News  

Mendorong Penetapan Kawasan Lindung Mata Air Ake Gaale

Foto bersama usai pelaksanaan rapat dengar pendapat tentang kawasan lindung Ake Gaale. Foto: Istimewa

Upaya penyelamatan sumber air terbesar di Kota Ternate mengemuka dalam rapat dengar pendapat antara DPRD, komunitas lingkungan, dan masyarakat adat yang mendorong kawasan lindung Ake Gaale pada Selasa, 19 Mei 2026.

Ketua Pansus Revisi RTRW DPRD Ternate, Junaidi Baharudin, mengatakan gerakan “Save Ake Gaale” muncul sebagai bentuk kepedulian terhadap ancaman kerusakan lingkungan yang berdampak pada ketersediaan air bersih masyarakat.

Menurut ia, Ake Gaale merupakan penyangga utama kebutuhan air warga Ternate sehingga harus dijaga keberlanjutannya.

Berdasarkan kajian USAID IUWASH periode 2017–2021, kawasan Ake Gaale terdiri atas tiga zona penting, yakni daerah tangkapan air dari Buku Bandera hingga Toloko, kawasan sumber air utama di Kelurahan Sangaji, serta wilayah pesisir yang rentan intrusi air laut.

“Kalau kawasan pesisir ini tidak dijaga, ancaman intrusi air laut seperti tahun 2015 hingga 2016 bisa kembali terjadi,” kata Junaidi.

Selain menjadi sumber air, penataan kawasan Ake Gaale juga dinilai dapat memperkuat potensi wisata sejarah di kawasan Benteng Toloko.

Sementara itu, Sekretaris Komunitas Save Ake Gaale, Muhammad Suhud, menyebut Ake Gaale juga memiliki nilai budaya yang masih dijaga masyarakat adat Sangaji melalui ritual “Ake Ma Sou” dan tradisi Babari atau gotong royong menjaga lingkungan.

Ia berharap gerakan penyelamatan Ake Gaale dapat menjadi langkah bersama menjaga ketersediaan air bersih bagi generasi mendatang di Kota Ternate.

Baca Juga:  3 Kecamatan Terluar di Ternate Jadi Lokasi Budidaya Perikanan
Penulis: Eko PujiantoEditor: Rian Hidayat