News  

4 Buku Kesultanan Diluncurkan, ICMI dan Disarpus Ajak Publik Mengulik Sejarah Maluku Utara

Diskusi buku Sejarah Empat Kesultanan dan Peradaban Maluku Utara di Pendopo Kesultanan Ternate. Foto: Galim/cermat

Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Maluku Utara bekerja sama dengan ICMI Orwil Malut menggelar peluncuran dan diskusi empat buku Sejarah Kesultanan dan Peradaban di Maluku Utara.

Kegiatan yang berlangsung di Pendopo Kesultanan Ternate, Jumat, 30 Januari 2026, ini sekaligus menjadi ruang temu antara akademisi, budayawan, serta pemerhati sejarah lokal.

Empat buku yang diluncurkan masing-masing berjudul Warisan Tamaddun Islam Kesultanan Ternate; Kesultanan Bacan: Dinamika Kekuasaan dan Kosmopolitanisme Ekonomi Global; Kesultanan Jailolo dan Keberagaman Sukubangsa di Halmahera Barat; serta Manusia Tidore: Sejarah, Peradaban, dan Kesultanan.

Diskusi buku tersebut dipandu oleh Marjorie S. Amal sebagai moderator dan menghadirkan empat pembedah, yakni Prof. Jubair Situmorang, M.Ag., Idris Sudin, S.P., M.Si., Mustafa Mansur, S.S., M.Hum., serta Irfan Ahmad, S.S., M.A. Para pembedah menilai keempat buku tersebut berhasil memperkaya khazanah sejarah lokal karena memadukan tradisi lisan dengan sumber-sumber tertulis.

Suasana diskusi berlangsung hangat namun kritis. Para akademisi menelaah sejarah kesultanan tidak semata sebagai cerita masa lalu, melainkan sebagai fondasi pembentuk peradaban, identitas manusia, hingga dinamika ekonomi global yang pernah menghubungkan Maluku Utara dengan dunia luar.

Peluncuran empat buku sejarah Kesultanan dan Peradaban di Maluku Utara oleh Gubernur Sherly didampingi Wakil Gubenur Sarbin Sehe, Ketua ICMI Kasman Hi. Ahmad, dan Prof. Gufran. Foto: Galim/cermat

Prof. Jubair Situmorang membuka diskusi dengan membahas buku tentang Kesultanan Ternate dari perspektif tamadun atau peradaban. Ia menjelaskan, penulis menempatkan Ternate sebagai pusat peradaban Islam yang membentuk sistem sosial, hukum, dan budaya masyarakat.

“Buku ini berhasil menunjukkan peran kesultanan tidak hanya sebagai kekuatan politik, tetapi juga sebagai penjaga nilai moral, adat, dan agama. Perpaduan hukum adat dan hukum Islam yang diuraikan dalam buku tersebut dinilainya mencerminkan model kepemimpinan yang berakar kuat pada tradisi lokal,” paparnya.

Pembahasan dilanjutkan oleh Idris Sudin yang mengulas buku Manusia Tidore: Sejarah, Peradaban, dan Kesultanan. Ia menuturkan bahwa penulis menggambarkan orang Tidore sebagai manusia beradab yang menjaga keseimbangan antara kehidupan spiritual dan sosial.

Baca Juga:  Polda Maluku Utara Periksa Bupati Bassam Soal Dugaan Korupsi Anggaran Pembangunan RSP

“Buku ini menelusuri perubahan masyarakat Tidore dari masa ke masa melalui struktur adat, sistem pemerintahan, dan nilai-nilai budaya yang terus hidup. Pendekatan ini menarik karena tidak hanya menyoroti sejarah kekuasaan, tetapi juga watak dan pandangan hidup masyarakatnya,” jelasnya.

Sementara itu, Mustafa Mansur mengarahkan perhatian peserta pada buku tentang Kesultanan Jailolo. Ia menilai buku tersebut berupaya mengangkat kembali peran Jailolo dalam sejarah Maluku Utara melalui pendekatan sosial dan budaya, terutama dengan menggali tradisi lisan masyarakat. Meski demikian, ia mengkritik keterbatasan data arkeologis serta belum seragamnya sistem rujukan ilmiah yang digunakan.

“Kajian sejarah akan semakin kokoh apabila tradisi lisan diperkuat dengan bukti material dan sumber tertulis yang lebih luas,” tandasnya.

Nada diskusi semakin kritis ketika Irfan Ahmad membedah buku Kesultanan Bacan: Dinamika Kekuasaan dan Kosmopolitanisme Ekonomi Global. Ia menjelaskan, buku tersebut menampilkan Bacan sebagai wilayah yang sejak lama terhubung dengan jaringan perdagangan internasional. Posisi geografis Bacan menjadikannya bagian penting dalam arus ekonomi global pada masanya.

Namun, ia menilai penulis belum konsisten dalam penggunaan metodologi penelitian dan masih terbatas dalam pemanfaatan sumber primer, khususnya terkait pembahasan Bacan Maatschappij yang menyangkut konsesi lahan, penanaman komoditas, dan konflik antarkesultanan. “Padahal, bagian itu sebagai jantung pembahasan yang seharusnya dielaborasi lebih mendalam,” terangnya.

Sepanjang diskusi, para pembedah menegaskan bahwa sejarah kesultanan di Maluku Utara bukan sekadar catatan masa silam. Warisan sejarah tersebut, menurut mereka, masih berpengaruh terhadap persoalan identitas, ruang, dan relasi kekuasaan hingga hari ini. Forum ini juga menegaskan pentingnya sikap kritis dalam membaca buku sejarah lokal agar penelitian selanjutnya semakin kuat secara metodologis.

Melalui kegiatan ini, para akademisi menekankan bahwa kajian tentang empat kesultanan—Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan—masih menyimpan banyak ruang penelitian. Mereka berharap generasi peneliti berikutnya dapat menelusuri sumber primer yang lebih luas, memperkuat pendekatan ilmiah, serta terus merawat ingatan kolektif tentang peradaban Maluku Utara.

Baca Juga:  Penataan Pantai Falajawa di Ternate Masuk Tahap Akhir

Penulis: Fahri AufatEditor: Ghalim Umabaihi