Ruang Hidup Kebudayaan

Sebuah Orasi Kebudayaani di Akhir Tahun 2025

Rinto Taib, salah satu tim perumus hari jadi Ternate. Foto: Doc. Pribadi

Oleh:
Rinto Taib
(Kepala Museum Sejarah Ternate)

Beragam kegiatan diselenggarakan berbagai pihak dan kalangan dalam rangka menyambut tahun baru di berbagai daerah di Indonesia, tak terkecuali di kota Ternate. Ragam acara digelar tersebar luas di berbagai kawasan dan salah satunya di kawasan cagar budaya benteng Oranje Ternate.

Refleksi akhir tahun dengan bertajuk “775 tahun Ternate dan 61 tahun Universitas Khairun menuju Kota dan Kampus Literasi” yang diselenggarakan oleh Forum Dosen Unkhair bersama komunitas di benteng tersebut berlangsung sukses pada Rabu (31/12/2025).

Berbagai rangkaian kegiatan digelar antara lain: Orasi Kebudayaan (penulis), talkshow (bersama: Prof. Dr. Abdulrasyid Tolangara, Prof. Dr. Muhammad Aris dan Prof. Dr. Rusman Soleman) hingga pertunjukan musik dari Indonesia Drum Ternate, Ras Ternate dan ejumlah musisi lainnya yag tampil memukau dengan beragam gendre musik dimalam itu.

Sebuah momentum kolaborasi yang seolah kembali menegaskan akan nilai pemanfaatan benteng Oranje sebagai ruang hidup kebudayaan. Dan inilah yang menjadi tematik saya ketika didaulat penyelenggara di salah satu sesi acara pada malam itu, Orasi Kebudayaan.

Pentingnya ruang hidup kebudayaan seolah sedikit menjawab kegelisahan kalangan seniman dan budayawan lokal akan kebutuhan gedung kesenian selama ini. Benteng Oranje sebagaimana diketahui telah menjadi episentrum aktivitas berkesenian, pementasan budaya dan rumah bersama komunitas kreatif di kota rempah (craetive hub) sekaligus sebagai destinasi wisata sejarah favorit di Maluku Utara. Dengan keberadaan fasilitas amphitheater yang selalu digunakan untuk berbagai pertunjukan seni budaya, museum sejarah Ternate dan museum rempah-rempah kota Ternate, keberadaan UMKM dengan layanan caffe, aktivasi komunitas dengan ragam gendre sebagai ekosistem pemajuan kebudayaan telah memberi peran positif bagi peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan juga Indeks Pembangunan Kebudayaan kota Ternate.

Baca Juga:  Membaca Gesture dan Retorika Gubernur Sherly

Upaya peningkatan dan pengembngan sumber daya manusia di kawasan cagar budaya yang selama ini digelar berupa seminar, workshop, diskusi terpumpun dan sejenisnya termasuk talkshow yang berlangsung di momen penghujung akhir tahun 2025 ketika itu telah turut menjadikan kawasan cagar budaya benteng oranje sebagai “ruang konseptual” yang memadai.

Kehadiran dan giat-giat intelektual kalangan akademik di ruang pusaka ini ikut mendorong perubahan regulasi kebijakan pemerintah yang berorientasi dan berpihak pada masyaarakat tempatan. Realitas ini juga mendorong aktivitas dunia riset keilmuan untuk mengkaji lebih mendalam potensi sejarah negeri ini melalui tinggalan arkeologis, tinggalan sejarah dan dinamika kekuasaan yang melingkupi kehidupan masyarakatnya di setiap periode jaman dimasa lalu bagi masa depan yang lebih baik.

Sebagai ruang konseptual, tentu akan semakin menarik jika kita kaji nilai penting ilmu pengetahuan dari keberadaan tinggalan sejarah masa lalu disekitar kita yang tentunya belum terungkap dan belum dikaji secara lebih mendalam. Benteng Oranje misalnya, memiliki gedung dan bangunan yang menjadi saksi bisu perdagangan rempah dimasa lalu, tentu menyimpan sejuta misteri yang tak nampak di permukaan dan pandangan mata kita. Tentu membutuhkan keseriusan yang lebih untuk menemukan ide dan gagasan yang lebih spektakuler atas item-item yang nampak disekitarnya.

Tak hanya dari aspek kawasan, bangunan, situs ataupun benda-benda yang terkandung dalam kawasan ini melainkan jejak pikiran manusia dan pengetahuan yang agung juga menjadi hal yang menarik untuk diselami. Diantaranya yang menjadi misteri yang belum terungkap adalah makna arsitektural dari setiap bangunan dan gedung yang nampak berbeda antara satu dengan lainnya, periode sejarah dan pemanfaatan bangunan gedung, jejak kota tua komunitas Melayu (town of Malayo) yang menjadi pemukiman awal kawasan (lanscape heritage), makna simbolis jejak arkeologi seperti nampak pada beberapa benda prasasti makam Belanda dan dugaan keberadaan labirin di ruang bawah tanah yang bisa saja mengarah pada dua dimensi kegunaan atau peruntukannya yaitu sebagai jalur evakuasi terjadinya bencana alam atau perang hingga kepentingan gudang senjata dan penyimpanan harta benda yang terdapat dibalik keagunan bangunan kolonial tersebut.

Baca Juga:  Partisipasi Perempuan dalam Lembaga Pemilu

Dalam perspektif kajian geologi, hal tersebut menjadi penting terkait kebencanaan, yaitu untuk memahami potensi dan resiko kebencanaan di ruang cagar budaya yang berdampak pada keselamatan pengunjung maupun aktivitas kebudayaan lainnya. Kajian ini tentu ikut berdampak pada langkah-langkah konservasi bangunan dan kawasan cagar budaya yang melahirkan program kebijakan lainnya seperti penguatan struktur, zonasi kawasan rentan bencana, tata ruang hingga edukasi dan pelatihan tanggap bencana di kawasan cagar budaya yang bersandar pada kaidah-kaidah konservasi bangunan kolonial tentunya.

Dalam konteks kajian tentang permuseuman, kita dapat mengkaji lebih dalam tentang sistem informasi manajemen koleksi museum dengan menjadikan Museum Sejarah Ternate maupun Museum Rempah-rempah kota Ternate ataupun Museum Memorial Kesultanan Ternate. Hal ini menjadi relevan dengan perkembangan teknologi yang semakin meningkat saat ini yang dapat diteraapkan oleh pengelola museum khususnya yang berkaaitan dengan sistem informasi berbasis web museum yang dapat mempublikasikan ragam koleksi serta program museum dan lain-lain sebagainya.

Secara konseptual, riset keilmuan seputar pengembangan cagar budaya juga dapat dikaji dalam ragam perspektif lainnya, seperti kepariwisataan (virtual tour), kesejarahan, ekonomi (manajemen aset) hingga arkeologi (eskavasi dan konservasi). Luasnya cakupan riset tersebut memberikan gambaran kepada kita tentang nilai penting benteng dan cagar budaya lainnya sebagai ruang konseptual dimana kita membaca ruang tidak sebagai material fisik semata melainkan memahami ruang berpengaruh pada aktivitas dan relasi sosial kultural manusia secara holistik yang merepresentasikan sebagai puncak pencapaian peradaban dari setiap jamannya.