Kolonialisme di Ternate

Pintu depan Benteng Oranje yang menghadap ke laut. Sebelumnya, Benteng ini bernama Benteng Malayo yang dibangun oleh Portugis. Hingga pada tahun 1607, Laksamana VOC Cornelis Matelieff de Jong, utusan Belanda itu, berhasil mengusir Spanyol dari Ternate. Setelah mengalahkan Spanyol, Matelieff kemudian membangun Benteng di atas lokasi Benteng Malayo. Foto: Faris Bobero/cermat

Angin laut berhembus. Wangi cengkeh (Syzygium aromaticum), pala (Myristica- fragrans), dan kayu manis berpadu. Saat itu senja beranjak turun. Sembari duduk di bawah pohon, setelah keliling Ternate sambil memotret benteng-benteng peninggalan kolonial.

 Aroma rempah ini, pada abad ke-16 mendatangkan bangsa Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda ke Nusantara. Christopher Columbus bahkan terdorong menjelajahi separuh dunia untuk berburu rempah hingga akhirnya tersasar ke benua Amerika yang dikiranya Hindia tempat asal bumbu.

Hingga abad pertengahan, cengkeh dan pala menjadi rempah yang paling diburu karena harganya lebih tinggi dibandingkan emas. Cengkeh dan pala saat itu digunakan sebagai penyedap aneka masakan, wewangian, kosmetik, obat-obatan berbagai jenis penyakit, hingga ramuan perangsang birahi. (Jack Turner, Sejarah Rempah).

Baca Juga:  Turbulensi di Langit Makassar