Di Riuh Pasar Gamalama, Keluarga Kecil Itu Menanti Rumah Layak

Kisah keluarga kecil di tengah riuhnya Pasar Gamalama Ternate.

Anak lelaki Rinto berdiri menebar senyum di depan pintu rumah mereka. Lebih dari dua dekade keluarga Rinto bermukim di gubuk yang berdiri di sudut Pasar Gamalama, Kota Ternate, Maluku Utara. (Foto: Rajif Sahib/cermat)

Bau amis dari ampas ikan bercampur aroma sampah menyengat di pojok Pasar Gamalama, Ternate, Rabu, 19 Agustus 2026. Terik matahari siang itu membuat udara terasa semakin pengap. Di tengah tumpukan sampah, aktivitas pedagang dan lalu-lalang warga tetap berlangsung seperti biasa.

Di tempat itulah Risno Hayangon, 46 tahun, atau yang akrab disapa Rinto, menjalani hari-harinya. Ia bekerja sebagai buruh bongkar muat sekaligus ikut membersihkan sampah di sekitar tempat tinggalnya.

Saat ditemui cermat, Rinto tampak terbaring sejenak di dekat tempat penampungan sampah. Ia mencuri waktu untuk beristirahat di tengah rutinitas yang seolah tak pernah selesai. Bau busuk yang bagi sebagian orang terasa menyengat, bagi Rinto telah menjadi bagian dari kesehariannya.

Baca Juga:  Sherly Tjoanda Dikritik Gegara Sebut Warga Morotai Makan Indomie dan Tidur di Kardus

Lelaki kelahiran Ambon itu lebih dari dua dekade hidup di Ternate. Bersama istri dan enam anaknya, ia bertahan dari pekerjaan serabutan dengan penghasilan yang tidak pernah benar-benar pasti.

Sebagai buruh pasar, Rinto biasanya memperoleh Rp50 ribu hingga Rp100 ribu sehari. Pendapatan itu bergantung pada ada atau tidaknya muatan yang harus dibongkar dan diangkut.

“Kalau ada muatan, ada kerja. Kalau tidak ada, ya tidak ada,” ujarnya lirih.

Baca Juga:  Anisa Bobol, Pendorong Gerobak Ikan Bersertifikat di Sofifi
Risno Hayangon saat diwawancarai kru cermat di kawasan pasar. (Foto: Rajif Sahib/cermat)

Sesederhana itu kehidupan Rinto berjalan. Ada pekerjaan berarti ada penghasilan untuk dibawa pulang. Ketika tidak ada muatan, ia harus menerima kenyataan bahwa hari itu mungkin tidak membawa apa-apa untuk keluarganya.

Namun, pekerjaan bukan satu-satunya hal yang membuat Rinto akrab dengan kawasan pasar. Persoalan sampah juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-harinya.

Di sekitar tempat tinggalnya, sisa-sisa ikan kerap menumpuk. Letaknya bahkan berada tak jauh dari rumah yang menjadi tempat ia membesarkan anak-anaknya. Ketika matahari mulai meninggi, aroma amis semakin kuat dan memenuhi udara.

Baca Juga:  Dari Kali Onat, Suara Hutan Itu Terpinggirkan

Pagi dan malam hari, sisa ikan biasanya dibersihkan dengan air dari alkon agar terbawa ke laut. Menurut Rinto, sisa ikan itu kemudian menjadi makanan bagi ikan. Sementara sampah seperti karung dan kemasan dikumpulkan dan dibawa ke tempat penampungan.

Warga yang hendak membuang sampah di depan rumah Rinto. (Foto: Rajif Sahib/cermat)

Petugas kebersihan kota juga rutin mengangkut sampah, baik setiap hari maupun ketika tempat penampungan telah penuh. Meski begitu, bagi Rinto, membersihkan lingkungan tetap menjadi bagian dari keseharian warga yang tinggal di kawasan tersebut.

Di tengah kerasnya kehidupan pasar, ada persoalan lain yang diam-diam terus dipikirkan Rinto: rumah yang layak.

Baca Juga:  Geliat Eksportir Lokal Mendorong Rempah Maluku Utara ke Pasar Global

Enam anak membuat kebutuhan keluarga semakin besar. Empat anaknya masih bersekolah, sedangkan dua anak lainnya, yang berusia sekitar 10 tahun, belum mengenyam pendidikan. Dua anak tertuanya telah menyelesaikan sekolah.

Rinto tidak banyak meminta. Ia hanya berharap keluarganya suatu hari bisa memiliki tempat tinggal yang lebih layak.

Baginya, rumah bukan soal luas atau mewah. Rumah adalah tempat untuk pulang, tempat anak-anak tumbuh dan tempat sebuah keluarga menyusun harapan di tengah kehidupan yang serba terbatas.

Baca Juga:  Menjemput Berkah, Menitipkan Kecewa: Cerita dari Tanah Bicoli

Lebih dari 20 tahun tinggal dan bekerja di kawasan pasar membuat Rinto terbiasa dengan riuh pedagang, aktivitas bongkar muat, tumpukan sampah, serta bau amis yang datang silih berganti. Tetapi terbiasa bukan berarti ia tidak ingin keadaan berubah.

Ia berharap pemerintah tidak hanya melihat kawasan pasar sebagai pusat aktivitas ekonomi, tetapi juga memperhatikan warga kecil yang hidup dan menggantungkan penghasilan di dalamnya.

Di antara tumpukan sampah, karung-karung bekas, dan aktivitas bongkar muat yang tak pernah benar-benar berhenti, Rinto terus bekerja. Ia mungkin tidak memiliki banyak pilihan, tetapi masih menyimpan satu harapan sederhana: tempat tinggal yang lebih layak bagi keluarganya.

Baca Juga:  PPK Sulabesi Barat Terancam Disanksi Atas Dugaan Penggelembungan Suara

Sebab di balik hiruk-pikuk pasar dan bau amis yang setiap hari memenuhi udara, ada keluarga kecil yang juga ingin merasakan kehidupan yang lebih baik.