Perjalanan kepemimpinan Eks Wali Kota Ternate dua periode, Burhan Abdurahman atau Haji Bur kini diabadikan dalam buku Jejak Abadi Sang Pengabdi: Sebuah Postscriptum. Buku tersebut resmi diluncurkan dalam agenda launching dan bacarita buku yang digelar di Royal Resto Ternate, Senin, 13 Juli 2026.
Peluncuran tersebut dihadiri akademisi, birokrat, hingga tokoh masyarakat yang membedah jalan kepemimpinan Burhan Abdurahman selama menjabat Wali Kota Kota Ternate. Diskusi ini menyoroti berbagai kebijakan dan warisan pembangunan yang dinilai masih memberi manfaat bagi masyarakat hingga kini.
Akademisi antropologi, Dr. Agus Salim Bujang, mengatakan setiap kebijakan yang ditinggalkan seorang pemimpin dapat dibaca sebagai jejak yang merekam karakter dan cara pandangnya. Dalam perspektif antropologi dan semiotika, kata dia, ruang publik maupun infrastruktur yang dibangun sesungguhnya menyimpan cerita tentang sosok di balik gagasan tersebut.
“Semua benda itu berbicara kepada kita. Kalau dibaca melalui semiotika, benda-benda yang kita lihat sesungguhnya bercerita tentang siapa kita. Begitu pula dengan masa kepemimpinan Haji Bur. Gagasan-gagasannya dimaterialkan ke dalam berbagai karya pembangunan,” ujar Agus.
Menurut ia, salah satu warisan paling monumental pada masa kepemimpinan Haji Bur adalah penataan kawasan Benteng Oranje. Meski gagasan itu telah muncul pada pemerintahan sebelumnya, realisasinya baru terwujud setelah dilakukan relokasi permukiman di sekitar benteng sehingga kawasan bersejarah itu kembali difungsikan sebagai ruang publik.
“Bagi saya, Fort Oranje bukan hanya artefak sejarah, tetapi ruang publik yang menghadirkan manfaat besar. Di sana masyarakat bisa berkesenian, berkreasi, dan berinteraksi. Itu menjadi bagian dari cita-cita Kota Pusaka yang dibangun beliau,” katanya.
Selain Benteng Oranje, Agus juga menyoroti pengembangan kawasan Tapak, kawasan ekonomi terpadu, hingga penataan Mangga Dua. Menurutnya, keberadaan ruang-ruang terbuka tersebut menjadi jawaban atas tingginya kepadatan penduduk di Kota Ternate sekaligus menciptakan ruang interaksi sosial bagi masyarakat.
“Ruang publik memberi kesempatan masyarakat untuk berekspresi. Dalam kota yang padat, ruang seperti itu sangat penting karena mampu menciptakan interaksi sosial yang sehat. Sulit rasanya mengingkari manfaat yang diberikan dari kebijakan tersebut,” katanya.
Sementara itu, Sofyan Daud menilai salah satu terobosan penting Burhan Abdurahman adalah memasukkan program baca tulis Al-Quran ke dalam kurikulum pendidikan. Ia menyebut kebijakan tersebut bukan perkara mudah karena kurikulum pendidikan diatur oleh regulasi yang ketat.
“Mengintegrasikan baca tulis Al-Qur’an ke dalam kurikulum adalah terobosan yang luar biasa. Itu kerja langit dan bumi, karena kurikulum terikat norma dan regulasi. Tetapi selama hampir sepuluh tahun berjalan, lahir generasi baru yang minimal telah menuntaskan Juz Amma sebagai salah satu syarat kelulusan di jenjang SD maupun SMP,” ungkap Sofyan.
Pandangan senada disampaikan akademisi Dr. Said Assagaf. Ia mengenang Burhan Abdurahman sebagai pemimpin yang sederhana, rendah hati, namun memiliki kemampuan membangun komunikasi dan jejaring hingga tingkat nasional.
Said mengaku kerap mendampingi Haji Bur dalam berbagai kunjungan ke Jakarta. Dari pengalamannya itu, ia menyaksikan langsung bagaimana karisma dan kemampuan lobi Burhan Abdurahman membuat banyak pihak memberikan penghormatan sekaligus dukungan terhadap berbagai kepentingan pembangunan Kota Ternate.
“Beliau orang yang sangat sederhana dan rendah hati, tetapi memiliki kemampuan melobi yang luar biasa. Setiap pejabat yang ke Jakarta bersama beliau bisa melihat sendiri bagaimana marwah, karisma, dan kewibawaan beliau menjadi magnet sehingga banyak pihak dengan senang hati membantu dan melayani,” tuturnya.
