PELAJARAN DARI BINTARO

Moksen Sirfefa

Oleh: Moksen Idris Sirfefa

Saya punya dua cerita tentang kematian dari Bintaro. Pada suatu sore di tahun 2015, tanpa sengaja saya bertemu dengan saudara Andi Yusuf Hakim di Bintaro Plaza. Andi dan saya sama-sama dari Fakfak. Ia lulusan fakultas hukum UII Yogya. Kedekatannya dengan para aktivis muda Papua yang bermarkas di Bendungan Hilir (Benhil) kawasan Sudirman begitu intensif dan dia dipandang seorang pemompa semangat dan inspirator bagi anak-anak Papua di markas Benhil, Jakarta.

Kami ngopi di Starbucks Bintaro yang waktu itu tidak terlalu ramai pengunjungnya. Cerita ngalor-ngidul tentang Papua, dinamika Otonomi Khusus (Otsus) hingga gerakan separatisme. Pas mendekati magrib, kami bubar dan masing-masing kembali ke rumah. Sekitar dua jam kami berpisah, saya diberitahu via Whatsapp dari seorang rekan bahwa saudara Andi telah berpulang. Seakan tak percaya atas berita ini, saya cek ke beberapa rekan dan mereka mengiyakan. Saya mendatangi alamatnya di Bintaro dan ternyata benar, tubuh yang dua jam lalu bercerita penuh semangat itu telah terbujur kaku.

Baca Juga:  Manusia Digital dan Fenomena Konten Kreator