Konfrontasi Munira Dari ‘Labirin’ Halmahera: Membaca Antologi Puisi WDG

Sebuah ilustrasi istimewa dari Pixabay.

*Oleh Hamdani Rais

 

PADA suatu waktu, di beranda malam yang getir namun penuh pesona. Yogyakarta mempertautkan kami dengan segudang wacana. Saya mengobrol dengan beberapa kawan di sudut kedai kopi. Dalam percakapan itu, tersiar kabar dari Wahyuddin D. Gafur, bahwa ia ingin menerbitkan buku antologi puisi. Saya terkejut, sekaligus kagum terhadap sikap, keberanian dan kesetiannya secara literer pada dunia kesusastraan lokal di Maluku Utara. Saya bertanya kepada Wahyuddin D. Gafur, perihal latar belakang dari puisi-puisi yang ia tulis, dengan santai ia menjawab ingin mengabadikan sosok perempuan yang memberinya asupan energi pada kehidupan, sehingga ia terguggah untuk menjinakkan subjek perempuan tersebut dengan kata.

Singkat cerita setelah percakapan itu, saya kemudian disodorkan buku puisi tersebut. Ketika membaca puisi yang ditulis dan disajikan oleh Wahyuddin D. Gafur—selanjutnya saya menyebut WDG—rasanya saya seperti memasuki suatu arena pengetahuan lokal dengan cara yang terlalu sumir. Begitulah sifat sebuah puisi. Dari sini, kemudian muncul pertanyaan dalam benak dan pikiran saya. Mengapa harus Munira? Apakah Munira merepresentasikan marwah keperempuanan lokal, dan tampil dalam fragmen realitas budaya di Maluku Utara melalui puisi-puisi WDG? Dua pertanyaan ini akan saya gunakan sebagai cara untuk membaca puisi yang berlatar lokal yang ditulis WDG.

Baca Juga:  Jalan Panjang Membangun Ternate