Hardiknas dan Catatan Luka di Hutan Patani

Alnugransyah Asri. Foto: doc pribadi/istimewa

Oleh: Alnugransyah Asri

(Ketua Umum Forum Mahasiswa Pascasarjana Halmahera Tengah)


TULISAN ini tidak lahir dari jarak yang aman. Ia ditulis dengan mata yang berkaca-kaca, di antara jeda napas yang berat, seolah setiap kalimat berusaha menahan sesuatu yang sulit diucapkan. Ada perasaan yang tidak sepenuhnya bisa diterjemahkan ke dalam kata, tetapi tetap dipaksakan hadir—karena diam justru terasa lebih menyakitkan.

Pagi itu, di sebuah desa kecil di Patani Halmahera Tengah, langkah anak-anak memecah sunyi hutan. Mereka berjalan di jalan tanah yang basah, diapit pepohonan tinggi yang seakan menyimpan cerita panjang tentang hidup dan bertahan. Di punggung mereka tergantung tas sekolah—di dalamnya ada buku, dan di sela-sela buku itu, ada harapan. Harapan yang diajarkan oleh sekolah: bahwa hidup bisa berubah, bahwa masa depan tidak selalu sama dengan hari ini. Tetapi pagi itu, ada yang berbeda. Ada rasa yang tak bisa dijelaskan sepenuhnya—sejenis sunyi yang lebih dalam, sejenis takut yang tidak diucapkan.

Hari ini adalah Hari Pendidikan Nasional. Di tempat lain, ia mungkin dirayakan dengan upacara, baris berbaris serta mendengar pidato-pidato pejabat. Tetapi di sini, Hardiknas hadir sebagai pengalaman yang lebih personal—lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, lebih dekat dengan rasa.

Baca Juga:  Akal, Misteri, dan Keadilan Tuhan

Dalam perspektif Antropologi Budaya, ruang bukan hanya sekadar lokasi fisik. Ia adalah ruang makna. Clifford Geertz mengingatkan bahwa manusia hidup dalam “jaringan makna” yang mereka bangun sendiri. Dahulu, hutan Patani dimaknai sebagai sumber kehidupan—tempat bekerja, tempat pulang, tempat membangun masa depan. Kini, dalam kesadaran kolektif masyarakat, hutan yang sama perlahan berubah menjadi ruang yang menyimpan kecemasan. Ia tetap memberi makan, tetapi juga menyisakan ketakutan. Ia menjadi paradoks: sumber kehidupan yang sekaligus menghadirkan bayang-bayang kematian.

Sekolah berdiri di tengah perubahan makna itu. Di ruang kelas sederhana, guru-guru tetap mengajarkan tentang cita-cita. Mereka berbicara tentang masa depan, tentang harapan, tentang kemungkinan hidup yang lebih baik. Anak-anak duduk mendengarkan, mencoba mempercayai bahwa dunia yang diajarkan di dalam kelas benar-benar ada. Namun di luar sekolah, realitas berbicara dengan bahasa yang berbeda. Peristiwa kekerasan yang belum menemukan kejelasan itu menjelma menjadi ingatan kolektif—sesuatu yang hidup dalam percakapan, dalam diam, dalam tatapan orang tua saat melepas anaknya pergi.

Dalam antropologi, ini adalah perubahan makna ruang yang sangat dalam. Hutan bukan lagi sekadar hutan. Ia menjadi simbol dari ketidakpastian. Ia membentuk cara masyarakat merasa, berpikir, dan bertindak. Seorang anak yang berjalan melewati jalan setapak tidak hanya berjalan menuju sekolah, tetapi juga melewati ruang yang penuh dengan ingatan. Seorang ibu yang menunggu di rumah tidak hanya menunggu anaknya pulang, tetapi juga menunggu dengan rasa cemas yang tidak pernah sepenuhnya hilang.

Baca Juga:  Daerah yang Punya Istilah ‘Kalah Ganti’ Kini ‘Pecat’ 35 Tenaga Kesehatan

Di tingkat nasional, kita berbicara tentang kemajuan pendidikan: angka partisipasi sekolah yang meningkat, pembangunan yang terus berjalan. Tetapi pada perspektif ini, kehidupan tidak bisa direduksi menjadi angka. Karena yang tidak tercatat justru sering kali yang paling menentukan: rasa takut, kecemasan, dan luka yang diam-diam hidup dalam keseharian masyarakat.

Di Patani Halamahera Tengah, pendidikan tidak hanya menjadi proses belajar. Ia menjadi ruang bertahan. Guru-guru tidak hanya mengajar, tetapi menjaga agar harapan tetap hidup. Anak-anak tidak hanya belajar membaca dan menulis, tetapi belajar untuk tetap berjalan, meski dunia di sekitar mereka tidak sepenuhnya aman. Ini adalah bentuk ketahanan budaya—cara masyarakat menjaga makna hidup di tengah situasi yang rapuh.

Namun ada batas dari ketahanan itu. Harapan tidak bisa terus-menerus dipikul sendirian oleh masyarakat. Pendidikan tidak bisa berdiri kokoh jika rasa aman tidak hadir. Negara tidak boleh hanya hadir dalam angka dan kebijakan, tetapi juga dalam keadilan yang nyata.

Baca Juga:  Sahril dan Lakon Jurnalis Jihad

Hutan Patani hari ini berdiri sebagai simbol yang getir: tempat masyarakat menggantungkan hidup, tetapi juga tempat di mana ketakutan bersemayam. Ia adalah ruang yang seharusnya memberi kehidupan, tetapi justru menjadi ruang yang menyimpan cerita-cerita yang belum selesai. Dan selama cerita itu belum menemukan kejelasan, luka itu akan terus hidup dalam ingatan kolektif.

Hari ini, dari Patani, Hari Pendidikan Nasional bukan sekadar perayaan. Ia adalah pengingat. Bahwa pendidikan membutuhkan lebih dari sekadar buku dan sekolah. Ia membutuhkan keadilan, rasa aman, dan keberpihakan yang nyata.

Dari langkah kecil anak-anak yang tetap berjalan ke sekolah, dari doa orang tua yang tidak pernah putus, dari harapan yang terus bertahan meski diuji. Maka biarlah catatan ini tidak berhenti sebagai refleksi. Biarlah ia menjadi suara. Suara yang memanggil, suara yang mendesak, suara yang tidak ingin diam.

Baca Juga:  Nota untuk Donny

Hari ini 02 Mei 2026 saya mengucapkan Selamat Hari Pendidikan Nasional—dari Patani, tempat anak-anak tetap berjalan ke sekolah sambil memeluk harapan dan menahan takut. Momen ini bukan sekadar perayaan, tapi panggilan hati: usut tuntas pembunuhan di hutan Patani, agar harapan itu tumbuh tanpa luka.

Editor: Tim