News  

BI Catat Transaksi Nontunai di Malut Terus Meluas

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) mencatat jumlah pengguna QRIS di Maluku Utara terus mengalami peningkatan pada 2026. Perluasan ini mendorong transaksi nontunai makin diminati masyarakat. (Foto: Andre/ANTARA Foto)

Penggunaan pembayaran digital melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Maluku Utara terus berkembang. Hingga semester I 2026, Bank Indonesia (BI) Perwakilan Maluku Utara mencatat sebanyak 120.763 orang telah menggunakan QRIS.

Angka tersebut menunjukkan pembayaran digital semakin masuk ke aktivitas transaksi masyarakat di daerah. BI menyebut penggunaan QRIS pada periode Januari-Juni 2026 meningkat signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Kepala Perwakilan BI Maluku Utara, Handi Susila, mengatakan pertumbuhan jumlah pengguna menjadi indikator bahwa masyarakat mulai semakin terbiasa menggunakan pembayaran nontunai.

Baca Juga:  SSB Gamalama Sinar Utara Juara Kompetisi Soeratin U13 Maluku Utara

“Pengguna QRIS di Maluku Utara 120.763, naik signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya terhitung Januari-Juni 2026. Jadi di Maluku Utara penggunaan QRIS semakin meluas,” kata Handi saat media briefing peluncuran SIAP QRIS di kawasan Pantai Sulamadaha, Kota Ternate, Rabu, 12 Agustus 2026.

Bukan Sekadar Menambah Pengguna

Pertumbuhan pengguna QRIS, menurut BI, masih perlu diikuti dengan peningkatan aktivitas transaksi. Sebab, tidak semua merchant yang telah terdaftar secara otomatis aktif menggunakan layanan tersebut.

BI masih menemukan merchant berstatus dorman, yakni merchant yang sudah terdaftar sebagai pengguna QRIS tetapi belum aktif bertransaksi.

Baca Juga:  Perbakin Ternate Gelar Latihan dan Seleksi Atlet Menyambut Porprov 2025

Handi menyebut kondisi tersebut menjadi salah satu pekerjaan rumah BI dalam memperluas ekosistem pembayaran digital di Maluku Utara.

“Masih ada sedikit permasalahan dari beberapa merchant yang dorman. Ini menjadi salah satu indikasi bahwa kami harus terus meningkatkan literasi dan pemahaman kepada pelaku usaha maupun masyarakat agar penggunaan QRIS semakin optimal,” ujarnya.

Artinya, perluasan QRIS tidak hanya diukur dari bertambahnya jumlah pengguna maupun merchant yang terdaftar. BI juga perlu memastikan QRIS benar-benar digunakan dalam transaksi sehari-hari.

Baca Juga:  Inovasi Baru, Ini Fungsi WWTP Klinik yang Dicetus DLH Ternate

Karena itu, edukasi kepada masyarakat dan pelaku usaha menjadi bagian penting dari strategi BI untuk mendorong digitalisasi pembayaran di Maluku Utara.

Menyasar Transportasi Antarpulau

Perluasan QRIS juga mulai diarahkan ke sektor yang sangat dekat dengan aktivitas masyarakat Maluku Utara, yakni transportasi laut.

BI tengah menjajaki penerapan QRIS untuk pembayaran layanan penyeberangan antarpulau. Rencana tersebut dinilai sesuai dengan karakteristik geografis Maluku Utara yang terdiri atas banyak pulau dan menjadikan transportasi laut sebagai salah satu moda utama mobilitas masyarakat.

“Kami saat ini melakukan penjajakan untuk mengimplementasikan QRIS di sektor transportasi penyeberangan. Nature Maluku Utara adalah wilayah kepulauan, sehingga mobilitas masyarakat menggunakan transportasi laut sangat tinggi,” kata Handi.

Baca Juga:  Seminar Patelki: Pentingnya Edukasi Penanganan COVID-19

Jika diterapkan, pembayaran digital melalui QRIS berpotensi memperluas penggunaan transaksi nontunai hingga ke titik-titik mobilitas masyarakat antarpulau.

BI akan melihat penerapan QRIS pada moda transportasi di sejumlah daerah lain sebagai referensi. Menurut Handi, QRIS sebelumnya telah digunakan dalam berbagai layanan transportasi, termasuk becak dan andong.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu rujukan untuk melihat kemungkinan penerapan sistem serupa di sektor transportasi Maluku Utara.

Baca Juga:  Jou Ngofa Firman Mudaffar Nyatakan Siap Menangkan Tauhid-Nasri di Pilwakot Ternate 2024

Taksi Bandara Juga Dibidik

Perluasan QRIS tidak berhenti pada transportasi laut. BI Maluku Utara juga tengah menjajaki penggunaan QRIS pada layanan taksi bandara.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas ekosistem pembayaran digital dari sektor perdagangan dan UMKM menuju layanan transportasi.

“Tim kami juga sudah melakukan penjajakan untuk taksi bandara. Ke depan implementasi QRIS akan terus kami perluas agar semakin memudahkan masyarakat dalam bertransaksi,” ujar Handi.

Baca Juga:  Bahasa Daerah Pulau Taliabu Resmi Masuk Kurikulum Sekolah Pada 2027

Dengan jumlah pengguna yang telah mencapai 120.763 orang, BI melihat ruang pengembangan QRIS di Maluku Utara masih terbuka lebar.

Tantangannya kini bukan hanya bagaimana menambah jumlah pengguna dan merchant, tetapi memastikan QRIS benar-benar aktif digunakan, termasuk pada sektor-sektor yang bersentuhan langsung dengan mobilitas masyarakat.

Di tengah karakter Maluku Utara sebagai provinsi kepulauan, digitalisasi pembayaran pada transportasi laut dan layanan pendukung seperti taksi bandara menjadi salah satu sasaran strategis BI untuk membawa penggunaan QRIS semakin dekat dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat.