Puisi Moti dan Mimpi Perubahan

Oleh: Budhy Nurgianto
Journalist I Penikmat Sejarah

Pada tahun 1968, John Giorno seorang penyair Amerika Serikat meluncurkan sebuah hotline Dial-A-Poem di New York, untuk mengirimkan rekaman puisi ke jutaan penelepon di seluruh kota, secara instan dan gratis. Kala itu hotline Dial-A-Poem itu menjadi kolase karya praktisi yang bisa menyatukan kontributor dan pendengar dalam menyalurkan karya puisi.

Dalam kata-kata Giorno, “Puisi tidak boleh dan  tidak dapat dibatasi pada kata-kata tercetak.” Selama bertahun-tahun, Giorno lalu bisa menambahkan rekaman puisi yang disampaikan oleh berbagai tokoh dari jaringan interdisipliner yang mencakup artis, musisi, dan aktivis politik, jurnalis dan budayawan.

Pada Juli 2023, Budi Janglaha, Irfan Achmad dan beberapa kawan seniman, dan Jurnalis- yang saya kenal baik-menginisiasi sebuah gerakan mengumpulkan puisi berceritakan tentang pulau Moti di Ternate. Mereka lalu mempublikasi hasil kiriman puisi dari berbagai kalangan itu di sosial media dengan sedikit sentuhan grafis. Hasilnya, dalam waktu tiga pekan, 178 puisi terkumpul. Gerakan kampanye “Moti1322”, yakni sebuah inovasi seni dan budaya untuk mengenalkan kembali kedigdayaan Moti dan menanamkan semangat kembali pulang kemudian mereka gaung-gaungkan.

Baca Juga:  Berita yang Ugal-ugalan