Cuan: Dari Buku Pertama ke Buku Kedua

Zainuddin M Arie

Oleh Zainuddin M. Arie

 

HAJATAN peluncuran dua buku kembar karya Asghar Saleh, masing-masing “Momole Titik Nol Peradaban” dan “Humans of North Moluccas” (Jogya: Stiletto Book, 2024) di Convention Hall, Restoran Royal yang cukup bergengsi sore hingga saat buka puasa, yang dihadiri oleh para yatim piatu serta sejumlah kalangan, termasuk beberapa senator RI, memberi semacam gairah bagi kami, yang masih menapak tertatih dalam dunia kepenulisan serta beberapa penulis muda dari kalangan mahasiswa, pegiat literasi, ibu-ibu majelis taklim dan kalangan jurnalis di kota ini.

Gairah yang menggelegak tersulut oleh hajatan yang diawali dengan tabea oleh Sultan Tidore, Hi. Husain Syah dan kemudian dipanas-panaskan oleh Zainuddin M. Arie, seorang penyair, dalam puisi berjudul Lingon sore itu, menimbun mimpi dan harapan agar kelak dapat melahirkan karya hebat sebagaimana sejarah sore itu.

Mungkin terlalu tinggi khayalan ini, namun tentu saja tak terhukum haram bila bermimpi besar demi masa depan negeri, melalui karya-karya literatif, sebagaimana kedua buku yang dibahas oleh dua intelektual perempuan, Dr. Faidah Azus Sialana (Universitas Bosowa, Makassar) dan Prof. Syilvania Munir, seorang senator perempuan yang ditodong tiba-tiba sebelum sempat sejam duduk di kursinya.

Selepas maghrib, tak ada lagi acara diskusi, tetapi ruang itu masih ramai. Beberapa meja menjadi tempat ngerumpi hingga forum informal yang cukup serius dalam santai. Sepertinya orang-orang enggan meninggalkan ruang. Aroma kedua buku masih bersisa. Di luar ruang, tepatnya pada area parkir, saya bertemu dua mahasiswa, BurhanuddinDjamal dan Apdoni Tukang, keduanya mahasiswa yang pernah melahirkan beberapa buku (salah satunya saya memberi pengantar). Kelihatannya mereka gembira, selain bertemu saya, tentu karena bisa hadir pada kesempatan ini. Saat keduanya menyalami saya, saya memikirkan nasib perjalanan literasi dan penulis-penulis muda di kota ini.

Sebuah pertanyaan mengigit muncul sekonyong, apakah kedua penulis ini akan dapat terus melahirkan karya-karya, mengasah keterampilan hingga bisa setara atau mengikuti jejak penulis kedua buku yang dihelat sore ini? Saya terhenyak bukan pada bahaya nir spirit anak-anak muda ini, tetapi ada tantangan dan hantaman lain yang pernah menghadang keduanya saat akan menerbitkan buku-bukunya. Tentu contoh dua penulis ini cukup mewakili rekan-rekan penulis yang kaya gagasan dan bahasan tertulis tapi miskin cuan.
Burhanuddin Djamal terkatung-katung tak bisa menerbitkan karya “Tik Tok” nya cukup lama sebelum akhirnya bisa terbit. Apdoni harus merelakan biaya hidupnya demi meloloskan karya-karyanya ke penerbit.

Baca Juga:  Konfrontasi Munira Dari ‘Labirin’ Halmahera: Membaca Antologi Puisi WDG

Realitas ini perlu disikapi secara hati-hati agar tak menimbulkan korban. Ibarat pada suatu lahan perkebunan, maka penulis-penulis itu adalah kecambah yang muncul dan ada yang mulai berdaun. Tanaman-tanaman kecil ini butuh air. Di kebun negeri atau daerah ini bermunculan penulis muda yang butuh asupan dana, agar mereka tetap bergairah hidup dan memiliki ruang tumbuh. Bila mereka menjadi tumbuhan besar nantinya tentu negerilah yang akan memanen kekayaan sumber daya literatif sehingga kehadiran mereka hari ini penaka harapan esok.

Kehadiran penulis-penulis daerah yang mampu melahirkan berbagai karya tulis dalam berbagai bentuk dan genre (esay, sastra, dll) memang tak serta merta, atau tak semudah meneguk kopi di sudut caffee sambil menyendiri. Kehadiran pegulat pena, tinta dan kertas (PeTiKas) hingga menjelma buku ini memang butuh ikhtiar: niat, semangat, kerja, lingkungan dan cuan. Dan tak jarang mereka bekerja single figter mulai dari memburu ide, riset, menulis, mengedit kemudian saat mendekati tenggat masa penerbitan dialah sendiri yang menghubungi pakar atau tokoh agar mendapatkan kata pengantar sebagai legitimasi penguat buku.

Tak berhenti di situ, pegulat ini harus secara sendiri-sendiri kembali memburu cuan demi mendanai tiga atau empat tahapan lagi, yakni pencetakan, penerbitan, ongkir (yang sangat mahal) dan – bila mungkin – acara pengenalan buku dalam suatu hajat yang dihadiri sekian peminat dan penikmat.

Dari perjalanan pena, tinta dan kertas (PeTiKas) ini, bab niat, semangat dan kerja (menulis, mengetik, menyusun bagian-bagiannya) berada pada tanggungjawab sang pegulat PeTiKas. Sedangkan desain sampul (cover desighn), membuat pengantar, pencetakan, penerbitan hingga pengiriman dapat dikerjakan oleh pihak lain, yakni perancang sampul dan penerbit. Kemudian, urusan pembiayaan yang amat krtitis itu urusan penyandang dana.

Baca Juga:  Pariwisata dan Budaya Berbasis Ekologi

Menulis itu sebab akibat (baik menulis sebagai kegemaran atau menulis sebagai profesi). Tersebab Buku Pertama mengakibatkan lahirnya Buku Kedua. Buku kedua menjadi penyebab lahirnya buku-buku berikut (sebagai akibat) Artinya tak boleh berhenti. Soal jarak waktu antara Buku Pertama ke Buku Kedua, hingga buku seterusnya, tak perlu risau karena usia selalu memberimu waktu. Tantangan klasik (dan menjengkelkan) adalah biaya terbit dan tantangan internal (yang harus dirawat secara personal) dan tantangan berikutnya adalah semangat, yang mestinya didukung secara sosial.

Saat ini memiliki sejumlah dana (secara pribadi maupun bantuan eksternal, atau bantuan teman) sungguh suatu keberuntungan. Karena jumlah penulis yang siap melahirkan bukunya tak sebanding dengan jumlah dana yang tersedia, Kemudian kehadiran kelompok – kelompok literasi maupun pertemanan yang gandrung dan bergairah pada dunia kepenulisan sungguh suatu kondisi yang menguntungkan dalam upaya memelihara semangat menulis agar dapat terus berkarya.

Kehadiran penulis dan munculnya gairah menulis mestinya dilihat sebagai keberuntungan negeri/daerah karena negeri/daerah memiliki sumberdaya literatif (yang tentu tak mudah melahirkannya atau tak murah memilikinya) dapat menjadi salah satu indikator kewarasan dan kemajuan literasi di negeri/daerah itu. Kekurangan atau minimnya kondisi di atas dapat saja dipandang sebagai kekurangan pada keberadaan semangat dan wujud kehidupan literatif negeri/daerah itu. Oleh karenanya, para pihak – baik yang terlibat langsung secara riel teknis di lapangan maupun pihak yang memiliki otoritas yang dapat memengaruhi kehadiran para penulis perlu memberi perhatian, bantuan serta berbagai bantuan agar semangat, gairah serta harapan para penulis terus menghangat dan karya-karya tulis dapat terwujud. Semakin banyak penulis dapat lahir atau dilahirkan dalam suatu daerah (dengan segala ragam usaha, perjuangan dan dukungan berbagai pihak) akan merupakan kekayaan dan asset daerah itu. Tentu kita tak bisa membayangkan adanya suatu negeri/daerah yang tumbuh tanpa adanya kelahiran penulis yang bertugas mengabadikan dan mengenalkan negerinya dalam berbagai bentuk karya PeTiKasnya.

Baca Juga:  Kekerasan dan Wujud Eksploitasi Jurnalis

Bertemunya penulis dan penyandang dana memang harus terus diupayakan agar lahir dan tumbuhnya penulis dapat lebih signifikan. Ibarat bertemunya air dengan tanman pada lahan kekaryaan.

Dalam hal kerjasama antara penulis dan penyandang hendaknya tak menciderai martabat kedua belah pihak, sehingga penulis tak kehilangan idealisme dan penyandang dana tak dirugikan baik secar ekonomi maupun sosial. Tentunya diperlukan suatu rumusan praktis dalam relasi antara pena dan cuan.

Mungkin tak berlebihan, bila dibutuhkan pihak tertentu yang bekerja memburu cuan demi membiayai percetakan dan penerbitan buku, karya pekerja PeTiKas. Hal ini tentu saja dilakukan dengan kesadaran akan urgensi sebuah penerbitan buku dalam orientasi peradaban yang secara sempit berorieintasi pada penyebaran informasi, peningkatan intelektualitas, persembahan karya seni (sastra), dokumentasi realitas serta keperluan lainnya yang sangat berdampak pada pemajuan kebudayaan. Sudah saatnya muncul orang-orang yang mengorganisir diri menjadi suatu kelompok atau lembaga yang berperan aktif “menyelamatkan” karya-karya anak negeri, karya-karya penulis daerah yang selama ini tak bisa tumbuh, dan berbuah. Dengan demikian makan tanggung jawab penulis setelah menulis buku pertama, (tak) selesai, akan berlanjut pada buku kedua.
Besoknya, 1 April, di Magazen, Fort Oranje, saya dan Fadrie, menjamu Chaca Idha Azus dengan karya-karya seni rupa inspiratifnya milik Fadrie. Saat itu sarjana sosiologi, Dosen Universitas Bosowa yang sangat low profile ini berkata sungguh-sungguh kepada saya, “setelah penulis menerbitkan buku, sesungguhnya tugas penulis, belum selesai, karena masih ada tugas selanjutnya, yaitu melahirkan tulisan selanjutnya, menerbitkan buku berikutnya”.

Sungguh, saya sangat bergairah dan sekaligus terhenyak, karena kami mungkin bisa menuliskan ribuan kata, tapi belum tentu mampu menggambar selembar rupiah.

(Toboleu, 02/04/2024. pukul 7:23)