Oleh: Aswan Kharie, Jurnalis cermat
Saya lahir dan besar di Desa Daruba, Pulau Morotai, Maluku Utara. Tempat yang bagi sebagian orang mungkin hanya dikenal lewat cerita-cerita lama. Tentang konflik, tentang keributan, dan tentang hal-hal yang tidak selalu baik untuk dikenang.
Sebagai orang yang tumbuh di sini, saya tahu betul bagaimna stigma itu bekerja. Ia tidak selalu terlihat, tapi terasa. Cara orang memandang, cara nama Daruba disebut seolah membawa beban yang harus dipikul oleh semua yang berasal dari sini.
Namun dengan berjalannya waktu, saya menyaksikan sendiri bagaimana perubahan itu terjadi. Tidak cepat, tidak instan, tapi itu nyata. Hari demi hari, Daruba mulai menata dirinya. Masyarakatnya belajar menjaga, pemudanya mulai bergerak, dan suasana perlahan menjadi lebih tenang.
Cerita ini mengingatkan saya pada kisah-kisah dalam sejarah Yunani Kuno, tentang bagaimna sebuah tempat bisa bangkit dari citra buruk menjadi ruang yang lebih hidup. Bukan karena keajaiban, tapi karena kesadaran orang-orang di dalamnya.
Daruba atau biasanya disebut Darpan, yang berada teoat di tengah-tengah pusat perkotaan, hari ini bukan lagi seperti yang dulu sering diceritakan. Ia masih menjadi tempat yang sama, dengan jalan yang sama, dengan wajah-wajah yang mungkin tidak banyak berubah. Tapi suasananya berbeda. Lebih damai, lebih rukun, dan terasa bahagia sebagai rumah bersama.
Sebagai bagian dari desa ini, saya juga melihat bagaimana generasi muda mulai mengabil peran. Mereka tidak hanya diam dan tinggal, tapi bergerak. Ada yang melanjutkan pendidikan, ada yang aktif di organisasi, adapula yang masuk ke ruang-ruang penting sebagai penentu kebijakan.
Beberapa di antaranya kini menjadi anggota DPRD, ada yang terlibat dalam lembaga sepereri Komisi Pemilihan Umum atau KPU, hingga memimpin organisasi seperti HMI dan PMII. Dan ini bukan sekadar capaian, tapi bukti bahwa Daruba punya potensi yang selama ini mungkin jarang dilihat.
Saya menulis ini bukan untuk membandingkan Daruba dengan desa lain. Karena disetiap tempat pastinya punya cerita dan perjuangannya masing-masing. Tapi sebagai seorang yang tumbuh disini, saya merasa penting untuk mengatakan bahwa perubahan itu benar-benar ada.
Daruba hari ini adalah desa yang sedang belajar memperbaiki dirinya. Bukan berarri tanpa masalah, tapi tumbuhnya kesadaran untuk tidak kembali ke masa lalu.
Tentu perubahan ini harus dijaga. Tidak cukup jika hanya dengan kata bangga, tapi juga perlu dirawat. Peran masyarakat, tokoh desa, dan terutama generasi muda menjadi kunci agar apa yang sudah dibangun tidak hilang begitu saja.
Bagi saya pribadi, desa ini bukan hanya tempat lahir. Ia adalah bagian dari sebuah perjalanan. Tempat yang mengajarkan banyak hal, termasuk bagaimana sebuah stigma bisa dilawan, bukan dengan kata-kata, tapi dengan tindakan nyata.
Dan hari ini, saya melihat sendiri, bahwa Daruba tidak lagi hanya tentang cerita lama, ia sedang menulis cerita baru, secara perlahan dan pasti.
Dan perubahan yang telah dirasakan hari ini bukan akhir dari sebuah perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Karena kewarasan setiap lingkungan tidak lahir dari ketiadaan masalah, tetapi dari cara masyarakat menyikapinya.
Ketika emosi bisa dikendalikan, ketika perbedaan tidak lagi menjadi alasan untuk saling berhadapan, maka di situlah kedewasaan sosial benar-benar terlihat.
Sebab, setiap tempat tidak menjadi baik karena kebetulan. Dan ia menjadi baik adanya orang-orang di dalamnya yang memilih untuk tetap sadar diri, sadar posisi, dan sadar akan resiko.
