Kisah Hadi Salawati, Sang Penjahit Harapan di Trotoar

Hadi Salawati (53), tukang sol sepatu di kawasan Gamalama Kota Ternate. Foto: Eko Pujianto/cermat

Tangan Hadi Salawati, 53 tahun, tampak cekatan menjahit bagian sol sepatu di pangkuannya. Sejak delapan tahun belakang, Hadi mengaku terus mangkal di trotoar kompleks Gamalama, Ternate Tengah, Kota Ternate, sebagai tukang sol sepatu.

Pria asal Makeang, Halmahera Selatan tersebut mengaku kini menggantungkan hidupnya dari setiap jengkal jahitan sepatu warga di Ternate.

Mulanya, menjadi tukang sol sepatu bukan cita-cita Hadi. Jauh sebelum akrab dengan aroma lem dan benang, dia adalah seorang tukang bangunan.

Baca Juga:  Dilema Gen Z di Maluku Utara, Antara Kuliah atau Jadi Buruh Tambang

Namun begitu, kondisi ekonomi serta minimnya proyek membuat dia harus memutar otak agar dapur tetap mengepul.

“Saya lihat keadaan di rumah tidak ada kerja, terpaksa saya belajar. Belajarnya juga dari mertua,” kenang Hadi, sesekali menyeka keringat di wajahnya.

Proses belajarnya tidak instan. Di awal masa merintis, jari-jemari Hadi seringkali menjadi korban tusukan jarum sol yang tajam.

“Dulu tangan sering tertusuk, sakit sekali. Tapi dari situ saya belajar bagaimana memegang jarum yang benar agar tidak kena tangan lagi,” tuturnya saat disambangu cermat, Januari 2026.

Baca Juga:  Bertahun-tahun Bangunan SMP di Morotai Ini Tidak Difungsikan

Bagi Hadi, menyol sepatu bukan sekadar menyambung bagian yang lepas. Ada seni dan teknik yang ia pegang teguh demi kepuasan pelanggan. Salah satu rahasianya adalah kesabaran dalam proses pengeleman.

Sebelum dijahit, sepatu harus diolesi lem, biasanya jenis Fox atau Castol lalu dibiarkan selama kurang lebih 30 menit hingga setengah kering. “Jangan langsung ditempel. Tunggu dia agak kering, baru tempel dan jahit. Itu yang bikin dia kuat, apalagi kalau sering kena air,” jelasnya memberikan tips.

Hadi juga memberikan peringatan keras bagi pemilik sepatu untuk menghindari lem instan atau yang populer disebut ‘lem korea’. “Jangan pakai lem itu, dia panas. Bahan sepatu bisa hancur atau terkelupas kalau kena lem begitu,” tegasnya.

Setiap hari, dari pukul 08.00 hingga 20.00 WIT, Hadi setia menunggu pelanggan. Pelanggannya datang dari berbagai kalangan, mulai dari anak muda, pegawai kantoran, hingga anggota TNI dan Polri yang mempercayakan sepatu dinas mereka dijahit olehnya.

Baca Juga:  Jejak Kolonialisme di Negeri Rempah

Ia menyebut, saat ini tarif jasa sol sepatu dipato Rp35.000 per pasang, sebelumnya Rp25.000. Dalam sehari, ia bisa membawa pulang Rp100.000, bahkan hingga Rp300.000 jika kondisi sedang ramai.

Momen paling sibuk bagi Hadi adalah menjelang hari raya seperti Lebaran atau Tahun Baru. Di saat orang lain bersiap merayakan pesta, Hadi justru bisa bekerja hingga pukul 02.00 dini hari demi menyelesaikan tumpukan sepatu yang ditinggal pemiliknya.

“Kadang ada sepatu yang ditinggal seminggu, bahkan ada yang sampai lupa diambil sama sekali oleh pemiliknya,” katanya sambil tertawa kecil.

Dari setiap tetes keringat dan tusukan jarumnya, Hadi berhasil menjalankan perannya sebagai kepala keluarga. Empat orang anaknya menjadi saksi bisu perjuangan sang ayah di trotoar.

Baca Juga:  Tumbuhan Sambiloto, Obat Tradisional Orang Maluku Utara

Kini, kebahagiaan Hadi kian lengkap. Anak laki-lakinya telah berkeluarga, dan dalam waktu dekat, putri tercintanya pun akan segera menyusul ke pelaminan.

Meskipun hanya dari jasa sol sepatu, Hadi membuktikan bahwa ketekunan dan kejujuran dalam bekerja mampu menjahit masa depan yang cerah bagi keluarganya.

Bagi Hadi, selama orang masih berjalan dengan sepatu, harapan itu akan selalu ada di ujung jarumnya.