News  

Jakofi dan Proyek Kebaikan

Sultan Tidore Husain Alting Sjah saat menyampaikan pesan kepada forum. Foto: Eko Pujianto/cermat

“Saya pernah bertanya pada Sultan Tidore, Ou (sebutan untuk sultan) mau jadi apa? Ou bilang: Saya ingin menjadi orang baik,” demikian kata Hasby Yusup, Anggota DPD wilayah Maluku Utara, saat hadir di Buka Puasa Bersama di Selasar Jakofi, Kota Ternate, Selasa 17 Maret 2026.

Suasana hangat dan penuh keakraban mewarnai diskusi sekaligus silaturahmi komunitas itu. Dalam perbincangan tersebut, Sultan Tidore Husain Alting Sjah membuka diskusi dengan refleksi mendalam tentang perjalanan hidup dan makna perjuangan. Ia menekankan bahwa dinamika kehidupan sejatinya telah dimulai sejak usia muda, namun puncak kematangan justru hadir di usia yang lebih matang.

Mengambil teladan dari Nabi, ia menjelaskan bahwa Rasulullah SAW menerima amanah kerasulan pada usia 40 tahun dan mencapai puncak perjuangan di usia 63 tahun. Dari sana, ia menarik pelajaran bahwa kehidupan tidak berhenti pada usia tertentu, bahkan usia 60 tahun bisa menjadi titik awal kebangkitan.

Baca Juga:  Pulau Mangoli di Sula Segera Jadi Kabupaten Baru

“Jangan pernah merasa selesai hanya karena usia. Banyak tokoh dunia justru mencapai puncaknya di usia senja,” ujarnya, merujuk pada sosok seperti Mahathir Mohamad dan Donald Trump.

Lebih lanjut, Sultan menegaskan bahwa ukuran utama dalam hidup bukanlah kemenangan atau kekalahan secara materi, melainkan keberpihakan pada nilai kebenaran. Ia mencontohkan peristiwa Perang Uhud sebagai pelajaran bahwa kekalahan bukan akhir, melainkan awal dari kebangkitan.

Menurutnya, yang terpenting adalah menjaga nilai kebenaran agar tetap hidup. Analogi tentang burung pipit yang berusaha memadamkan api saat Nabi Ibrahim AS dibakar menjadi simbol bahwa sekecil apa pun usaha, selama berpihak pada kebaikan, tetap memiliki makna.

Baca Juga:  DKP Malut Dinilai Gagal Awasi Ilegal Fishing di Perairan Pulau Taliabu

Dalam bagian lain, Sultan juga membagikan pengalaman pribadinya pascaputusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. Ia mengaku sempat merasakan keterpurukan, namun segera bangkit karena merasa berada di jalan yang benar.

“Bagi saya, yang penting bukan jabatan, tapi bagaimana kita tetap menjadi orang baik hingga akhir hayat,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan bahwa kemuliaan tidak terletak pada kekuasaan, melainkan pada keteguhan prinsip dan keikhlasan dalam mengabdi kepada masyarakat. Bahkan, ia mengaku tetap membantu pihak yang menang dalam kontestasi, tanpa menyimpan rasa kecewa.

Baca Juga:  Seorang Ibu Bhayangkari Minta Kapolda Maluku Utara Tinjau Kembali Putusan Perbuatan Suaminya

Dalam kesempatan itu, Sultan turut mengingatkan pentingnya menjaga nilai-nilai peradaban Maluku Kie Raha yang menurutnya memiliki akar sejarah panjang dan kuat. Ia menyebut kawasan ini sebagai bagian dari peradaban besar yang telah eksis jauh sebelum negara-negara modern terbentuk.

Selain itu, ia juga menyinggung kepemimpinan nasional, dengan harapan kepada Prabowo Subianto agar mampu menjaga amanah rakyat dan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Ia menekankan pentingnya pemimpin untuk mendengar nasihat ulama dan tokoh bijak, bukan semata-mata pertimbangan politik.

Sementara itu, Masri Hidayat dalam diskusi yang sama menyoroti kondisi ekonomi dan sosial di Maluku Utara yang tengah menghadapi tantangan serius, terutama terkait transfer dana daerah dan Dana Bagi Hasil (DBH).

Baca Juga:  Eramet Indonesia dan YCAB Foundation Dorong UMKM Perempuan Lewat Program LAKSMI di Ternate

Ia menegaskan bahwa Maluku Utara harus memiliki posisi tawar yang lebih kuat di hadapan pemerintah pusat, mengingat kontribusi daerah ini terhadap cadangan nikel nasional yang mencapai sekitar 30 persen.

“Kontribusi besar ini harus sebanding dengan perhatian terhadap kesejahteraan masyarakat lokal,” tegasnya.

Menurutnya, dampak persoalan tersebut sudah dirasakan langsung oleh masyarakat hingga ke tingkat rumah tangga. Karena itu, ia mendorong adanya gerakan kolektif yang melibatkan mahasiswa, akademisi, tokoh masyarakat, wartawan, hingga institusi adat dan kesultanan.

Baca Juga:  Mubes Fagogoru V Resmi Dihelat, Wacana Pembentukan Provinsi Baru Menguat

Gerakan ini dinilai penting untuk memperkuat posisi tawar daerah sekaligus memperjuangkan hak-hak masyarakat Maluku Utara demi masa depan yang lebih baik.

Pertemuan tersebut ditutup dalam suasana kekeluargaan. Mereka sepakat untuk terus menjaga silaturahmi, membangun komunikasi, serta merawat gagasan bersama demi kontribusi nyata bagi masyarakat.

Penulis: Eko PujiantoEditor: Rian Hidayat