Konfrontasi Munira Dari ‘Labirin’ Halmahera: Membaca Antologi Puisi WDG

Sebuah ilustrasi istimewa dari Pixabay.

*Oleh Hamdani Rais

 

PADA suatu waktu, di beranda malam yang getir namun penuh pesona. Yogyakarta mempertautkan kami dengan segudang wacana. Saya mengobrol dengan beberapa kawan di sudut kedai kopi. Dalam percakapan itu, tersiar kabar dari Wahyuddin D. Gafur, bahwa ia ingin menerbitkan buku antologi puisi. Saya terkejut, sekaligus kagum terhadap sikap, keberanian dan kesetiannya secara literer pada dunia kesusastraan lokal di Maluku Utara. Saya bertanya kepada Wahyuddin D. Gafur, perihal latar belakang dari puisi-puisi yang ia tulis, dengan santai ia menjawab ingin mengabadikan sosok perempuan yang memberinya asupan energi pada kehidupan, sehingga ia terguggah untuk menjinakkan subjek perempuan tersebut dengan kata.

Singkat cerita setelah percakapan itu, saya kemudian disodorkan buku puisi tersebut. Ketika membaca puisi yang ditulis dan disajikan oleh Wahyuddin D. Gafur—selanjutnya saya menyebut WDG—rasanya saya seperti memasuki suatu arena pengetahuan lokal dengan cara yang terlalu sumir. Begitulah sifat sebuah puisi. Dari sini, kemudian muncul pertanyaan dalam benak dan pikiran saya. Mengapa harus Munira? Apakah Munira merepresentasikan marwah keperempuanan lokal, dan tampil dalam fragmen realitas budaya di Maluku Utara melalui puisi-puisi WDG? Dua pertanyaan ini akan saya gunakan sebagai cara untuk membaca puisi yang berlatar lokal yang ditulis WDG.

Pertanyaan di atas, mensyaratkan dua kata kunci, yang pertama adalah perempuan dan yang kedua realitas sosio-budaya. Konsep perempuan itu sendiri tidak saja terbatas sebagai oposisi biner dalam (gender equality) akan tetapi juga sebagai subjek yang memiliki jangkauan agensi. Sedangkan realitas sosial budaya adalah struktur yang memungkinkan seseorang bertindak atas perintah atau resep kebudayaan dominan.

Baca Juga:  Menyoal Pemberhentian Hakim Mahkamah Konstitusi

Munira adalah subjek aktif yang berupaya melakukan sebuah konfrontasi. Dalam bayangan WDG yang hendak dikemas dalam budaya patriarki yang terlalu purba dalam sistem kekerabatan kita. Subjek Munira hadir sebagai sosok perempuan yang memiliki otonomi pada dirinya. WDG mencoba meletakkan Munira sebagai sosok yang melakukan konfrontasi atau dengan kata lain sebuah gerakan menaik (vertikal), untuk keluar dari jebakan kultural. Akan tetapi, pada saat yang sama struktur sosial tidak memungkinkan Munira berdiri di ‘pinggiran’. Meminjam bahasa Anthony Giddens, seorang Individu tidak dapat bergerak secara sendiri dan terpisah tanpa ada dorongan struktur sosial atau resep kebudayaan (Giddens, 2010). Munira sebagai individu yang otonom, mencoba memanfaatkan kapasitas agensinya untuk memberi harapan pada kehidupan yang ia inginkan demi cita-cita dan cintanya.

Apakah Munira selalu merepresentasikan marwah keperempuanan lokal, dan tampil dalam fragmen realitas budaya di Maluku Utara. Saya pikir bisa iya, bisa tidak. Munira berada di antara fragmen realitas tersebut. Sebab struktur sosial masyarakat di Maluku utara masih memberi peluang pada setiap individu untuk berkembang dan menemukan jalannya sendiri baik laki-laki maupun perempuan. Gender, tidak menjadi mekanisme pembatas untuk mengekang sebuah pencapaian historis.

Membaca Puisi Munira di Antara Teks dan Konteks

Saya merujuk pada catatan yang diulas oleh (Ahimsa-putra 2012, 31:32) yang mengikuti pandangan dari seorang bengawan Antropologi Struktural Levi-Strauss, yang secara implisit menganggap teks naratif bahkan piranti puitik, sejajar atau mirip dengan kalimat, berdasar atas
dua hal. Pertama, teks tersebut adalah satu kesatuan yang bermakna (Meaningful whole) yang dapat dianggap mewujudkan, mengekspresikan, keadaan pemikiran seorang pengarang, seperti halnya sebuah kalimat yang memperlihatkan atau mengejawantahkan pembicara. Kedua, teks sebuah puisi memberi bukti bahwa ia diartikulasikan dari bagian-bagian dan dari realitas yang diproses melalui teks dan konteks.

Baca Juga:  Penunjukkan Pejabat Kepala Daerah Morotai dalam Pusaran Kepentingan

Dengan demikian, dalam pembacaan saya, antologi puisi Munira merepresentasikan beragam tema. Untuk itu, saya akan memilih puisi yang saya anggap memungkinkan saya memandang sejumlah persoalan kultural yang terkuak dalam larik-larik puisi tersebut. Simak saja puisi yang bertajuk “Togal” (hal.98) berikut:

bersama angin
mari bernyanyi dalam derita
sebelum pelita-pelita mati di jalan menuju surga
betapa jahat lautan itu—perahu-perahu nelayan
hancur ditinggal roh ikan-ikan;
serpih-serpih penyesalan
betapa indah teluk itu—
bayi-bayi lahir tanpa suara
bersama gunung
mari bernyanyi dalam derita
sebelum orang tua-tua berjalan pulang
menyisakan kitab dan sabda
betapa indah kalimat itu—
ajali fo tuda-tuda
(Ajal ke mana-mana kita bawa …)
sone fo waro ua
(Kapan mati, kita tak tahu…)

Demikianlah, “bersama angin mari bernyanyi dalam derita…”, larik puisi ini memberikan suatu jalan lain; bahwa orang boleh bernyanyi dalam derita sebagai cara memulihkan luka. Sekalipun nestapa hampir saja merenggutnya, seturut pemaknaan pada dua bait setelahnya “sebelum pelita-pelita mati di jalan menuju surga… betapa jahat lautan itu”, larik-larik itu sesungguhnya bagi saya, berujar tentang harapan hidup yang harus tetap dipupuk pada setiap insan manusia. Itulah esensi dari jalan untuk setiap insan manusia, agar memiliki daya optimisme yang harus terus ia jelajahi dalam lanskap bernama kehidupan. Sebab, di sana ada tanggung jawab dan peluang pada diri setiap orang agar tidak bisa berhenti untuk terus hidup lantaran tak bisa berbuat banyak terhadap apa yang kita miliki.

Baca Juga:  Jalan Panjang Membangun Ternate

Itu semua menjadi bermakna jika kita selalu punya kesadaran pada sesuatu yang Ilahiah, sebagaimana pada larik puisi tersebut pada kalimat terakhir yang mengutip dalil tifa dalam bahasa Ternate yang bagi saya, bermakna sangat dalam. Bahwa betapa manusia tidak pernah tahu akan tiba waktunya untuk pulang/mati, di situlah esensi asali dari kekuasaan Allah. Hal tersebut juga bermakna bahwa betapa kekuasaan manusia begitu terbatas ketika berhadapan dengan sang maut, bahkan manusia tidak bisa berkompromi di hadapan sang maut. Imajinasi WDG ini sungguh luar biasa, ia mampu merefleksikan tegangan antara kenyataan dan harapan manusia. Perenungan itulah yang hendak ditunjukkan oleh WDG. Puisi berjudul ‘Togal’ di atas mengingatkan saya pada sastrawan Chairil Anwar berjudul ‘Nisan’ yang saya petik di bawah ini:

Bukan kematian benar menusuk kalbu
Karidhaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu di atas debu
Dan duka maha tuan tak bertahta

(Nisan, Oktober 1942, Chairil Anwar)

Bait-bait puisi Chairil di atas sebagaimana yang di ekspresikan oleh WDG—bahwa kematian adalah bagian dari takdir dan betapa manusia tidak bisa berdaya di hadapan sang maut. Karena maut tidak akan mau berkompromi dengan manusia. Dalam banyak karya sastra, khususnya puisi, dalil-dalil juga tembang di seantero Nusantara ini, pemaknaan terhadap kematian masih bisa kita temukan, dan hal itu memungkinkan kita memiliki kekuatan imajinasi sebagai alarm atau pengingat akan kematian yang akan datang pada siapa dan kapan saja.
Konfrontasi Munira

Pada labirin cinta yang melahirkannya. Munira seakan memanen kerinduan dengan melintasi lautan yang ganas untuk kemudian tiba di beranda Gamalama. Sebagaimana perjalanan yang digambarkan WDG dalam larik-larik puisi yang berjudul “Munira”. Apakah benar lautan memang ganas? Saya pikir tidak demikian adanya. Kalaupun lautan memang ganas tak mungkin ada harapan yang ditorehkan oleh nelayan yang tangguh untuk membuang sauh. Sebab lautan adalah demarkasi yang paling ideal untuk orang membuat batasan tentang kehidupan yang berorientasi daratan atau berorientasi ke laut. Dan labirin inilah yang sebenarnya habitat mereka, yang menyebut diri sebagai orang-orang Halmahera. Dan WDG menyublimasi perempuan ke dalam puisi-puisinya sebagai jalan pintas untuk membakukan perempuan tangguh dengan sifat ‘keibuan’ yang melekat pada diri mereka.

Untuk itu, sebagai sebuah fundamen nilai keperempuanan, saya merasa ini bisa menjadi kritik dan spirit pada pengarang perempuan kita. Bahwa kebanyakan penyair kita adalah penyair laki-laki, yang masih intens menulis puisi, ketimbang penyair perempuan. Saya menduga, penyair perempuan kita tidak suka menerbitkan puisi mungkin karena merasa tidak semestinya memamerkan perasaan ke khalayak ramai, demikianlah kata (Sapardi Damono,1999:3) bisa jadi perempuan mengalami kesulitan menyajikan puisi karena gejolak perasaannya yang begitu rumit. Sebagai upaya bandingan antara penyair kita yang perempuan dan laki-laki, jauh sangat dominan adalah laki-laki yang punya intensitas menulis puisi. Ketimbang Perempuan. Dalam hal ini, perempuan lebih banyak menulis karya fiksi dalam bentuk cerpen dan novel. Dalam perbincangan tentang sastra yang berlatar lokal, memang ada beberapa yang kerap kita jumpai penulis perempuan, tetapi relitif sedikit, jika tidak mau dikatakan sama sekali tak ada yang menerbitkan karya sastra berupa puisi. Dan saya kira, karena absennya pengarang puisi perempuan, WDG seperti hendak memberi gertakan kepada siapa saja yang tertarik menulis puisi. Dengan menyublim nestapa dengan menjinakkan dalil dan juga kata-kata, WDG berhasil menampilkan sosok perempuan tangguh dari labirin Halmahera.


*Penulis merupakan Alumni Antropologi Unkhair dan tengah belajar Antropologi di UGM.