercayaan yang dibuat turun temurun.

Bisikan Mantra

WDGafoer seakan-akan membawa saya pada masyarakat tradisional yang sakral pada pesan leluhur, serta hangat tumbuh pada ekspresi tulus, menyapa seraya keluarga ataupun sahabat. Mereka mengingat pesan leluhur sebagai memori kolektif seperti pada nilai-nilai kebudayaan yang terdapat pada masyarakat adat Ternate atau biasa disebut dengan kie se gam magugu matiti tomdi—begitulah saya memahami, seperti pada puisi Sebab Mantra di bawah ini:

Baca Juga:  4 Puisi M Wahib Sahie

Sejak kapan kau mencintai mantra atau mantra mencintaimu.

Mencintai kata. Mencintai adalah sungut jiwa-jiwa kerling.

yang meruap dari kedalaman jantung ibu.

Meraup pertemuan benih-benih suci;

aksara yang tumbuh di ladang subur hati para pecinta.

Pada waktunya. Para pelancong pergi meniti arus,

gelombang pasang menendang jejak kaki mereka

menuju neraka yang dibenci manusia.

(Sebab Mantra, Hal. 10)

Sebagaimana manusia pada umumnya yang menjalani rutinitas demi mempertahankan kehidupan, masyarakat tradisional pun bergulat dengan alam melalui aktivitas sehari-hari. Mereka mengolah ladang menggunakan peralatan sederhana yang diwariskan secara turun-temurun dan melaut dengan perahu sampan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dalam keseharian itu, mereka harus berhadapan dengan terik matahari yang menyengat, hempasan ombak, tiupan angin barat, serta cuaca ekstrem yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan di Pulau Hiri. Lanskap kehidupan tersebut tidak hanya hadir sebagai realitas sosial, tetapi juga menjelma menjadi citraan puitik yang terekam dalam bait-bait puisi berikut.

Baca Juga:  Kalau Kau ke Halmahera

Halaman-halaman yang memanjangkan sebab mantra beroleh puja—

mencipta gunung, mereka-reka air, mencium api, memadatkan angin,

mengunyah tanah, sehingga anasir-anasir itu terpasung dalam sejarah—

orang-orang dahulu telah menyembah kata,

meringkusnya ke dalam lubuk hati…

(Sebab Mantra, Hal. 10)

 Tanpa berangkat dari mantra ataupun sosok ibu sebagai penutur pertama, pembaca diajak menyelami jejak benih-benih kesucian yang tumbuh dari rasa ingin tahu. Puisi ini menghadirkan kisah tentang para leluhur yang hidup dan berkembang dalam masyarakat tradisional, sekaligus menghidupkan kembali ingatan kolektif yang diwariskan dari generasi ke generasi. Pengetahuan yang tersimpan dalam catatan-catatan tua dipandang sebagai warisan sakral yang memuat doa, tata aturan, serta pesan-pesan moral. Melalui warisan tersebut, para leluhur tidak hanya meninggalkan jejak sejarah, tetapi juga mewariskan nilai-nilai kehidupan yang terus menjadi pedoman bagi generasi penerus.

Saya sendiri memiliki semacam core memory—cerita masa lalu saya mengenai ikan gapo atau pada masyarakat pesisir di kampung saya biasa menyebutnya ikan tete dalo. Menurut mitos setempat, jika kita ingin berlari cepat, kita harus menyeka telapak kaki dengan ikan tersebut. Praktik soal kepercayaan pada masyarakat tradisional acap kita temukan di setiap daerah, sama halnya soal mantra yang terdapat pada masyarakat pulau hiri mengenai mantra ikan gapo. Masyarakat pulau hiri dalam aktifitas melaut mereka sering kali melakukan nyanyian mantra ikan gapo, adapun melalui mantra tersebut dengan harapan dapat meraup banyak ikan saat memancing. Imaji itu melintas setelah membaca dengan pelan bait-bait berikut:

Baca Juga:  Tiga Puisi Pilihan Sultan Musa

Gapo ma ete supu oho ngori nai…

di telapak tanganku, tergaris sebuah jalan berliku!

Nama itu berdiri, seperti bertanya,

berseru-seru girang padaku, Turun-turunlah kau perlahan di jalan lurus itu,

 pintanya  Bunyi ombak ‘kan menjemput geliat tanyamu

melalui kulit-kulit karang Lihatlah di atasnya,

berloncatan lida ikan-ikan—Gapo namanya kata ayah—

Lida ikan meraih-raih udara dan percik ombak

dan nafasnya di dua alam

(Gapolida, Hal. 35).

Apa yang Surialis di Sini?

Saya cukup tercengang setelah pertemuan pertama dengan karya-karya penyair ini. Sebagai pembaca yang tidak tumbuh dari lingkungan kesusastraan dan belum memiliki pemahaman yang mendalam tentang dunia puisi, pengalaman membaca Gapolida menjadi tantangan tersendiri. Terlebih lagi, buku ini banyak bergerak dalam lanskap surealisme yang menuntut pembaca untuk tidak sekadar memahami kata-kata, tetapi juga memasuki ruang imaji, simbol, dan lapisan makna yang kerap tidak hadir secara langsung. Bagi saya, hal itu tentu tidak mudah.

Pengalaman tersebut berbeda dengan kebiasaan saya sebagai anak muda yang akrab dengan puisi-puisi yang sering muncul di beranda media sosial—puisi romantisme, heroik, atau bertema budaya yang lebih lugas dan mudah ditangkap maknanya. Dalam puisi-puisi semacam itu, saya dapat segera menemukan kisah tentang cinta, keberanian para sultan, atau semangat perlawanan yang diwujudkan melalui simbol-simbol budaya seperti cakalele. Sementara Gapolida mengajak saya melangkah lebih jauh: tidak hanya membaca, tetapi juga menafsirkan, merasakan, dan berkali-kali kembali pada larik yang sama untuk menemukan makna yang tersembunyi di baliknya.Jika surealis dipahami sebagai gerakan seni yang muncul di tengah Perang Dunia I di Zurich pada tahun 1916, sebagai perasaan di antara para pendukung Dada bahwa pemikiran linier tidak membawa masyarakat yang lebih baik—tanpa menutup kemungkinan yang lain, saya  memahami Gapolida sebagai sebuah keresahan dari WDGafoer yang membingkai puisi dua bahasa ini dalam surealisme masyarakat pesisir di Pulau Hiri seperti yang tuturkan pada kalimat-kalimat berima berikut.

Kau patahkan hatimu, kau patahkan segala sebab sembilu, kau tulis neraka meski tersakiti, pada patahan ataupun kontras di penghujung Malefo Toma Mari Salampuga, sebab cintamu berkalung kata; kau hanya jelata yang menulis di atas tanah… dan kau merdeka.

Baca Juga:  Putri Malu-Ku

Mengutip Ginger Ayla dalam Exploring the Surreal in Contemporary Poetry, “Banyak puisi berada di wilayah abu-abu antara ranah spekulatif dan realitas. Cara seorang penyair menyeimbangkan aspek-aspek ini dapat berdampak signifikan terhadap efek puisi tersebut bagi pembaca”. Lebih jauh, untuk memahami karakteristik Gapolida kita di haruskan untuk memasuki alur pikiran penulis dari aspek-aspek yang mendasari puisi ini dengan berbagai macam kontras.

Dalam kesusastraan, khususnya dalam puisi, secara formal keberadaan surealisme dimotori oleh Andre Breton. Kian kokoh kedudukan surealisme sebagai aliran seni karena pengaruh psikoanalisis Sigmund Freud, seperti penggunaan teknik “arus kesadaran” yang berkaitan dengan ide Sigmund Freud mengenai mimpi, fantasi, asosiasi bebas, dan transformasi.

Bukan semata nyanyian leluhur yang menjelma mantra dalam setiap tutur masyarakat pesisir. Membaca Gapolida dengan perangkat makna yang terlalu konvensional justru akan menyesatkan pembaca, seolah-olah realitas di dalamnya dapat ditundukkan oleh penafsiran yang serba pasti. Padahal, Gapolida membangun dunianya sendiri—sebuah realitas yang menghipnotis, menggoyahkan batas antara yang nyata dan yang imajinatif. Di hadapan puisi-puisinya, pembaca dituntut bersikap layaknya seorang penafsir mimpi: peka terhadap setiap kata, cermat membaca setiap kalimat, dan menyadari bahwa di balik bahasa yang tampak sederhana tersimpan lapisan makna yang terus bergerak dan membuka kemungkinan tafsir.

Baca Juga:  Sehimpun Puisi M Wahib: Sang Pembual hingga Jejak Langkah Kota

di tengah sebuah halaman buku, dia nama, dia ikan, dia bayi, dia puisi… (Gapolida, Hal.35)

Pada patahan ini Gapolida terasosiasikan pada semacam transformasi kata, ikan, hingga keluarga. Untuk meraba jenis realisme tersebut penulis seperti ingin menitipkan sebuah harapan yang dibayang-bayangi rasa takut penulis pada kenyataan akan bentuk. Sebagaimana yang ia gambarkan sekilas pada larik ini:

Dalam beku ragaku, kupanggil-panggil tuhanku;

Pulau Hiri Bahasa Diri

Penyair seakan mengajak saya pulang melalui puisi “Menulis di Atas Mari Salampuga”. Pulang bukan sekadar menuju sebuah pulau, melainkan kembali ke ruang batin tempat kabut menggantung, bunga-bunga cengkih berguguran, dan ingatan menemukan rumahnya. Perjalanan itu dimulai ketika perahu merapat di dermaga, tepat sebelum awak kapal melemparkan tali tambat ke daratan. Di sana, beberapa anak muda dan para lelaki dewasa yang telah berkeluarga sigap menawarkan tumpangan ojek kepada para penumpang yang baru tiba. Begitulah Pulau Hiri menyambut siapa pun yang datang: dengan bentangan laut biru yang memeluk kaki pulau, rimbunnya dedaunan cengkih dan pala yang menghijau, serta denyut kehidupan yang berjalan tenang, jauh dari kebisingan kota. Di tempat seperti inilah penyair menghadirkan pengalaman puitik yang terasa begitu jujur. Imaji dan realitas saling berkelindan dalam nuansa surealisme yang membebaskan, tetapi tidak pernah kehilangan pijakan pada ketulusan rasa. Kebebasan yang ditawarkan WDGafoer bukanlah pelarian dari kenyataan, melainkan cara lain untuk memandang kehidupan melalui bahasa yang peka dan penuh penghayatan.

Pengalaman itu menemukan bentuknya secara utuh dalam larik-larik puisi yang menempatkan kabut Mari Salampuga bukan hanya sebagai lanskap alam, tetapi juga sebagai ruang perenungan. Di hadapan bunga-bunga cengkih yang berguguran, batu-batu purba, dan bayang-bayang mitos yang mengitari Pulau Hiri, penyair seolah sedang mengukur dirinya sendiri. Keputusasaan memang hadir dan terus dipuja sebagai bagian dari pergulatan batin, namun ia tidak pernah menjadi akhir perjalanan. Justru dari sana lahir kemerdekaan untuk terus membayangkan, menafsirkan, dan meraba denyut terdalam pulau yang berbatu itu. Cinta yang “berkalung kata” menjadikan aktivitas menulis sebagai tindakan yang melampaui kerja estetik; ia menjadi laku eksistensial seorang manusia biasa yang menjejakkan kata-katanya di atas tanah. Karena itu, kemerdekaan dalam puisi ini bukanlah sesuatu yang diberikan, melainkan sesuatu yang terus diperjuangkan melalui bahasa, ingatan, dan keberanian untuk tetap menulis.

Baca Juga:  WDGafoer, Penyair Pertama Asal Ternate Tampil di Makassar International Writers Festival

di tengah kabut yang turun dari Mari Salampuga,

kau duduk bertepian serakan bunga bunga cengkih yang jatuh pada entah malam kapan.

kau tatap utuh batu-batu purba di pulau itu,

menerobos sela bebayang mitos,

menaruhnya di relung timbangan jati dirimu,

tak urung kau menunduk-nunduk,

terus menerus memuja keputusasaan,

tapi kau merdeka dengan terus mereka-reka umpama,

meraba-raba hatipulau berbatu itu.

sebab cintamu berkalung kata;

kau hanya jelata yang menulis di atas tanah…

dan kau merdeka

(Menulis di Atas Batu Salampuga, Hal.7)

 Pulau berbatu dengan jalan-jalan berliku yang menyimpan kehangatan; itulah kesan yang saya tangkap ketika membaca puisi “Ceruk Tungku”. Penyair tidak hanya menghadirkan bentang geografis sebuah pulau, tetapi juga menghidupkan denyut keseharian orang-orang yang menetap di dalamnya. Jalan yang berkelok seolah menjadi metafora perjalanan hidup: tidak selalu mudah, penuh tanjakan dan tikungan, tetapi selalu mengantarkan pada perjumpaan-perjumpaan yang hangat. Batu-batu yang memenuhi lanskap bukan lagi lambang kekerasan alam, melainkan penanda keteguhan dan kesetiaan masyarakat dalam menjaga ruang hidupnya. Melalui puisi ini, WDGafoer memperlihatkan bahwa kehangatan sebuah tempat tidak lahir dari kemewahan atau keramaian, melainkan dari ingatan, kebersamaan, dan hubungan yang akrab antara manusia dengan tanah yang dipijaknya.

Di sebuah liku jalan menuju rumahmu yang beranjak malam bulan sepuluh.

Senja kuning tembaga membias di petang telinga

saat kau meniti satu demi satu tangga-tangga kuburan.

Tak urung kau menarik nafas panjang untuk mendoakan kematianmu.

 Tetapi, di seberang tatapmu, tuhan berdiri dalam nyanyian bisu,

memanggil kemenangan demi kemenangan dari jiwa-jiwa putih karena lelahnya;

menghijaukan kebun dan dapur dari kesunyian yang kian memanjang.

Kau berhenti sejenak, menangisi lutut dan ujung kakimu

dan amarah tersenyum di wajahmu.

 Sudahkah ikan, sepenanak nasi, sambal teri,

sambal kacang, sayur kangkung juga gelisah ayahmu

telah diramu di atas tungku? Kau membaca ibarat di ceruk telapak tanganmu.

Tak ingin tergesa-gesa mereka-reka ulang semesta

yang sedang disaru di atas kayu bakar.

 Karena kau telah percaya pada maha suci suara ibu

yang menjawab panggilanmu.

Angin berhembus, meniup debu-debu kayu di ceruk tungku.

(Ceruk Tungku, Hal. 16)

Baca Juga:  Akrostik Halmahera

Puisi ini membawa saya membayangkan kehidupan para orang tua yang dengan tenang menghadapi hal-hal di luar kuasa manusia: menerima keterbatasan, memaknai kematian sebagai bagian dari perjalanan hidup, dan menemukan ketenteraman di kehangatan dapur yang menyala di atas tungku. Ada kebijaksanaan yang lahir dari keseharian mereka, terutama ketika para tetua mempersiapkan diri menyongsong kematian sebagai ikhtiar menuju kedamaian spiritual. Nilai-nilai religius semacam ini masih berakar kuat dalam kehidupan sebagian masyarakat kita, diwariskan sebagai laku hidup, bukan sekadar nasihat. Di sisi lain, kehangatan dapur dan nyala tungku menjelma simbol keakraban keluarga dalam masyarakat tradisional—ruang tempat kasih sayang, percakapan, dan kebersamaan terus dipelihara. Dari ruang sederhana itulah penyair menghadirkan pemahaman bahwa rumah bukan hanya bangunan, melainkan tempat manusia belajar menerima kehidupan sekaligus merawat cinta hingga akhir perjalanan.

Hampir setahun lamanya WDGafoer menapaki hari-hari di Pulau Hiri, tepatnya di perbukitan Dorari Isa. Masa pengabdian yang dijalaninya bukan sekadar menuntaskan sebuah tugas, melainkan juga menjadi perjalanan batin untuk mengenali kembali makna pulang. Di pulau itu, ia seolah menemukan kehangatan yang lama hilang—serupa pelukan keluarga yang telah bertahun-tahun tak dijumpai. Hiri memberinya ketenangan, menghadirkan pagi-pagi yang hidup oleh riuh tawa anak-anak menuju sekolah, perahu-perahu nelayan yang berangkat menantang laut, serta sapaan hangat para petani yang melangkah ke kebun. Namun, di balik semua kedamaian itu, selalu ada ruang yang tak pernah benar-benar terisi. Sebab bagi WDGafoer, menemukan tempat untuk pulang bukan berarti mengakhiri kerinduan, melainkan belajar hidup bersama rindu yang terus bertumbuh.

dari tanah gembur, tanah lembut, tanah basah

sudah tiga rembulan dalam kalender leluhurmu;

tiga malam panjang, tiga bukit, tiga relung dada pengelana

sudahku meraba; kata-kata— di lengang bukit Dorari Isa

merayap di antara ombak yang akan selalu bertanya padanya;

ke mana pergi kaki-kaki di ujung jembatan sana?

ke mana? pertanyaan itu masih lengang,

membiru di ujung tanjung masih perawan

di tubir-tubir teluk dan lekuk tubuhmu;

Hiri— ke mana angin kan menghempaskanmu, seruku! 

percayalah! aku mencintaimu…

 (Hiri, Hal. 31)

Tabik!

Baca Juga:  Mengajak Tunas Muda di Malut Menulis Cerpen Berbahasa Daerah

*penulis merupakan pegiat Sastra & Pekerja Teks Bebas