Kaleidoskop Kebudayaan Ternate 2025

Dari Isu Sanitasi, Gastro Diplamasi hingga Kota Literasi

Rinto Taib, Kepala Museum Rempah Kota Ternate. Foto: Documen Pribadi

Oleh:
Rinto Taib
(Kepala Museum Sejarah Ternate & Museum Rempah Kota Ternate)

Dalam berbagai liputan Kaleidoskop di ruang media, kita seolah dibawa kedalam rangkuman peristiwa selama setahun berlalu yang ditayang kembali secara singkat lewat ulasan singkatnya, sembari berharap adanya transformasi yang dikonstruksi bagi sebuah tatanan dimasa akan datang. Transformasi tersebut merupakan produk reflektif (kritis) dan transevaluasi atas realitas yang telah berlangsung, sekali lagi diperlukan kepekaan kritis dalam pembacaannya. Pada konteks ini, yang terpenting bukanlah seberapa populer (viral) dari sebuah peristiwa publik yang telah berlangsung namun sesungguhnya makna yang dikandung dari rangkaian isu atau kejadiaan tersebut.

Secara nasional, kebijakan presiden untuk menghadirkan kementerian kebudayaan dalam kabinet merah putih di penghujung tahun 2024 silam merupakan sebuah kesempatan emas bagi daerah-daerah untuk menghidupkan kembali, memperkuat kelembagaan dan istitusi budaya serta mempertegas orientasi nilai budaya sembari menata ulang mata angin kebudayaannya ditengah hegemoni dan ekspansi pengaruh global yang berdampak pada berbagai sendi kehidupan kita. Kemampuan adaptasi lokal ditengah disrupsi merupakan sebuah keniscayaan sejarah yang menuntut daya selektif melalui imajinasi kreatif dan inovasi dari berbagai kalangan tanpa terkecuali, baik pemerintah, komunitas masyarakat hingga dunia industri.

Sebagaimana tangkapan media dari berbagai diskursus wacana publik hingga gelaran event budaya dalam berbagai momen di kawasan cagar budaya benteng Oranje. Memperbincangkan dinamika dan dialektika kebudayaan Ternate konteporer akan sulit dipisahkan dari lokus benteng tinggalan kolonial tersebut sebagai ruang hidup kebudayaan di kota rempah. Beragam kegiatan dilaksanakan sepanjang tahun 2025, dari Indonesian City Sanitation Summit (CSS), Festival Literasi hingga Festival Gastronomi (gastro diplomasi). Tentu bukan itu saja kegiatan sepanjang setahun dalam mengaktivasi ruang hidup kebudayaan tersebut melainkan sederet rangkaian kegiatan kebudayaan yang menarik lainnya yang tersebar di berbagai tempat. Baik diselenggarakan oleh komunitas masyarakat termasuk media (baca Merayakan Pengetahuan di 7 Tahun Cermat) maupun masyarakat luas pada umumnya termasuk perguruan tinggi.

Baca Juga:  Kolaborasi Menguatkan Gastronomi Lokal Kota Ternate

Salah satu diantaranya dari peran perguruan tinggi untuk mengaktivasi ruang hidup kebudayaan di benteng oranje adalah gelaran refleksi akhir tahun bertajuk “775 tahun Ternate dan 61 tahun Universitas Khairun menuju Kota dan Kampus Literasi” yang diselenggarakan oleh Forum Dosen Unkhair bersama komunitas di benteng tersebut pada Rabu (31/12/2025). Sebuah kegiatan yang mendorong dan mempromosikan budaya literasi dan literasi budaya dikalangan masyarakat dalam segala aspek kehidupan sebagaimana salah satu dari enam pilar fokus mewujudkan kota literasi yaitu dimensi budaya itu sendiri.

Ragam opini mengalir deras sebagai refleksi di akhir tahun dalam area Pasar Melayu di kawasan bersejarah malam itu yang disinari bulan purnama yang mencerahkan. Sebuah analisis yang tajam pada kesempatan ini dikemukakan oleh Prof. Dr. Rusman Soleman (Ketua Umum Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia Maluku Utara) dalam membaca Mluku Utara saat ini bahwa potensi sumber daya alam yang begitu berlimpah namun apa yang kita capai belum maksimal dengan tingkat pemerataan yang dapat dinikmati hasilnya oleh seluruh lapisan masyarakat. Idealnya jika tingkat pertumbuhan meningkat maka akan diikuti pula tingkat pengangguran dan tingkat kemiskinan yang meurun signifin, namun realitasnya tidak demikian yang dialami.

Secara khusus bagi kota Ternate, kita memiliki potensi pariwisata dan budaya yang tidak dimiliki oleh daerah-daerah tertentu maka perlu dilakukan promosi yang lebih gencar dengan bertumpu pada kolaborasi berbagai elemen seperti unsur pemerintah, pengusaha, akademisi dan komunitas sosial dan penggerak ekonomi kerakyatan. Oleh sebab itu maka pengambilan keputusan politik oleh pemerintah daerah menjadi fariabel penting karena jika semua pilar berjalan namun tidak didukung tindakan nyata dari pemerintah daerah untuk mengeksekusi maka dipastikan akan memperoleh hasil yang kurang maksimal sehingga diperlukan adanya kolaborasi semua pihak untuk bersinergi.

Baca Juga:  Perempuan dan Budaya Digital

Pandangan reflektif juga dikemukakan oleh Prof. Dr. Abdulrasyid Tolangara dimalam itu bahwa kerusakan lingkungan yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia seperti Aceh, Sumatera bahkan di Maluku Utara merupakan ulah dari manusia itu sendiri. Hal tersebut disebabkan karena aktivitas pertambangan dengan pemberian ijin yang berlebihan. Diharapkan kedepannya perlu adanya kurikulum pendidikan yang berpihak kepada pelestarian lingkungan dan konservasi sumber daya alam yang berkelanjutan.

Pernyataan ini mengingatkan kita pula pada sambutan Dr. Tauhid Soleman (Wali kota Ternate) dalam penyelenggaraan Festival Literasi yang berlangsung sejak tanggal 6 hingga 10 Desember 2025 lalu di benteng Oranje. Pada kesempatan tersebut disampaikan pentingnya literasi ekologi dalam pembangunan daerah, termasuk kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian alam dan kebersihan lingkungan hidup sekitar oleh setiap individu sebagi gerakan kolektif bersama.

Disisi yang lain. dikemukakan pula oleh Prof. Dr. Muhammad Aris pada malam refleksi akhir tahun 2025 di benteng Oranje tersebut bahwa ketika Maluku Utara menyandang gelar pertumbuhan ekonomi 39% namun sayangnya dengan peertumbuhan ekonomi yang demikian realitasnya justeru ironis dimana warganya masih ada saja yang putus sekolah karena alasan ketidakmampuan membiayai pendidikan. Dengan jumlah produksi sumber daya alam melalui sektor pertambangan yang begitu besar maka realitas ini harusnya tak bisa terjadi.

Bagi penulis, benar adanya apa yang pernah dikatakan oleh Terry Eagleton dalam The Idea of Culture (2000) bahwa kebudayaan adalah arena pertarungan makna bukan sekedar warisan yang dipajang. Ditengah pesimisme dibawah bayang-bayang ketidakpastian, hidup diatas keberlimpahan kekayaan sumber daya alam namun kita seolah berada pada situasi dimana sedang merangkai harap sembari menepis ragu menyongsong tahun-tahun mendatang penuh misteri dan penuh tantangan bahkan ancaman krisis ekologi semakin nyata dihadapan mata. Realitas ini pula mengantarkan kita atas apa yang pernah dikemukakan, Prof. Dr. Kamarudin Hidayat dalam Teologi Harapan (2025) bahwa spritualitas harapan adalah energi yang mampuh menyalakan kembali optimisme kolektif.

Baca Juga:  Dikbud Ternate Komitmen Kuatkan Kebudayaan Lewat Sosialisasi Perda

Sebagai salah satu kota yang melampaui usia negara naungannya maka semoga Ternate menjadi lebih mandiri; humanis, egaliter dan inklusif dalam derap langkah pembangunannya yang membawa kemakmuran bagi warganya sebagaimana menjadi karakternya sejak dibentuk oleh para leluhur kita dimasa lalu. Dan, menjadi keniscayaan pula bagi kita untuk terus melangkah menyusuri jalan kebudayaan dan perjalanan peradaban mewujudkan visi besar menjadikan Ternate sebagai mercusuar bagi dunia dan kemanusiaan, sebagaimana takdir kejayaan yang pernah ditorehkan dengan tinta emas sebagai episentrum peradaban yang mengubah dunia yang kita ketahu lewat tinggalan warisan sejarah dan kebudayaannya di hari ini bagi masa depan bersama yang lebih baik.

Untuk mewujudkannya, kita harus kembali kepada jalan kebudayaan dan kesejarahan kita yang agung dengan tidak menjadikan atau memanfaatkan sejarah kejayaan dan keagungan budaya sebatas narasi agung dan dekorasi panggung hajatan seremonial semata melainkan dihidupkan melalui kecerdasan berpikir warganya untuk berperan dalam mengkonstruksi masa depannya sendiri mewujudkan kota literasi bagi masa depan yang lebih baik.