News  

Membedah Seni Bertahan Hidup Gen Z di Kota Ternate

Suasana diskusi di Kafe Drupadi Kota Ternate. Foto: Eko Pujianto/cermat

Universitas Terbuka (UT) Kota Ternate, Maluku Utara, menggelar diskusi publik bersama organisasi mahasiswa (ormawa) di Drupadi Kafe, Sabtu, 7 Februari 2026.

Diskusi bertajuk “Bacarita Lebe Lanjut: Ngopi Biar Waras” itu mengangkat tema tentang fenomena treatonomics dan seni bertahan hidup gen z di tengah tekanan sosial yang kompleks.

Faris Bobero, CEO Media Cermat, dalam diskusi itu menyampaikan kritiknya terhadap sejumlah teori Barat dalam melihat klasifikasi generasi. Ia mempertanyakan relevansi teori perubahan sosial Barat yang sering dipaksakan dengan konteks di Indonesia tanpa melihat akar lokal.

Baca Juga:  Anggota Bhabinkamtibmas Oba Utara Tangkap DPO Kasus Pelecehan Seksual yang Kabur dari Ternate

Secara spesifik, Faris mencontohkan Kafe Jarod di Ternate dalam pendekatan Jurgen Habermas mengenai ruang publik. Namun, ia menemukan anomali yang menarik: di dalam ruang publik Jarod, terdapat klasifikasi ruang privat yang terbentuk secara organik.

“Berdasarkan riset skripsi saya, di dalam ruang publik itu ada ruang privat di Jarod, secara non-fisik, orang tahu di mana titik nyamannya. Ada area untuk komunitas game, jurnalis, perbankan, hingga polisi. Mereka merasa aman di titik-titik tersebut,” kata dia.

Ia juga merefleksikan pengalamannya mengajar di Sekolah Rimba, Asmat, di Papua. Di sana, anak-anak menciptakan ruang belajarnya sendiri ada yang di bawah meja, ada yang di atas meja, ini merupakan bentuk adaptasi dan seni bertahan hidup dalam menuntut ilmu.

Baca Juga:  Jose Wilkson, Pemain Asal Brasil yang Direkrut Memperkuat Malut United di Putaran Kedua Liga 2

Faris turut menyampaikan otokritik terhadap masa lalunya sebagai aktivis yang eksklusif. “Dulu saya merasa paling pintar dengan diskusi sosial-budaya dan enggan duduk dengan anak-anak fotografi atau komunitas kreatif yang kami anggap hedonis. Tapi nyatanya, mereka jauh lebih produktif dan memiliki daya tahan hidup yang lebih kuat secara ekonomi dan kreativitas,” ungkapnya.

Sementara narasumber lainnya, praktisi psikologi Nur Amalia D. Mandar, memvalidasi fenomena ini sebagai mekanisme pertahanan mental. Amalia menjelaskan bahwa dalam psikologi, pengelompokan generasi bertujuan mempermudah pemahaman pola perilaku yang lahir dari perbedaan sejarah dan teknologi.

Terkait treatonomics, Amalia melihat perilaku gen z yang gemar melakukan self-reward atau treat (seperti ritual ngopi) sebagai upaya menjaga kewarasan emosional. Bagi seorang psikolog, kafe bukan sekadar tempat minum kopi. Ini adalah ruang pemenuhan kebutuhan emosional.

Baca Juga:  Taliabu dan Kepulauan Sula Paling Tertinggal

“Apa yang disebut Faris sebagai ‘titik nyaman’ adalah kunci; rasa aman (secure) di suatu tempat membuat individu berani mengekspresikan diri dan terbuka dalam berdiskusi,” paparnya.

Ia juga menyoroti hambatan komunikasi antargenerasi. Menurutnya, seni bertahan hidup gen z membutuhkan fleksibilitas kognitif, yaitu kemampuan untuk memahami sudut pandang berbeda agar tidak terjebak dalam konflik nilai yang menghambat kolaborasi.

Akademisi UT Ternate, Azizah M. Anisa, menarik benang merah ke dunia pendidikan. Baginya, seni bertahan hidup gen z sangat bertumpu pada kemandirian belajar dan literasi digital. Di tengah sistem Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh (PTJJ), mahasiswa dituntut memiliki disiplin internal yang tinggi untuk tetap survive.

Baca Juga:  Viral! Anak Wakapolres Bongkar Dugaan Perselingkuhan Ayahnya dengan Oknum Anggota DPRD Malut

“Seni bertahan hidup bagi mahasiswa saat ini adalah kemampuan membedah realitas di tengah banjir informasi. Literasi digital bukan hanya soal bisa pakai internet, tapi soal memilah mana informasi akademik yang kredibel dan mana yang sekadar kebisingan media sosial,” tegas Azizah.

Ia juga menekankan bahwa akademisi harus berani keluar dari “Menara Gading”. Azizah mendorong agar ilmu pengetahuan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi harus didialogkan dengan realitas sosial di tempat-tempat seperti Jarod.

Dengan mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam pembelajaran, perguruan tinggi dapat mencetak lulusan yang tidak hanya pintar secara teori, tapi tangguh bertahan hidup di masyarakat.

Baca Juga:  Demokrat Malut Optimistis Raih 5 Kursi di DPRD Provinsi
Penulis: Eko PujiantoEditor: Rian Hidayat