Semangat Kolaborasi Membangun Tidore

Budhy Nurgianto, penulis. Foto: Doc. Pribadi

Oleh: Budhy Nurgianto

 

DI sela-sela perjalanan lintas provinsi di Pulau Sulawesi dari Manado ke Gorontalo, saya mencoba menyempatkan diri untuk membaca goresan liar soal harapan pada Kota Tidore di usia 918 yang ditulis kawan Rusly Saraha. Jujur saya sangat suka dengan gaya tulisan kawan satu ini dan bisa dikatakan saya merupakan salah satu penggemarnya sejak dari mahasiswa. Membaca tulisan kawan Rusly seperti mendapatkan kehangatan di antara kalimat-kalimatnya. Tulisannya tidak hanya dapat bercerita namun juga membawa kita pada ingatan tentang identitas, tentang bagaimana kenyataan yang tak selalu ramah.

Membaca gagasan kawan Rusly tentang Tidore memberikan saya satu perspektif baru, bahwa setiap kota, baik yang sedang saya tuju maupun yang sedang kawan Rusly tulis, sesungguhnya memiliki “jiwa” yang harus terus dirawat oleh tangan-tangan kreatif. Amanah membangun kota tentu lebih penting daripada janji-janji politik, dan saya sangat menikmati benar kalimat per kalimat yang ditulis kawan saya ini.

Nah, berbicara tentang membangun kota-seperti harapan kawan Rusly-sesungguhnya ada banyak cerita baik tentang bagaimana sejumlah Kepala Daerah di Indonesia berhasil mendorong daerahnya menjadi lebih maju dan sejahtera. Mereka dapat mengubah keterbatasan menjadi kekuatan, dan tak sedikit pula yang mampu mengubah wajah kotanya lebih maju dan modern.

Mantan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini misalnya berhasil membenahi Kota Surabaya melalui pendekatan partisipatif. Penataan taman kota, pengelolaan sampah, hingga pelayanan publik dilakukan dengan melibatkan warga secara aktif. Wajah Surabaya berubah, tumbuh, dan tentu lebih sejahtera. Ada juga mantan Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas yang bisa membuktikan bagaimana daerah yang jauh dari pusat ekonomi bisa melompat lebih maju.

Dari Sulawesi Utara, ada Andrey Anggo, Wali Kota Manado. Ia berhasil mengajak masyarakat kota untuk ikut menggagas konsep Kota Manado sebagai kota pariwisata dunia. Melibatkan kampus menyusun roadmap, dan mengajak pelaku usaha membuat fasilitas wisata yang baik. Hasilnya Manado tumbuh menjadi kota wisata yang memberikan warna berbeda.

Baca Juga:  MUSTAHAK

Beberapa cerita itu tentu menunjukan pada kita, bila membangun kota dibutuhkan banyak pikiran besar, semangat tinggi dan kolaborasi warga kotanya. Semua pihak harus ikut meletakan semangat pembangunan kota pada cara-cara yang jauh lebih terbuka dan kolaboratif. Kemitraan strategis (collaboration) sudah harus dijadikan sebagai kekuatan dalam membangun kota. Tangan kreatif dan semangat kolaborasi diletakan untuk mengatasi masalah publik mulai dari ketimpangan sosial, kemiskinan dan pengangguran.

Sejumlah literatur mencatat kolaborasi merupakan kunci apik dalam mewujudkan pembangunan kota cerdas yang berkeadilan. Kolaborasi multi pihak dalam membangun kota menjadi modal kuat dalam menghasilkan pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Albert Meijer akademisi dari Utrecht University, Belanda dan Manuel Pedro Rodríguez Bolívar Profesor di Universidad de Granada, Spanyol yang terkenal dengan publikasinya yang berjudul “Governing the smart city: a review of the literature on smart urban governance” mengatakan, kolaborasi merupakan strategi dominan dalam model tata kelola kota cerdas. Konseptualisasi kolaborasi kota cerdas berfokus pada seluruh ekosistem kota, hubungan antara pemerintah kota dan organisasi dari semua sektor, dan hubungan antara pemerintah dan warga.

Pada titik ini, Pemerintah Daerah harus mulai memandang partisipasi aktif warga kota sebagai stimulan dalam mendorong proses pembangunan agar berlari lebih cepat. Pendekatan inklusif dan partisipatif sudah sepantasnya digalakan. Bila itu dilakukan kota akan dapat berkembang lebih berkelanjutan.

Meskipun Pemerintah memiliki kewenangan dan sumber daya dalam merancang konsep pembangunan, namun untuk urusan membangun kota yang berkeadilan, Pemerintah tidak bisa lagi berjalan sendiri. Kompleksitas persoalan—mulai dari ekonomi, pendidikan, kesehatan, lingkungan, hingga pelestarian budaya—menuntut keterlibatan banyak aktor dengan peran yang saling melengkapi. Membangun kota hari ini adalah soal membangun ekosistem hidup warganya.

Baca Juga:  "Menyimak" Tangisan Gub Sherly Tjoanda

Pada konteks membangun Tidore, tentu semangatnya sama, yaitu tentang membangun manusia dan kebersamaannya. Tantangannya sudah dipastikan akan semakin kompleks, bukan sekadar membangun wilayah administratif semata. Ada ruang sejarah, budaya, sosial-ekonomi, dan harapan masa depan bagi generasi yang hidup di dalamnya. Membangun Tidore sama halnya mengukuhkan kota ini sebagai kota yang mandiri, berdaya saing, dan berkeadilan, dengan kata lain membangun Tidore adalah soal membangun harapan warga yang hidup.

Kita semua tahu, Tidore memiliki catatan panjang terhadap sejarah bangsa ini. Nama Tidore bukanlah sekadar nama wilayah di Maluku Utara semata, melainkan merupakan simpul sejarah, kebudayaan, dan identitas yang telah membentuk perjalanan panjang bangsa ini. Dari kejayaan Kesultanan Tidore lah, daerah ini pernah memainkan peran penting dalam perdagangan rempah dunia, hingga hari ini, Tidore bahkan masih terus berupaya meneguhkan posisinya dalam pembangunan nasional.

Daerah ini menyimpan banyak potensi besar sekaligus tantangan yang tidaklah kecil. Ada banyak persoalan publik yang membutuhkan penyelesaiannya secara bersama-sama. Semua pihak-pemerintah, swasta, masyarakat- sudah harus bisa merasa memiliki tanggung jawab yang sama terhadap masa depan Tidore. Itulah mengapa, membangun Tidore tidak bisa dikerjakan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah, masyarakat, sektor swasta, akademisi, dan generasi muda. Ego sektoral harus ditekan, digantikan dengan semangat gotong royong. Kolaborasi kuncinya.

Kolaborasi dalam membangun Tidore sesungguhnya menuntut perubahan cara pandang, dimana setiap pihak perlu menyadari bahwa keberhasilan pembangunan tidak diukur dari siapa yang paling menonjol, melainkan dari seberapa besar manfaat yang dirasakan bersama. Proses itu harus dimaknai sebagai kesadaran bersama bahwa membangun Tidore adalah tanggung jawab kolektif. Masyarakat tidak boleh lagi berpikir bahwa dirinya hanya sekadar objek pembangunan, tetapi sudah harus memiliki pandangan subjek yang memiliki suara, pengetahuan lokal, dan kepentingan langsung atas hasil pembangunan itu sendiri.

Baca Juga:  Nota untuk Donny

Membangun Tidore saat ini membutuhkan kesabaran, konsistensi dan menuntut keberanian untuk keluar dari pola lama yang elitis. Tidak cukup hanya dengan romantisme sejarah yang berulang di setiap perayaan usia kota. Membangun Tidore harus diwujudkan dalam kerja bersama yang terukur dan konsisten. Kolaborasi sudah bukan lagi pilihan, melainkan sudah menjadi keharusan, dan daerah ini membutuhkan itu. Tentu hingga seribu tahun kedepan.

—–

Penulis adalah Jurnalis dan Penikmat Isu Sosial-Ekonomi