775 Tahun Ternate Lestarikan Budaya Leluhur

Rinto Taib, salah satu tim perumus hari jadi Ternate. Foto: Doc. Pribadi

Oleh: Rinto Taib*

 

PADA tanggal 29 Desember nanti tepatlah usia Kota Ternate yang ke-775 tahun. Alasan di balik pilihan tanggal tersebut sebagaimana diketahui dilatari dari peristiwa heroik seorang Sultan Baabullah mengusir Portugis untuk meninggalkan Ternate, sebuah peristiwa sejarah yang agung dan gemilang.

Kemudian, tahun 1257 dipilih dengan alasan bahwa pada tahun ini secara simbolik telah ada kekuasaan dari transformasi Tobona (mencakup Foramadiahi) dalam membentuk Sampalo sebagai kota. Dalam perkembangannya pula, Ternate sebagai salah satu kota pusaka yang kaya akan warisan budaya benda dan tak benda yang dititipkan para leluhur agar kita kembangkan bagi kemakmuran bersama. Oleh karenanya maka menjadi kewajiban kita untuk melestarikan, mengembangkan, dan memanfaatkan menjadi berdampak sebagai motor penggerak ekonomi yang berkelanjutan.

Sebagaimana menjadi tema yang diusung oleh pemerintah Kota Ternate dalam perayaan di tahun 2025 saat ini yakni: Melestarikan Budaya Tanah Lehuhur”. Berangkat dari tema itu pula berbagai rangkaian kegiatan digelar dengan partisipasi dan kolaborasi berbagai kalangan dari komunitas kreatif, OPD terkait hingga perangkat kesultanan Ternate.

Keanekaragaman hayati alam kota rempah dan juga kenakeragaman budaya di kota ini tentunya sebagai investasi untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik melalui kerja-kerja produktif dan inovatif, berkeadilan dan berkelanjutan.

Keberlimpahan kekayaan pusaka alam, pusaka sejarah dan pusaka saujana tersebut akan dapat kita manfaatkan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran bersama. Ternate adalah sebuah kota dagang dan jasa, sebuah kota yang terbuka sejak dahulu kala, yang memberikan penghidupan bagi warganya dengan keberlimpahan warisan leluhur yang terpelihara hingga kini.

Dari gastronomi, lanscape alam laut dan hamparan gunung yang indah hingga jejak sejarah kolonial yang memberi ruang bagi tumbuh kembangnya ide serta ekspresi budaya komunitas kreatif (baca ekosistem kebudayaan).

Baca Juga:  TOMA: “Bandel, Pantang Surut”

Salah satu tinggalan sejarah kolonial adalah benteng Oranje, tempat terselenggaranya festival Gastronomi di Kota Rempah sebagai salah satu dari rangkaian hari jadi Kota Ternate ke-775, tentu memiliki dampak yang luas, tidak semata secara ekonomi dan pariwisata melainkan pula ilmu pengetahuan.

Secara filosofi gastrornomi dapat dianalogikan dengan tiga pilar tungku dapur. pertama adalah makanan; kedua adalah sejarah dan ketiga adalah terpaut dengan dimensi budaya dan secara politik pula gastronomi terpaut dengan visi mewujudkan kemandirian pangan sebagai kunci kedaulatan bangsa. Pada konteks ini pula, gastronomi turut mencakup tiga program strategis yaitu upaya mewujudkan kemandirian pangan berbasis masyarakat lokal (swasembada), ketangguhan sosial ditengah disrupsi (solutif atas krisis dan disintegrasi), dan ketahanan nasional (stabilitas).

Jika kita bicara tentang kemandirian pangan, sejatinya kita sedang bicara tentang pertahanan kita dari krisis pangan dan ancaman kelaparan yang bisa saja terjadi akibat perubahan iklim, orientasi pasar hingga perubahan siklus tatanan politik ekonomi global.

Potensi gastronomi kita menjadi alasan di balik kolonialisme dimasa lalu dan dimasa bahkan pemicu bagi krisis sosial politik di masa kini dan akan datang sehingga sudah saatnya gastronomi ini harus dilihat sebagai modal mewujudkan ketangguhan sosial bukan sekedar tematik perayaan sebuah tontonan festival.

Inilah yang akan membuat kita menjadi bangsa yang kuat menghadapi krisis, hal ini sekali lagi disebabkan oleh kekayaan potensi sumber daya alam kita yang berlimpah yaitu tanah yang menyuburkan puluhan ribu tanaman yang menghasilkan makanan dan minuman termasuk obat dan rempah.

Selain festival gastronomi, kegiatan lainnya yang menarik disimak dari rangkaian HAJAT di tahun ini dengan tematik Melestarikan Budaya Tanah Leluhur adalah ditandai dengan ritual Kololi Kie (berkeliling gunung), ritual Fere Kie (naik gunung) hingga baca Do’a Kie.

Baca Juga:  Pulau Galo-Galo dan Ancaman Perubahan Iklim

Masing-masing kegiatan ritual tersebut merupakan suatu kesatuan yang lazim diselenggarakan pada setiap tahun oleh pihak kesultanan Ternate dan sangat menjadi populer dimasa kepemimpinan Sultan Alm. Mudaffar Sjah yang dirangkaikan dalam gelaran festival Legu Gam dan untuk pertama kalinya ritual tersebut menjadi bagian dari perayaan hari jadi kota Ternate yakni pada tahun 2025 saat ini.

Sebuah bagian dari komitmen dan keberpihakan implementasi kebijakan tujuan pembangunan kota Ternate sebagaimana tertuang dalam RPJMD 2025-2029 yaini: Menumbuhkembangkan Kelembagaan Sosial Dalam Bingkai 7 Nilai Dasar Kebudayaan Ternate (Kie se Gam Mogugugu Matiti Tumdi).

Perayaan HAJAT ke-775 tahun 2025 tentu menjadi menarik karena secara tematik memiliki makna yang mendalam bukan sebatas seremoni tahunan melainkan sebuah refleksi mendalam dan tindakan nyata untuk menghidupkan kebudayaan dalam konteks jaman yang terus berubah.

Ritual Kololi Kie Mote Ngolo (Mengelilingi negeri melalui jalur laut) misalnya selain sebagai wujud kesadaran akan tradisi maritim yang begitu kuat, promosi pariwisata juga perpaduan antara ritual adat dan semangat konservasi (alam laut) yang sarat akan makna eko-teologis dimana perayaan atraksi budaya yang dipadu ritual do’a sekaligus wujud penghormatan dan pelestarian alam sebagai sumber kehidupan manusia.

Dalam catatan pribadi sebagai salah satu tim perumus hari jadi kota Ternate, perayaan seperti ini belum pernah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya sejak perayaan pertama kali yang secara resmi diselenggarakan pemerintah kota Ternate pada tahun 2004 silam, atau lebih dari dua dekade silam, tentu kita bangga dan syukuri sekaligus mengapresiasinya.

Akhirnya kita pun menyadari bahwa membangun sebuah kota dengan perjalanan panjang sejarah dan peradabannya, tentu butuh komitmen untuk terus melangkah maju dan berkembang. Di tengah perubahan sosial dengan dinamikanya tentu berdampak pada perubahan kebudayaan dan orientasi nilai budaya masyarakatnya.

Baca Juga:  Optik Sebelum ke Bilik

Pada konteks demikian, kita diperhadapkan pada tuntutan untuk terus berkembang tanpa kehilangan identitas budaya yang yang telah diwariskan para pendahulu kita. Dengan demikian maka tak ada pilihan lain selain dari semangat kita untuk terus melestarikan budaya tanah leluhur yang agung.

Merawat warisan budaya tanah leluhur kita bukanlah sekadar merawat artefak dan unsur material atau kebendaan dari unsur kebudayaan semata melainkan pula melawan lupa atas peristiwa kelam sejarah masa lalu dan kehilafan serta pengabaian kita terhadap dimensi keharmonisan manusia dan alam yang telah diwariskan oleh para leluhur kita. Dirgahayu Kotaku ke-775. Semoga senantiasa diberkahi dan dirahmati Sang Pencipta alam semesta. Aamiin!

—-

*Penulis adalah salah satu Tim Perumus Sejarah Lahirnya Kota Ternate