Menyaksikan ‘Kabasaran Uci’ Kesultanan Ternate

Adzan dikumandangkan oleh empat orang muadzin sekaligus di Masjid Sultan Ternate. Foto: Eko Pujianto/cermat

Suara gamelan terdengar menghentak dari arah Halaman Masjid Sultan Ternate, malam itu. Denting tatabuang ini jadi penanda dimulainya sebuah prosesi turun-temurun di Kesultanan Ternate–kabasaran uci–tradisi sakral ketika sultan turun dari kedaton menuju masjid untuk menunaikan ibadah bersama rakyatnya.

Masyarakat berkumpul di sekitar jalan menuju Masjid Sultan di Kelurahan Soa Sio, Ternate Utara, Kota Ternate. Sebagian berdiri rapi di pinggir jalan, sebagiannya lagi menunggu di pelataran, menanti prosesi yang hanya hadir dalam momen religi tertentu. Denting gamelan yang disebut tatabuang atau kerap disebut cika momo karena bunyinya mengalun perlahan, seolah memanggil orang-orang untuk datang menyaksikan sebuah perjalanan spiritual.

Sultan Ternate saat tiba di masjid. Foto: Eko Pujianto/cermat

Menurut Hukum Soa Sio Kesultanan Ternate, Gunawan Yusuf Radjim, ritual ini merupakan tradisi tahunan yang dilaksanakan pada hari-hari penting kalender keagamaan. Lazimnya, kabasaran uci digelar pada malam qunut atau malam ke-16 Ramadan, malam ela-ela atau lailatul qadar pada malam ke-27 Ramadan, serta pada hari besar Islam seperti Idulfitri dan Iduladha.

Gunawan menegaskan, tradisi ini kerap keliru disebut oleh masyarakat sebagai “jou uci sabeya”. Padahal, menurutnya, istilah yang benar adalah kabasaran uci.

Baca Juga:  Dodengo: Tak Sekadar Seni Bela Diri

“Di dalamnya terdapat sosok jou atau sultan yang turun ke masjid untuk melaksanakan ibadah, seperti salat tarawih atau salat hari raya,” jelasnya kala disambangi cermat pada Kamis, 5 Maret 2026.

Prosesi kabasaran uci dimulai dari Kedaton Kesultanan Ternate. Dari sana, sang sultan diarak menuju masjid dengan penuh khidmat. Sultan duduk di atas kursi kebesaran yang ditandu oleh perangkat adat. Di atasnya terbentang simbol kebesaran kesultanan: dua payung kuning dan satu payung pelangi yang memayungi perjalanan sultan menuju rumah ibadah.

Barisan paling depan prosesi diisi oleh anak-anak yang belum balig. Mereka membawa berbagai pusaka kedaton bendera dan perlengkapan kerajaan sebagai simbol bahwa pusaka kesultanan turut “hadir” di masjid bersama sang sultan.

Baca Juga:  Teluk Weda, Negeri Asri yang Kini Tergerus Tambang

Di tengah arak-arakan itu, bunyi tatabuang terus mengiringi langkah prosesi. Alat musik ini memiliki cerita panjang dalam sejarah Islam di Ternate. Gunawan menyebut, Tatabuang merupakan hadiah dari ulama besar Nusantara, yakni Maulana Malik Ibrahim atau yang dikenal sebagai Sunan Giri, kepada Sultan Zainal Abidin saat sang sultan menimba ilmu agama di Giri.

Pada masa lalu, tatabuang bukan sekadar musik pengiring. Ia adalah sarana syiar Islam. Bunyi gamelannya pada malam pertama Ramadan menjadi penanda bagi masyarakat bahwa ibadah puasa telah dimulai.

Keunikan lain dalam ritual ini adalah pelaksanaan adzan yang dilakukan oleh empat orang sekaligus. Praktik tersebut hanya dilakukan pada malam-malam tertentu dan pada hari Jumat. Empat suara adzan yang berkumandang bersama memiliki makna filosofis yang dalam.

Baca Juga:  “Kami Diminta Uang Masuk Kapal Ferry oleh Seorang Petugas di Tobelo”

Empat muazin itu melambangkan empat unsur kekuatan Allah di alam semesta, yaitu api, air, angin, dan tanah. Di sisi lain, ia juga merepresentasikan empat sahabat Rasulullah, empat malaikat, serta empat arah mata angin.

Secara simbolik, adzan tersebut dimaknai sebagai seruan kepada seluruh alam semesta untuk melaksanakan salat.

Setelah salat selesai, prosesi kembali bergerak menuju Kedaton dengan cara yang sama. Sultan kembali ditandu oleh perangkat adat, diiringi pusaka dan gamelan yang masih berdentang perlahan.

Sesampainya di halaman kedaton, sultan berhenti sejenak sebelum memasuki istana. Di hadapannya, masyarakat telah berkumpul di bawah. Pada saat itulah Sultan memberikan salam penghormatan kepada rakyatnya.

Baca Juga:  Jejak Kolonialisme di Negeri Rempah

Dari bawah, suara masyarakat pun bergema: “Suba Jou!”

Tangan mereka terangkat di depan wajah sebuah gestur penghormatan dalam tradisi lokal Ternate yang dikenal sebagai gerakan suba.

Di tengah gema salam itu, prosesi Kabasaran Uci berakhir. Namun bunyi gamelan yang tadi mengawali malam seolah masih terngiang di udara mengikat masa lalu, kepercayaan, dan identitas sebuah kerajaan yang terus hidup dalam ingatan masyarakat Ternate.

Penulis: Eko PujiantoEditor: Rian Hidayat