Kampus: Otoritarianisme dan Kuburan Intelektual

Penulis, Fahri Aufat. Foto: Istimewa

Oleh: Fahri Aufat*

 

Setelah lulus dari SMA, kebanyakan orang tua mendorong anaknya untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi. Alasan paling mendasarnya adalah agar supaya anaknya dapat mengubah bernasib lebih.

Ada tuturan sekaligus candaan yang secara eksplisit sarat akan makna, contohnya sekolah supaya kerja di kantor, atau sekolah supaya jang orang kase bodo-bodo. Artinya bahwa ada harapan besar di sana, di lembaga Pendidikan Perguruan Tinggi tak sebatas memperoleh ijazah, akan tetapi ada pergulatan dan pengembangan intelektual.

Di sana pula ruang demokrasi tumbuh dan berkembang subur. Demokrasi adalah syarat kunci tumbuh dan berkembangnya intelektualitas di perguruan tinggi.

Sejalan dengan itu, Rocky Gerung menjelaskan, lingkungan kampus sebagai tempat pertempuran dan pertengkaran, pikiran jadi, pikiran (di kampus) harus diloloskan, dalam hal ini kebebasan akademik. Tanpa itu, bagi saya, kampus hanyalah “kuburan” intelektual dan akademisi tentu jauh lebih memahami akan hal itu.

Baca Juga:  Dermaga Hiri dalam Bayang-bayang Inkonsistensi