Selekta dan Jejak Literasi Masa Lampau di Ternate

Tampak depan bangunan Toko Buku Selekta di Jln. Hasan Boesoeirie, Kelurahan Santiong, Ternate Tengah. Foto: Eko Pujianto/cermat

DI antara riuhnya bising kota dan lalulalang kendaraan, gedung dengan arsitek klasik itu tampak berdiri kokoh di Kawasan Jalan Hasan Boesoirie, Kelurahan Santiong. Ia adalah toko buku Selekta, yang sejatinya menandai geliat literasi masa lampau di Kota Ternate.

Bagi masyarakat luas, bangunan tersebut tidak sekadar menjadi tempat yang menjajakan keperluan membaca serta menulis, tetapi hadir sebagai toko buku paling ikonik warga Ternate yang pernah mengunjunginya.

“Pertama kali dibuka itu sejak 1958,” ucap Ifdal Assegaf (66 tahun), pemilik Toko Selekta, saat disambangi cermat siang itu, Sabtu, 31 Januari 2026.

Baca Juga:  DPRD Haltim Bersama Imigrasi Tobelo Perkuat Pengawasan Orang Asing

Sejak pertama kali didirikan, menurut Ifdal, Selekta telah menjalin kerja sama dengan berbagai penerbit buku untuk menyajikan bahan bacaan kepada masyarakat.

“Penerbit saat itu di antaranya Pustaka Pelajar, Grasindo hingga Gramedia,” ucapnya.

Sejumlah pengunjung melihat penyediaan buku-buku di Selekta. Foto: Eko Pujianto/cermat

Ifdal tak dapat menampik bahwa Selekta memang menjelma sebagai jembatan perjalanan intelektual masyarakat selama lebih dari setengah abad.

Di sisi lain, toko ini juga merupakan simbol keteguhan sebuah keluarga dalam menjaga warisan dan pelayanan untuk masyarakat.

Baca Juga:  Mengenal Salahakan Rubohongi dari Ternate

Menurut Ifdal, nama “Selekta” sendiri memiliki asal-usul unik yang tak lazim diketahui banyak orang, “Nama ini dipilih orang tua kami setelah terinspirasi dengan salah satu tempat wisata di Jawa Timur, tepatnya di wilayah Malang-Surabaya, yang pernah mereka kunjungi,” kata ia.

Nama ini terus dipertahankan tanpa perubahan sedikit pun sejak hari pertama berdiri, sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarahnya.

Ifdal mengaku koleksi buku di Selekta dari masa ke masa memang melewati berbagai fase perkembangan literasi. Sejak tahun-tahun pertama, koleksinya masih cukup terbatas, didominasi oleh majalah, koran, dan buku-buku agama.

Kondisi penyesuaian pasar memaksa Selekta fokus menjajakan alat tulis kantor.

Hingga masa kejayaannya, Selekta pun dikenal sebagai toko buku paling lengkap di Ternate. Lantai duanya menjadi saksi bisu tersedianya beragam buku pengetahuan, mulai dari bidang hukum, ekonomi, teknik, kesehatan, hingga politik dan sosial.

Baca Juga:  Catatan Petualangan ke Selatan Halmahera

Sampai era transisi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, toko ini mulai jarang memesan buku-buku umum atau buku teks mahasiswa karena perubahan pasar.

Meski demikian, “harta karun” berupa buku-buku tua dan langka seperti Piagam Madinah masih tersimpan di rak-rak toko.

Ifdal bilang, fokus penjualan di Selekta saat ini lebih banyak mengembangkan penjualan Alat Tulis Kantor (ATK) dan tetap mempertahankan Al-Qur’an serta buku-buku agama.

Salah satu rahasia umur panjang Selekta terletak pada cara mereka memperlakukan manusia di dalamnya. Toko ini dijalankan sebagai sebuah “Keluarga Kecil”. Ifdal menyebut, mereka sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah memberhentikan karyawan.

Baca Juga:  Dodengo: Tak Sekadar Seni Bela Diri

Hubungan kerja yang dibangun sangat humanis, ketika mereka dapat berkolaborasi dengan pemerintah kota atau setiap kegiatan penjualan buku
karyawan biasanya hanya berhenti jika ingin menikah atau pindah pekerjaan atas kemauan sendiri.

Koleksi buku-buku tua masih tersedia di rak-rak buku Toko Selekta.

Bagi Ifadal, menjalankan penjualan di Toko Selekta adalah bentuk menjalankan amanah. Estafet kepemimpinan dimulai dari orang tua, turun ke kakak pertama, lalu kakak kedua, hingga akhirnya dikelola olehnya.

Kehadiran Selekta Mini juga menjadi bukti bahwa usaha ini terus berupaya beradaptasi tanpa meninggalkan nilai-nilai lamanya.

Baca Juga:  Puspaga Bisa Jadi Solusi Maraknya Penggunaan Lem di Kalangan Remaja

Hingga saat ini, Selekta tetap menjadi tujuan bagi pelanggan setia mulai dari pelajar, mahasiswa, dosen, hingga pegawai instansi pemerintah yang mencari kelengkapan dan nilai historis di setiap sudut raknya.