Sastra  

Tiga Puisi Pilihan Sultan Musa

Foto: Sultan Musa

SENYUMAN TUA ( KABUT) PEMBISIK KARSA

Kabut itu mulai menyapa
membekap koar kata
membiaskan gelombang gema
menggambarkan tertangkap telinga

Kabut itu baru saja berkata
menjepit riuh nan lena
mengharapkan senyum jiwa
menyambut sirnanya lara

Wahai kabut teruslah menyangga
menyambut lembut sang suka
mengabaikan ragu sang duka
mewakili pembisik penuh karsa

Dan, ketahuilah tidak semua orang akan mengerti perjalanan kabut
mereka hanya tahu kau terus berjalan,
tapi tak merasakan seruanmu
“meski dari senyuman tua, selalu ada untuk selamanya”

PEREMPUAN BERSELIMUT KABUT

Walaupun kabut diam, namun selalu berbisik diantara remah dalam kesaksian
dan mengurai dalam ketenangan

Melihat luas samudera di kedalaman hati,
jauh nan memancarkan keteduhan
tak perlu dijawab, perempuan ini tahu
yang mana hati indah atau pun sebaliknya

Baca Juga:  Sehimpun Puisi M Wahib: Sang Pembual hingga Jejak Langkah Kota