News  

Kasus Penderita ISPA di Lingkar Tambang Halmahera Tengah Meningkat

Kondisi perkampungan Lelilef di Halmahera Tengah, Maluku Utara. Potret aktivitas warga di tengah tebaran debu jalanan. Foto: Yunita Kaunar/kalesang.id

Jumlah penderita Infeksi Saluran Pernapasan (ISPA) di wilayah lingkar tambang Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, saat ini terus mengalami peningkatan signifikan.

Kepala Puskesmas Lelilef di Weda Tengah, Halmahera Tengah, Bahasyuan Zami Hasan mengatakan bahwa jumlah penderita ISPA ini meningkat seiring kehadiran industri tambang.

“Kalau ISPA karena aktivitas tambang memang sudah pasti, namun kami juga terus meminta agar masyarakat perlu memiliki kesadaran sendiri dengan tetap menggunakan masker dan menutup mulut saat beraktivitas,” ucap Bahasyuan, pada Desember 2023.

Dikutip dari Kemkes.id, ISPA merupakan penyakit infeksi saluran pernapasan akut dengan beragam penyebab, seperti  virus, bakteri, bahkan jamur. Selain itu, dampak penurunan kualitas udara juga dapat menyebabkan seseorang terkena ISPA.

Bahasyuan menyebut, peningkatan penderita ISPA di wilayah Lingkar Tambang Halmahera Tengah terjadi selama periode 2018-2022. Penurunan kualitas udara merupakan salah satu penyebabnya.

Inerson (29), Warga Desa Lelilef Sawai mengaku debu yang disebabkan oleh aktivitas tambang sudah menjadi pemandangan umum di wilayah mereka. Tak sedikit warga mengeluh lantaran terdampak.

“Setiap hari torang (kami) di sini diterpa debu. Sampai masuk ke kamar tidur dan dapur. Bisa dibilang di sini tak ada lagi udara bersih yang dapat dihirup,” ucapnya.

Menurut Inerson, wilayah Lelilef yang dekat dengan beberapa konsesi tambang nikel membuat warga rentan terpapar debu. Kondisi tersebut memungkinkan penderita ISPA kian bertambah.

“Kalian bisa merasakan sendiri kalau masuk daerah Lelilef, meski pakai masker tetap saja merasa gatal pada tenggorokan,” ucapnya.

UPTD Puskesmas Lelilef mencatat sejak tahun 2018 hingga 2022 atau sejak lima tahun terakhir jumlah penderita ISPA di wilayah tersebut mengalami peningkatan signifikan.

Baca Juga:  Peringati Hari Bhayangkara, Polda Malut Gelar Bazar UMKM dan Berbagi Hadiah ke Masyarakat

Persentasenya, pada 2018 terdapat 351 kasus, tahun 2019 sebanyak 852 kasus, tahun 2020 sebanyak 434 kasus, 2021 sebanyak 729, sementara pada tahun 2022 terdapat 1.100 kasus.

Adapun penderita common cold (ngasofaringitis akut) yang merupakan penyakit infeksi virus pada hidung dan tenggorokan (tepatnya pada saluran pernapasan bagian atas). Penyakit ini juga termasuk jenis flu biasa.

Jumlah penderita common cold di wilayah Lelilef tahun 2018 sebanyak 720, tahun 2019 sebanyak 1313, tahun 2020 sebanyak 607 dan tahun 2022 sebanyak 990 kasus.

Bagi warga, dampak aktivitas tambang tidak hanya dirasakan oleh nelayan dan petani, tetapi juga memengaruhi kesehatan anak-anak dan lansia di wilayah lingkar tambang Halmahera Tengah.

Menurut Marselina, warga lainnya, kegiatan tambang dan PLTU di Desa Gemaf menyebabkan sejumlah anak dan orang tua mengalami masalah pernapasan, seperti batuk dan sesak nafas.

“Saya punya cucu itu, lihat saja, batuknya tidak berhenti,” ujarnya.

“Lihat saja sendiri, ketika kita menyeka tanah dengan tangan, tanah kita berubah menjadi hitam semua. Itu debu dari aktivitas PLTU perusahaan PT IWIP,” sambungnya.

Cerobong asap milik perusahaan yang terus mengeluarkan polusi, menurut Marselina, bikin warga sekitar harus pasrah.

ISPA juga meningkat di daerah lain kawasan tambang Weda Tengah. Di Sagea, Halmahera Tengah, penyakit serupa mengalami peningkatan sejak bercokolnya industri pertambangan.

“Kasusnya memang terus meningkat tapi saya tidak bisa divonis bahwa itu karena perusahaan, ini juga karena banyak orang penderita ISPA juga semakin meningkat,” kata Kepala Puskesmas Desa Sagea, Abdul Basit, saat dikonfirmasi.

Abdul Basit menyebut pihaknya belum mengantongi data pencemaran dan kualitas udara. Hal itu bikin sulit untuk mengidentifikasi penyebab peningkatan ISPA.

Baca Juga:  Hotel Vellya

Ia bilang, pengukuran kualitas udara di Sagea baru dilakukan tahun 2023 oleh sejumlah peneliti dari luar daerah.

“Baru dilakukan tahun ini oleh peneliti dari Ambon, karena kita di puskesmas sini tidak memiliki kewenangan untuk melakukan uji coba kualitas udara,” ujarnya.

Sementara yang dilakukan pemeriksaan dari puskesmas di Sagea, hanya kualitas air, seperti air sumur, air galon.

“Dari air sumur dan galon yang kita periksa semua memenuhi baku mutu, dan layak dikonsumsi,” katanya.

Kendati begitu, kata dia, jika dilihat dari mobilitas penduduk sebelum ada tambang dan sesudah tambang pertumbuhannya sangat drastis, karena lokasi dulu yang merupakan hutan sekarang sudah dijadikan pemukiman warga.

“Artinya ada aktivitas yang meningkat sehingga ISPA juga ikut meningkat,” terangnya.