Abdul Basir, Sultan Djabir dan MacArthur

Pulau Hiri saat difoto dari arah Pantai Ternate. Foto: Istimewa

(Memoar Luka Perang Dunia II di Pulau Hiri)

 

Oleh: Wawan Ilyas*

 

Saya mencatat kepingan-kepingan cerita masyarakat Pulau Hiri mengenai penyelamatan Sultan Iskandar Muhammad Djabir dari ancaman pendudukan Jepang (1942-1945), sebelum Indonesia diproklamirkan sebagai bangsa merdeka oleh Soekarno-Hatta di Jakarta. Melalui langkah ini, lintasan “orang desa” dalam sejarah kemerdekaan perlu diungkap, dengan dasar asumsi menghidupkan ingatan kolektif tentang satu fase dari masa lalu yang penuh tragedi di satu sisi, tetapi membuahkan langkah maju kemerdekaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di sisi lainnya. Keberpihakan ini harus diluaskan, seiring perubahan zaman, agar menjadi titik pijak, mercusuar membangun imajinasi kebangsaan dan masa depan generasi yang sadar akan sejarah di daerahnya sendiri.

Dalam kurun tulisan ini, saya memilih informan sejarah yang merasakan langsung situasi di Hiri di saat itu, ketika kombatan militer Australia dan Amerika datang dari Morotai ke Pulau Hiri membawa pesan Douglas MacArthur, Jenderal dalam Perang Dunia II di wilayah Pasifik. Adalah Ilyas Husen, yang pada 1945 beliau berusia 15 tahun. Lahir 1930-sekarang. Paling tidak, kepingan memori yang masih terekam jelas dalam ingatan kakek 93 tahun ini menjadi batu loncatan untuk didiskusikan, dikoreksi, dikembangkan secara dingin dan terbuka. Diskursus ini penting mengingat nadi besar sejarah bisa dilacak melalui narasi-narasi kecil dari warga yang mengendap bersama ingatan kolektif mereka. Ayah dari Ilyas Husen adalah Husen Hatari, meninggal tahun 1994. Di tangan dotu Husen Hatari ini, bersama 5 orang Hiri, surat misi “klandestin” MacArthur  dibawakan menyusuri lembah dari pantai Kulaba ke Ake AfuTugu Rara hingga Buku Bandera (sekarang Kadato Ici). Sebelum pesan diterima Sultan, Husen Hatari dan rombongannya bertemu seorang lelaki bermarga Waiola bernama Awal, penjaga di Buku Bandera (percakapan dengan Ilyas Husen, 2023).

Selain Husen, terdapat sosok Abdul Basir, putra Faudu yang menikah dengan perempuan Tomajiko. Tokoh kunci untuk mengenang solidaritas dan pergolakan perang di Hiri. Beliau dipercayakan sebagai mahimo (istilah sebelum kepala desa) Tomajiko. Beliau dan Radjab Abdullah ikut bersama gabungan Unit Khusus Z Angkatan Laut Amerika yang ditugaskan MacArthur, menumpangi kapal patroli torpedo (MBT) 364 dan 178  ke Pantai Sake (sekarang pelabuhan nelayan Faudu, juga lokasi kantor PLN Pulau Hiri). Saya sebut “tokoh kunci”, bukan karena kultus individu atas kepahlawanannya, melainkan karena Abdul Basir adalah loyalis Sultan dari Hiri yang terbunuh senjata tentara Jepang dalam sesi pertempuran Perang Dunia II di daerah “Nyare” (Pulau Hiri), selain 12 orang Nippon, dan 2 orang tentara Australia (Historia.id, 2021). Sumber lain menyebutkan bahwa peperangan di Hiri memakan korban diantaranya 17 orang dari pihak Jepang, 11 orang dari gabungan rakyat dan pasukan hulptroepen pembela sultan, serta 2 lainnya tentara Australia (Amal, 2010).

Bagi warga Hiri, kematian Abdul Basir adalah tragedi beralaskan cinta dan loyal terhadap Sultan Ternate. Jika anda berkeliling Hiri menanyakan peristiwa penyelamatan Sultan Djabir, maka Abdul Basir adalah nama yang paling kuat “memukul” bawah sadar orang Hiri, membangunkan memori kolektif mereka tentang peristiwa heroik pada masa pendudukan Jepang yang mencemaskan itu. Nama beliau diabadikan sebagai nama Jalan di Kelurahan Tomajiko, kecamatan Pulau Hiri. Dalam banyak catatan sejarah resmi, nama-nama orang lokal di atas tidak disebut sama sekali.

Secara metodis, menggali endapan memori pada masyarakat sangat penting ditengah kekurangan bukti kearsipan maupun dokumen tertulis. Seiring perkembangan paradigma ilmu sejarah dan perubahan-perubahan metodologi, melibatkan analisa multidisiplin, termasuk ilmu-ilmu sosial ikut serta memberi nilai tambah kepenulisan sejarah nasional. Dengan cara ini, kita bisa pahami peran “orang kecil” dalam peristiwa sejarah yang sungguh besar, atau memperoleh gambaran holistik atas bangunan sosial, politik dan budaya dari perilaku subjek sejarah. Sejak awal, Pramoedya Ananta Toer telah meletakkan pendekatan ini dalam karya Bumi Manusia dengan subjek tokoh Minke. Meskipun merupakan karya sastra bergenre realisme sosialis, tetapi pada kerangka dasarnya adalah sebuah kerja sejarah sosial, politik maupun budaya. Selain terkenalnya buku The Mediterranean karangan Fernand Braudel dari Perancis yang mengkampanyekan pelibatan struktur, konjungtur dan even dalam kepenulisan sejarah (maritim), yang berarti sejarah harus memperhatikan seluruh unsur kehidupan masyarakat.

Baru kemudian di Indonesia tatkala para Sejarawan seperti Kartono Kartodirdjo, Taufik Abdullah dan Kuntowijoyo mengkampanyekan pentingnya pendekatan ilmu-ilmu sosial dalam penulisan sejarah, selain mendepak historiografi yang terlalu “Kolonialis” dan juga “Jawasentris”, menuju Historiografi Indonesia yang menyeluruh. Apa yang dilakukan Sartono Kartodirdjo, adalah bentuk “perlawanannya” terhadap kolonialisme. Bahwa pengetahuan sejarah yang berkiblat pada narasi kolonial atau pendekatan Eropa harus dikoreksi, dikarenakan kita memiliki akar Sejarah sendiri dengan identitas dan cara berfikir yang berbeda dengan orang-orang Barat. Sejarah kemerdekaan butuh “dikembalikan” pada kemerdekaan masyarakat lokal, sebab dari situlah sebetulnya bangsa ini “dijahit” menjadi “Kesatuan” Indonesia.

Sekali lagi, semua itu penting. Apalagi kita pernah punya catatan pahit sejarah yang ditulis berdasarkan kepentingan penguasa Orde Baru, dengan analisa-analisa yang melegitimasi kekuasaan otoriter, justru mengesampingkan pentingnya relasi, proses dan dinamika yang ditimbulkan dari keterlibatan warga lokal. Saya percaya, ada banyak sekali keterlibatan orang-orang lokal dalam momen-momen bersejarah kemerdekaan, namun saya menyadari, tulisan ini adalah langkah awal, merekam sebatas apa yang saya himpun dari luapan ingatan dan memori tentang peristiwa ini di Pulau Hiri. Dalam satu tulisan berjudul “Sula, Menelusuri Jejak dan Identitas; Merekonstruksi Memori Kolektif”, Syaiful Bahry Ruray, sebagai intelektual Maluku Utara mengutip filsuf Spanyol, George Santayana, menyebutkan bahwa; a country without memory is  a country of madmen, sebuah negeri tanpa memori adalah negerinya orang gila.

Sake Madaha, Abdul Basir dan Strategi Penghancuran dari Udara

Rumah-rumah di Desa Sake diterangi cahaya loga-loga. Warga desa juga sering manfaatkan daun kelapa kering lalu diikat menjadi satu dan dibakar ujungnya, media penerangan ini disebut sido. Tetapi pada saat pendudukan Jepang, warga Hiri paling berhati-hati menyalakan api di saat patroli malam, karena bisa jadi itu mencurigakan bagi mata-mata Jepang yang disebut kompetai.

Saat ini terlihat satu age (batang kering) pohon Ketapang tua berdiri di bibir pantai Sake. Di sekitar pohon itu pernah didirikan camp sementara untuk mereka yang dari Morotai. Pelbagai alat perang ikut diturunkan dari kapal, termasuk beragam jenis senjata api. Ilyas Husen menyebut sebanyak 150 buah senjata kecil, dan 4 buah senjata besar berkaki dua. Pantai Sake sekejap menjadi pos penjagaan militer.

Baca Juga:  Politik Penjinakan: Warisan Kolonialisme

Bukti arkeologis permukiman desa dijumpai saat ini di kawasan Sake Madaha, ada banyaknya pondasi rumah-rumah dengan perekat kalero, ada kuburan, bak penampung air, dan sumur tua. Ilyas Husen bercerita pada tahun 1945, beliau melihat ayahnya sering membawa senjata ke rumah mereka. Warga lokal diajarkan cara gunakan senjata berlaras dan setelah itu tentara Sekutu membagikan peralatan perang ke orang-orang tertentu untuk kesiapan berpatroli. Pantai-pantai di Hiri dibuat penjagaan ketat oleh warga dengan sokongan senjata dari Sekutu itu. “… Senjata ge to mina ena adi, tapi to coho ena ua” [… saya lihat senjata-senjata itu, tetapi saya tidak memegangnya].

Pada awalnya situasi malam Senin pukul 22.45, bulan April, tahun 1945 sangat mengkhawatirkan warga desa Sake, gelap, tanpa suara. Ilyas Husen bercerita; “Amerika uci daka sake malam Senin, dzulkaidati ma ara, ara futu nyagimoi se tomdi” (pasukan sekutu berlabuh di pantai Sake pada malam Senin, bulan naik pada malam ke-17 Zulkaidah). Dari kegelapan sana, dua kapal perang menuju ke pantai. Dua orang telah menunggu/bersiaga dengan perahu, mereka adalah Radjab Sigunyihi dan Abatu Basir (anak dari Abdul Basir), tetapi warga desa sudah diingatkan sebelumnya memegang apa saja yang bisa dipakai melindungi diri. Begitu Abdul Basir memberi isyarat dari kapal kapal torpedo, Radjab Sigunyihi menyahut, maksud mengetahui bahwa yang di kapal adalah kawan, bukan musuh. Diplomasi pun dimulai di atas perairan Sake antara tentara Sekutu dan orang Hiri (percakapan dengan Ilyas Husen)

Setelah semuanya menyadari ada misi rahasia Jenderal MacArthur untuk menyelamatkan Sultan Ternate, Abdul Basir memanggil Husen Hatari supaya segera berembuk bersama warga desa, bermusyawarah untuk mengutus rombongan membawa surat di hadapan Sultan di Ternate. Dari musyawarah tersebut, dipercayakan kepada Husen Hatari sebagai pembawa surat ke Ternate (percakapan dengan Ilyas Husen, 2023). Kapten Kroll, pemimpin Unit Khusus Z menuliskan pesan dalam secarik kertas untuk diberikan ke Husen Hatari. Untuk menyelamatkan Sultan dan keluarga, para pasukan dari bala butuh penyelamatan diri. Operasi rahasia militer ini, sejak dari Morotai diberi kode oleh MacArthur sebagai Operasi Opposum (Historia.id, 2021), berjalan dengan syarat dan tawaran strategi penghancuran dari udara paling spektakuler.

Ternate di tahun 1942-1945 dikuasai pendudukan Jepang yang merupakan musuh besar Sekutu di wilayah Pasifik. Jepang juga “musuh” dari kesultanan Ternate. Ketajaman MacArthur menyusun strategi membuahkan hasil. Istilah “musuh dari musuh adalah kawan terbaik” menemukan momentumnya di sini, antara MacArthur dan Sultan Djabir; sama-sama punya misi mengusir Jepang dari Moloku Kie Raha. Sementara mata-mata (spion) Jepang tersebar di sebagian besar wilayah Ternate, di Halmahera yang berpusat di Kao. Ilyas Husen mengenang bahwa mata-mata Jepang tidak segan-segan melaporkan ke “bos” mereka di Ternate jika mendapati aktivitas yang mencurigakan.

Selain melarang perkumpulan organisasi pergerakan, mengintai gerak-gerik warga serta distribusi seluruh pasokan pangan harus melalui izin dari Jepang, dalam tekanan itu kemudian Jepang mengimingi orang-orang Ternate dengan kebun-kebun serta pasokan ekonomi lainnya seperti peralatan nelayan yang bisa memasong hidup warga desa. Bantuan itu diberikan tapi dengan syarat harus bagi rata hasil dengan Jepang, serta jadi “kaki tangan” Jepang selama pendudukan (Hasyim, 2023). Hanya tiga tahun menjajah, tetapi Jepang merubah hampir semua struktur dan polarisasi masyarakat di wilayah ini. Jajahan Jepang jauh lebih kejam dari seluruh penjajah yang pernah menanamkan hegemoninya di Maluku Utara. Politik kontrol ruang berupa RT/RW dalam bingkai NKRI adalah hasil bentukan Jepang. Ini dibuat untuk mempermudah kontrol atas warga selama Jepang menjajah negeri ini.

Menyadari kondisi terancam penuh resiko itu, pasukan loyalis Sultan dari Hiri bersedia mengantarkan surat dengan perintah dan tawaran strategi sebagai berikut. Pertama, perintahnya, surat ini tidak boleh diketahui tentara Jepang. Jika bertemu Jepang di perjalanan, surat harus dimusnahkan dengan cara menelannya. Kedua, loyalis Sultan akan berangkat di saat malam, dengan tawaran bahwa begitu datangnya pagi, ketika Sultan dan keluarganya dievakuasi ke Pulau Hiri, Sekutu harus menyerang dari udara, membombardir pasukan Jepang di pusat militer Ternate. Ini bertujuan mengganggu konsentrasi Jepang di kota, supaya mempermudah loyalis Sultan menyelamatkan Ou Djabir dan keluarga lewat belantara hutan menuju Kulaba, dan lanjut ke Pulau Hiri begitu matahari mulai terbit (percakapan dengan Ilyas Husen, 2023).

Tatkala loyalis Sultan menjalankan misi tersembunyi itu pada Senin malam hingga pagi (Selasa), pesawat-pesawat tempur mulai berlalu-lalang di langit Hiri dan Ternate sejak pagi sekali.

“Udara soro seba-seba gam ne manyeku, ngom waktu ge hida kara tede-tede gia nyele ne. Ana soro kara siboi surat-surat, madaha waje Amerika hado bantu ngone (waktu itu pesawat tempur terbang di atas kampung ini (Sake-Tomajiko), kami melihat sambil melambai ke udara. Pesawat-pesawat itu menyertakan selembaran yang dilepas dari udara, berisi Amerika datang membantu kita),” demikian kenang Ilyas Husen kepada saya.

Tapi keadaan berubah, misi penyelamatan malam pertama tak berhasil, namun pesan sudah tersampaikan. Malam itu, Sultan tidak segera ikut bersama regu penyelamat dari Hiri. Sultan menulis surat balasan kepada perwakilan MacArthur yang sudah berada di Togolobe. Dalam isi surat itu, Sultan akan berusaha meloloskan diri dan meminta menjemput beliau beserta keluarga pada keesokan harinya (Selasa) di pantai Kulaba. Setelah membaca, Kapten Kroll kesal, karena banyak spion Jepang dan penuh resiko, seharusnya Sultan sudah ikut bersama rombongan bala dari Hiri (percakapan dengan Ilyas Husen, 2023).

Menurut garnisun Australia ini, waktu terbaik penyelamatan adalah malam itu ketika datangnya para loyalis yang dikomandoi Husen Hatari. Alan Powell mencatat dalam “War by Stealth:  Australians and the Allied Intelligence Bureau 1942-1945”, bahwa setelahnya, Letnan Richard Hardwick yang sudah berpindah dari Sake ke desa Togolobe menulis balasan surat untuk Sultan;

“Perahu-perahu dengan kru (gerilyawan) lokal yang telah dipilih secara khusus akan menyeberang dalam kegelapan malam dan akan menunggu sultan dengan rombongan di titik pertemuan di pesisir Ternate. Kami menyadari bahaya yang akan dihadapi sultan karena harus melalui jalur pegunungan. (Tetapi) kami tak bisa menolong sampai Anda mencapai titik pertemuan” (Historia.id, 2021).

Baca Juga:  Perempuan dan Budaya Digital

Yang dimaksud Letnan Hardwick sebagai titik pertemuan adalah pantai Kulaba. Saya menganalisa Perang di Kulaba antara loyalis Sultan dan pasukan Jepang dalam misi penyelamatan kedua karena penundaan sehari penuh itu. Ketika Sultan masih menunggu sehari semalam lagi, sementara keadaan kota sudah dibombardir, ini membuka peluang bagi Jepang untuk beroperasi memanfaatkan mata-mata mereka di sejumlah desa di Ternate. Akibatnya, ketika rombongan keluarga Sultan sampai di Kulaba melintasi rerimbunan pohon pada Rabu pagi, mereka dihadang pasukan Jepang yang ternyata sudah mendapat informasi dari mata-mata mereka (Historia.id, 2021).

Sultan betul-betul dalam situasi terancam. Perang tak terelakkan. Beruntun, bala di Kulaba mati-matian menghalangi Jepang di sisi darat, sedangkan gabungan rakyat Hiri dan Sekutu menggunakan 5 perahu beroperasi di jalur laut (Historia.id, 2021; percakapan Ilyas Husen, 2023). Turut mengawal Sultan dan keluarga dalam evakuasi hari kedua hingga ke Morotai adalah pasukan gerilya hulptroepen.

Hulptroepen merupakan pasukan pembantu tentara Sekutu yang dibentuk oleh NICA (pemerintahan sipil Hindia Belanda) di Morotai sejak 1944, tugasnya bergerilya melawan Jepang (anggota kelompok ini direkrut dari pemuda pelbagai daerah yang saat itu ada di Morotai). Anggota-anggotanya yang di Ternate sebanyak 17 orang, antara lain Haji Djalil dan sejumlah pemuda Hiri, termasuk Ali Mansur Amal, bertugas mengevakuasi Sultan dan keluarganya ke Morotai (Amal, 2010). Abdul Basir dan Radjab Abdullah termasuk dalam pasukan Hulptroepen itu sejak dari Morotai. Ilyas Husen bilang; “ ana ge hulptroepen, madehe Belanda” [..mereka itu pasukan hulptroepen bentukan Belanda (NICA)].

Memoar Luka Abdul Basir; Menumbuhkan Ingatan

Sultan berhasil dibawakan ke Pulau Hiri, tepatnya di sebuah rumah samping Masjid Togolobe (sekarang rumahnya keluarga Alm. Hi. Tinamba, tetapi ada juga menyebut sultan diungsikan di Fala Soa Togolobe yang hanya bertetangga dengan rumah pertama). Begitu mengetahui sultan dilarikan ke Pulau Hiri, Jepang mengarahkan 47 pasukan gabungan Heiho, Kompetai dan Menseibu, menumpangi dua unit perahu besar menuju Pulau kecil ini (Amal, 2010). Perang pecah lagi di Nyare, lokasi pelabuhan tradisional di Pulau Hiri. Dalam peperangan pada Rabu pagi bulan April 1945 inilah, bersama pasukan Hulptroepen lainnya, Abdul Basir menemui akhir hidupnya dengan damai (percakapan Ilyas Husen, 2023).

Begitu menanyakan tentang korban dalam tragedi ini, memoar warga Hiri mengenai luka Abdul Basir dan “karomah” Sultan Djabir menjelma bagaikan kekuatan sejarah, tetapi juga momen pengakuan Sultan bertubuh mungil ini dibekali kemampuan “supranatural”, sesuatu yang tidak biasa. Jenazah Abdul Basir terbujur kaku di pinggiran pantai Nyare dengan luka tembak menganga, rakyat Hiri lalu mengangkat jenazahnya menuju Masjid Togolobe. Sultan menemui tubuh yang tergeletak itu, tangan kanan menyentuh dahi, lalu memanggilnya; “he…. Abdul Basir” sebanyak 3 kali.

Dalam keterangan banyak warga Hiri yang saya terima, Abdul Basir sontak membuka matanya begitu panggilan didengungkan Sultan Djabir. “Karo walo raange, lako fela walo raange” Tiga kali panggil, tiga kali mata terbuka” (percakapan dengan Ilyas Husen, 2023). Suasana khidmat bercampur haru tak terbendung, merasuk dalam sanubari semua bala di sekitar Masjid. Pada momen itu, Sultan mengucap sumpah akan melindungi Pulau ini dengan masyarakat dari musuh mana pun, sampai kapan pun. Kepercayaan dan rasa hormat kepada Sultan semakin besar. Sultan bukan sekedar dipandang sebagai pemimpin politik dan pemerintahan, tetapi sekaligus pemimpin adat dan juga pemimpin besar agama Islam. Abdul Basir pergi dengan damai, meninggalkan memori perjuangan dan pengabdian yang tak lekang zaman. Jenazahnya menjadi “rebutan” antara orang Faudu dan orang Tomajiko. Tidak ada kata sepakat. Maka Sultan memutuskan kedua belah pihak untuk menyerahkan hak sepenuhnya kepada sang istri bernama Bansa Usman, yang merupakan orang Tomajiko. Maka dengan kemauan sang istri, Abdul Basir dikebumikan di pekuburan umum Tomajiko (Percakapan dengan Ilyas Husen, 2023).

Makam Abdul Basir di Pekuburan Umum Tomajiko, Pulau Hiri. Foto: Wawan Ilyas

Beberapa hari lalu, ketika saya menemui seorang tua berdarah Togolobe, Taher Hasan (sekitar 80 tahun lebih) , kami bercerita hangat. Begitu saya menanyakan sosok Abdul Basir dan Ou Djabir, beliau menunduk membisu, wajahnya murung kemerahan, matanya terlihat berkaca-kaca, ia dengan suara terbata menceritakan ayahnya yang ikut di dalam regu patroli keliling Hiri selama pendudukan Jepang. Matanya benar-benar basah, ketika mengingat cerita mengenai Abdul Basir “membuka mata” tiga kali di Masjid Togolobe. Kisah heroik, kharismatik dan penuh kecemasan itu telah menjadi memori kolektif orang Hiri.

“… Ngom ma baba si jarita sira Japang wosa ge, ana Amerika si coho ana senjata kara mote tagi kololi Hiri… Jou Ma Haji se Abdul Basir na jarita ge fo sege ongo doro” [..ayah kami cerita ketika pendudukan Jepang, Amerika berikan senjata kepada mereka untuk berpatroli keliling Hiri … kalau mengingat cerita mengenai Sultan Djabir dan Abdul Basir ini air mata jatuh] (percakapan dengan Taher Hasan di Ternate Utara, 2023)

Data orang Hiri yang tergabung sebagai Hultroepen 1945

Sumber: Wawancara Ilyas Husen, 2023.

Nama-nama di atas sebagian bukan nama asli. Saya kesulitan mencari nama lengkap para pasukan Hulptroepen  dari Hiri, karena orang Hiri lebih familiar dengan nama-nama panggilan mereka, seperti yang saya sertakan dalan tanda kurung di atas, selain harus saya jujur, belum saya temukan dokumen resmi yang memuatkan nama-nama pasukan dari Hiri ini. Itu sebabnya, data mengenai nama dan jumlah pasukan yang saya gamit dari informan ini masih perlu diperdebatkan, maksud dikembangkan sebagai langkah untuk memberi ketegasan dan keberpihakan bahwa kemerdekaan bangsa ini tidak boleh melupakan jasa-jasa perjuangan orang lokal, khususnya pada masyarakat sejarah di Pulau Hiri.  

Tawaran Politik dan Pikiran Merdeka Sultan Djabir

Setelah Sekutu berhasil menundukkan Nippon di bumi Moloku Kie Raha, Sultan Djabir diberi tawaran tukar kekuasaan oleh MacArthur. Jika mau mendirikan negara sendiri, Amerika bersedia menyokong dari belakang, tetapi syaratnya kedaulatan Pulau Morotai harus sepenuhnya diserahkan ke Amerika. Sultan menolak tawaran itu dengan alasan yang sangat cerdas sebagai seorang Sultan cum negarawan muslim dari Timur Nusantara. Pertama, Soekarno-Hatta telah memproklamirkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Sultan mendukung prokmalasi itu, tetapi sistem pemerintahan yang dikendaki sultan harus federal (Djafar, 1999). Adalah bentuk ideologi bernegara yang menjunjung tinggi falsafah hidup Kie Raha.

Baca Juga:  Together: Tr3ble Winners, Hal-hal Kecil yang Menentukan Dalam Sepakbola

Artinya, NKRI boleh berdiri, tetapi kedaulatan dan otonomi negara tradisional meliputi hak rakyat, tanah ulayat dan wilayah kesultanan tak diserahkan menjadi milik NKRI. Oleh karena itu, tak boleh diintervensi lebih oleh negara yang baru lahir. Konsep federal disampaikan mengingat sebelum ada “Indonesia”, Nusantara terdiri dari pelbagai negara kesultanan yang kokoh dan menjaga kedaulatan bangsa ini beradab-abad lamanya. Sultan menginginkan desentralisasi kebijakan politik dan pembangunan sepenuhnya adalah hak politik kedaerahan, bukan dari pusat di Jakarta ke daerah yang sentralistik.

Hak kesejarahan dan hak politik negara kesultanan yang tumbuh ratusan tahun tak boleh “dirampas” begitu saja oleh supremsi NKRI. Kedua, sultan tidak mau bala kusu se kano-kano terjerembab dalam ilusi budaya Barat yang dibawakan tentara Amerika. Sebab ada nilai Tauhid Islam dan beragam identitas kultural yang ingin dipertahankan, dijaga dan dihayati oleh bala di Moloku Kie Raha sebagai tetinggalan leluhur di kawasan ini, sebagai filosofi hidup berlandaskan agama Islam. Sultan berpengalaman melihat tentara Amerika (lelaki maupun perempuan) di Morotai secara bebas berperilaku jauh dari syariat Islam. Sultan tidak mau suatu kelak seluruh masyarakat Morotai jatuh di bawah hegemoni budaya barat tersebut (Percakapan dengan Cucu Ou Djabir, Hidayatullah Mudaffar Sjah (2021). Itulah kenapa tawaran merdeka sendiri oleh MacArthur ditolak oleh Sultan Ternate, Iskandar Muhammad Djabir Sjah.

Andaikan Sultan setuju dengan langkah politik “tukar guling” kekuasaan dan wilayah dari MacArthur, maka bisa jadi sekarang ini Morotai termasuk wilayah “luar negeri” dari Indonesia, juga bukan lagi kawasan dengan basis kultural Moloku, karena sudah masuk wilayah administratif militer, politik dan pemerintahan bagian Amerika Serikat sejak 1945. Sultan cerdas. Karena secara politik, ide pengusung Sekutu itu menyembunyikan misi Belanda untuk kembali menduduki Maluku Utara, Indonesia.

Cikal Bakal agresi militer II di Indonesia yang terjadi tahun 1947-1949. Menolak tawaran MacArthur berarti Sultan tidak ingin negara yang dikehendakinya nanti berada dibawah penguasaan Belanda, tidak ingin kehilangan Morotai, sekaligus meminimalisir konflik terbuka di antara kekuatan lokal yang mayoritas telah mendukung kemerdekaan RI. Itu sebabnya, Sultan mendukung kemerdekan, namun menawarkan ide federal, dimana kebijakan sentralistik harus dihapuskan, menuju sebuah otonomi penuh Maluku Utara yang sejahtera, adil dan beradab.

Mencari Keadilan

Sesaat ketika pasukan hulptroepen berhasil membawa sultan ke Hiri, ada penghormatan yang bertebar dalam kesadaran penduduk. Dalam catatan berjudul; Commandos: Heroic and Deadly ANZAC Raids in World War II, Frank Walker menulis memoar Letnan Hardwick tahun 1945 di Pulau Hiri begini;

“… tampak ratusan penduduk dari pinggir pantai sudah menanti. Saat sultan Djabir menginjakkan kaki di pantai, mereka semua berlutut, menundukkan kepala, mengatupkan tangan ke wajah-sebuah laku hormat tradisional setempat. Itu kali pertama sultan bertemu rakyatnya sendiri dalam beberapa tahun terakhir. Para tetua adat berbaris untuk mencium kaki sultan. Itu adalah momen paling dramatis yang pernah saya saksikan di kepulauan (timur Indonesia) ini” (Historia.id, 2021).

Suba sigise idin (kami dengar dan taat), begitu kata yang keluar dari bala begitu diperintah Sultan. Pulau Hiri jadi tempat perenungan Letnan Hardwick, bukan sebagai lokasi dimana mereka pertama kali tiba, melainkan keterpaparan mereka dengan relasi budaya pemimpin dan rakyat yang berlangsung di depan mata. Kepatuhan para loyalis dan peran politik Sultan yang sangat strategis di era Perang Pasifik ini mendorong MacArthur segera ambil terlibat menyelamatkan keluarga kesultanan. Untuk memukul kekuatan Jepang, MacArthur tentu membutuhkan informasi penting dari Sultan, yang berkuasa atas wilayah dan juga memiliki banyak pengikut setia, baik di Ternate maupun di Morotai, Maluku Utara.

Sebelum diberangkatkan ke Morotai, dan ketika peperangan di Nyare yang menewaskan Abdul Basir, Letnan George Bosworth dan Robert N. Higginbottom, Sultan sempat dibawa ke dalam sebuah lubang galian, tepat di belakang Masjid Togolobe yang disebut Lofra. Bekas lubang persembunyian masa pendudukan Jepang ini masih terlihat hingga sekarang, dengan kondisi ditumbuhi rerumputan.  Masyarakat Ternate menggali tanah (Lofra) untuk menyelamatkan diri dan keluarga dari serangan bom (Hasyim, 2023).  Di desa Tomajiko, kenang Ilyas Husen, terdapat tiga buah lubang Lofra yang kini jejaknya tak lagi ditemukan. Lofra di Togolobe karena itu, adalah sebuah penanda yang mewadahi “gerak” sejarah, kepingan ingatan untuk menelusuri kembali jauh pada pertempuran Perang Dunia II di kawasan Pasifik, dalam hal ini Pulau Hiri. Memoar luka bagi masyarakat Hiri mengenang perjuangan Abdul Basir, Sultan Djabir dan MacArthur.

Bekas Lubang Lofra di Belakang Masjid Togolobe, Pulau Hiri. Foto: Fitria Tinamba (2023)

Masyarakat Hiri adalah sebuah bangsa bersejarah. Pulau ini pernah melahirkan putra-putra terbaiknya, yang pada ketulusan mereka kita petik embrio revolusi kemerdekaan. Abdul Basir dan sejumlah pemuda Hiri waktu itu adalah prototipe yang layak menjadi contoh untuk menyuluh api perjuangan hari ini. Meminjam pesan Imagined Communities karangan Ben Anderson, masyarakat Hiri bagian inheren dari sejarah komunitas kebangsaan Moloku yang memiliki visi kemerdekaaan. Ikut terlibat ke dalam pembentukan negara (nation state) bernama Indonesia.

Anak-anak Hiri hari ini tidak boleh jatuh dalam ego-ego kampung, dengan sekedar memperjuangkan kepentingan kelompok atas nama “anak kampung harga mati”. Suatu sikap “banal kampungan” yang justru mengokohkan penindasan dalam wujud yang tak kasat mata. Kita hidup dalam era relasi kapitalisme dengan struktur politik negara yang mudah “memecah-“ masyarakat lokal, maka butuh kejernihan pikiran dan mentalitas yang melampaui “batas-batas” dan “sekat-sekat, sehingga tesis Samuel Huntington tentang Benturan Antar Peradaban  tidak menjadi “hantu-hantu” modern yang menjadikan kita generasi penerus saling menjatuhkan, “menikam” satu sama lain.

Pekerjaan kita masih sangat banyak dan membutuhkan imajinasi kebangsaan yang sama. Jangan menodai sejarah besar bangsa ini dengan sekedar berpikir di dalam tempurung. Sebab, pembangunan daerah tidak lagi adil, maka kita butuh sejarah, butuh imajinasi merekayasa  identitas kolektif pasca kemerdekaan, menuntut keadilan di hari ini dan masa akan datang untuk Pulau Hiri yang sejahtera dan berperadaban. #Merdeka #SavePelabuhanHiri

——–

*Penulis adalah pemuda Hiri, Kota Ternate, Maluku Utara.