Piala Dunia dan Musim Baku Malawang

Budhy Nurgianto, penulis. Foto: Doc. Pribadi

Oleh: Budhy Nurgianto*

 

SATU hal yang paling saya suka dari setiap turnamen piala dunia berjalan adalah budaya “baku malawang deng baku terek”. Biasanya di Ternate, orang akan baku malawang karena perbedaan politik, tapi di piala dunia justru orang berdebat tentang keunggulan tim kesayangannya. Orang-orang akan baku malawang sampai darah penghabisan.

Argumen yang dipakai bahkan “lawan-lawan” pakar olahraga dunia. Tarada yang mau mengalah dan kalah. Semua merasa paling paham tentang sepak bola, paling tahu strategi permainan, bahkan seolah-olah menjadi pelatih bayangan bagi tim nasional yang dorang dukung, dan menariknya, semua perdebatan itu berlangsung tanpa dendam.

Saya suka dan menikmati benar suasana seperti itu. Asik, penuh canda, gembira, dan terkadang menjengkelkan. Tetapi setelah pertandingan selesai, semua baku bae, duduk minum kopi lagi, dan menyiapkan bahan perdebatan baru untuk laga berikutnya. Kekalahan tim yang didukung hari ini akan menjadi bahan candaan esok pagi. Sementara kemenangan menjadi modal untuk menggoda teman-teman yang sebelumnya begitu percaya diri. Proses itu benar-benar mengalir.

Di Ternate, piala dunia memang sudah dianggap sebagai ajang hiburan untuk baku terek massal tanpa melahirkan dendam. Piala dunia bagi orang Ternate, Tidore dan Halmahera adalah simbol persatuan, persaingan sehat, dan semangat kebersamaan.

Hanya di Piala dunia, persaingan tara sampe baku mara, memutus tali kekeluargaan dan perkawanan-kayak musim pilkada. Banyak orang di Ternate yang so terbiasa dengan proses “baku malawang deng baku terek” selama penyelenggaraan olahraga itu.

Musim baku malawang deng baku terek selama Piala Dunia di Ternate sebenarnya bisa dimaknai sebagai aktivitas sosial masyarakat yang memanfaatkan olahraga sebagai sarana hiburan. Baku malawang deng baku terek bukan sekadar aktivitas saling ejek, tetapi lebih dari itu, so menjadi ruang sosial tempat masyarakat menegosiasikan identitas, pengetahuan, dan solidaritas melalui sepak bola.

Baca Juga:  Birahi Kuasa Farrel Adithama

Cuma piala dunia, banyak orang di Ternate yang berusaha menunjukkan bahwa dirinya memiliki pemahaman yang lebih baik tentang permainan, pemain, maupun strategi pertandingan. Tetapi pada saat yang sama, baku melawang itu justru memperkuat hubungan sosial antarindividu. Tak ada permusuhan dan dendam.

Meskipun Piala Dunia seringkali menunjukkan persaingan, tetapi kompetisi itu tetap saja menjadi sarana untuk memperkuat solidaritas, identitas kolektif, dan integrasi sosial.

Orang-orang Ternate telah menganggap sepakbola tidak hanya untuk ditonton, tetapi juga dimaknai dan dirayakan secara komunal, dan baku malawang menjadi medium pertukaran gagasan, sementara baku terek berfungsi sebagai mekanisme humor yang menjaga dinamika pergaulan tetap cair.

Secara konseptual, baku malawang deng baku terek di musim piala dunia ini juga bisa dipandang sebagai bentuk dalam mengukuhkan identitas sosial. Menjadi sarana untuk menunjukkan bahwa identitas sosial tidak harus menghasilkan permusuhan.

Piala dunia adalah ruang pertemuan berbagai budaya yang memungkinkan terjadinya pertukaran nilai, simbol, dan pengalaman sosial, yang dalam perspektif sosiolog Anthony Giddens menciptakan keterhubungan sosial yang melampaui batas geografis.

Dalam konteks ini, dukungan terhadap sebuah tim sepak bola peserta piala dunia berfungsi sebagai penanda identitas yang bersifat simbolik dan sementara.

Orang-orang di Ternate bisa saja jadi pendukung fanatik Argentina, Brasil, Jerman, Spanyol, Portugal, atau Inggris selama berlangsungnya turnamen, tetapi identitas tersebut tidak menghapus identitas yang lebih mendasar sebagai bagian dari komunitas sosial yang sama yaitu orang Ternate. Perbedaan afiliasi dukungan terhadap tim peserta piala dunia justru menjadi sumber interaksi dan percakapan yang memperkaya kehidupan sosial.

Itulah mengapa, setiap piala dunia, saya benar-benar menikmati suasana ini di Ternate. Piala Dunia telah memberikan torang pelajaran bahwa persaingan tidak harus berakhir dengan permusuhan. Baku malawang dan baku terek hanya menjadi candaan untuk memperkuat relasi sosial. Menumbuhkan semangat kebersamaan dan menguatkan sportivitas untuk membangun solidaritas di tengah perbedaan dan persaingan. Pokoknya Piala Dunia ini Torang baku malawang sampe abis. Gass..!

Baca Juga:  Cuan: Dari Buku Pertama ke Buku Kedua

—-

*Penulis adalah penggemar sepak bola dari kaki Gamalama