News  

IPB Tanam 35.899 Pohon di Sukabumi, Dorong Konservasi dan Ekonomi Warga Desa Penyangga

Persiapan penanaman 35.899 bibit pohon di Desa Penyangga Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Sukabumi, Jawa Barat. Foto: Istimewa

Bertepatan dengan peringatan Hari Hutan Internasional, upaya nyata menjaga kelestarian hutan kembali digaungkan. Kali ini, inisiatif datang dari IPB University melalui program FOLU Net Sink DKSHE dengan menanam 35.899 bibit pohon di Desa Penyangga Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Sukabumi, Jawa Barat.

Ketua pelaksana kegiatan, Rinekso Soekmadi, menegaskan program ini bukan sekadar seremoni penanaman pohon. Menurutnya, kegiatan tersebut dirancang dengan pendekatan lanskap yang mengintegrasikan konservasi keanekaragaman hayati, peningkatan serapan karbon, serta penguatan ekonomi masyarakat.

“Program ini menggabungkan perlindungan lingkungan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam satu kerangka kerja,” ujarnya.

Ia menambahkan, keberhasilan konservasi sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat. Karena itu, sejak awal program disusun secara partisipatif, mulai dari penentuan lokasi hingga pelatihan teknis bagi petani, seperti geotagging, pembuatan pupuk organik, dan pestisida ramah lingkungan.

Sebanyak 1.188 petani terlibat dalam program ini dengan total lahan hampir 270 hektare. Mereka menanam 29 jenis tanaman, mayoritas merupakan Multi-Purpose Tree Species (MPTS) seperti alpukat, durian, jeruk, kopi arabika, dan pala. Selain berfungsi ekologis, tanaman tersebut juga memiliki nilai ekonomi sebagai sumber pendapatan warga.

Wakil Menteri Kehutanan, Rohmat Marzuki, yang turut hadir dalam kegiatan ini menyampaikan dukungan penuh pemerintah. Ia berharap model serupa dapat direplikasi di berbagai wilayah lain, khususnya di desa penyangga kawasan konservasi.

“Harapannya akan ada lebih banyak desa penyangga yang melakukan proses seperti ini,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan penyerahan simbolis bibit kepada perwakilan empat desa, yakni Mekarjaya, Cipeuteuy, Kabandungan, dan Cihamerang. Penanaman pohon oleh Wakil Menteri menjadi penanda dimulainya implementasi program secara menyeluruh.

Selain aksi penanaman, kegiatan ini turut menjadi forum dialog antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat. Berbagai isu dibahas, mulai dari kepastian pasar hasil pertanian hingga tantangan alih fungsi lahan.

Baca Juga:  ODGJ Diduga Lompat dari Kapal di Perairan Maitara–Ternate, Basarnas Arahkan Tim Pencarian 

Menanggapi hal tersebut, Wakil Rektor IPB, Heti Mulyati, menegaskan kesiapan institusinya dalam mendukung keberlanjutan program melalui penguatan hilirisasi dan inovasi, termasuk pengembangan Science Techno Park (STP). Ia bahkan menyatakan kesiapan IPB untuk memperluas program ke seluruh wilayah Jawa Barat.

“IPB siap jika harus memperluas cakupan hingga seluruh Jawa Barat. Kami memiliki sumber daya yang cukup,” tegasnya.

Di sisi lain, Kementerian Kehutanan juga mendorong kolaborasi lintas sektor, termasuk melalui kerja sama dengan organisasi seperti Foretika untuk melibatkan perguruan tinggi dalam agenda kehutanan nasional.

Program ini menegaskan bahwa konservasi tidak lagi bisa dilakukan secara sektoral. Diperlukan pendekatan kolaboratif yang menyatukan ilmu pengetahuan, kebijakan, dan partisipasi masyarakat. Dengan model ini, desa penyangga tidak hanya menjadi benteng perlindungan hutan, tetapi juga pusat pertumbuhan ekonomi berbasis keberlanjutan.

Langkah yang dilakukan IPB menjadi bukti bahwa target FOLU Net Sink 2030 dapat diwujudkan melalui aksi nyata yang terukur, inklusif, dan berkelanjutan.